Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Ini Teh Tempatnya Urang Lelendotan


__ADS_3

"Pak, kok pemadam kebakaran sih?" aku ngegas, dan ngerebut hape pak Raga.


"Ini pak Raga lagi ngelawak apa gimana sih. Jelas-jelas pak Hardi naik pohon rambutan tengah malem. Bukannya nolongin malah telpon pemadam kebakaran!" aku sewot banget.


"Kamu tuh nggak ngerti tugas dan fungsi pemadam kebakaran?" pak Raga mijitin kepalanya, lalu dia geleng-geleng kepala.


"Ya madamin api kalau ada kebakaran!" jawabku pede.


"Itu utamanya! Tapi salah satu tugasnya yang lain juga buat evakuasi orang yang nangkring di pohon kayak gitu tuh? jangankan manusia, sapi keperosok got juga manggilnya damkar!," sambung pak Raga.


"Kenapa nggak jelasin dari awal? nih telpon lagi, Paak!" ucap aku nyuruh mantan bos, aku kasihin lagi hapenya.


"Ck, makanya jangan main asal ngrebut aja!" pak Raga kesel. Dia pun kembali menelepon pemadam kebakaran.


"Dah, mereka, paling benatar lagi kesini!" ucap pak Raga enteng.


Kreeeteeekkk!


Suara dahan pohon.


Kita nggak bisa liat secara jelas, cuma denger suara pak Hardi yang "Uuuu aaaa uuuu aaaa!" gitu. Sapu lidinya masih di pegang. Gimana caranya dia manjat dengan bawa sapu, itu aja nggak masuk akal.


"Duuuh, Paaaaaak! turun, Paaaaakkk. Bahayaaaa!" seru bu Retno, tangannya melambai ngode sama suaminya.


Malam semakin dingin. Bu retno masih membujuk suaminya supaya mau turun.


Sedangkan penghuni yang lain, satu demi satu nyamperin. Mereka pada gagal fokus sama pak Raga, yang berdiri di sampingku.


"Mau apa kaliaaamnn? ini punya guweeeh!" ucapku dalam hati.


Ciwik-ciwik ini bukannya ngeliatin ke arah pak Hardi duduk dengan kaki yang menggantung, dan sukses bikin istrinya ngeri. Ini mereka malah sibuk liatin pacar orang yang sama sekali nggak ngelirikin mereka. Uuuuuuu tayang tatiaaaannn!


"Dalam hitungan yang ketiga, buka mata kaliaaaaaan, dan segera sadar! satu dua tiga!" ucapku seperti seorang mentalis yang mencoba menyadarkan orang yang habis kena hipnotis.


"Ngediiiip, wooooyyy!" ucapku ngejentikin jari.


Ceplek!


Ceplek!


Ceplek!


Yang semula pada terpukau pada pesona seorang Raga Mahendra, kini sudah kembali sadar.


Tiba-tiba ada yang ngide, "Taruh aja spring bed di bawah pohon! jadi kalau pak Hardi jatoh kan minimal nggak benjol kepalanya!" seru salah satu perempuan penghuni kamar bawah.

__ADS_1


"Boleh tuh!"


Sambil nunggu pertolongan yang nggak tau kapan datengnya, kita ber enam gotong royong ngangkat spring bed dari kamar mas Riski. Soalnya kagak ada yang mau tuh spring bednya buat dikorbanin, dilemprakin di bawah. Emang ada gila-gilanya nih penghuni kosan, ajaiiiib kelakuannya. Aku yakin setelah balik kesini dan nengok ke kamarnya, mas Riski bakal kaget spring bed di kamarnya tiba-tiba aja gone!


Wuuuuzzzzzhhhh!


Prekepreek keepreeeeeek kepreeeek!


Suara daun yang diterpa angin.


"Manehhh teh sahaaaaaa? ini teh tempatnya uraaaang lelendotaaaan! nyaho henteu?" suara melengking dari arah pohon.


Ya, kalau ini kita liat jelas ada putih-putih nongol diantara dahan.


Sedangkan pak Hardi masih dengan bahasa ajaibnya. "Uuu aaaa uuuu aaaaa!"


Dia lempar sapu lidinya ke bawah.


Braaakkk!


"Aaaaaaa, kabuuuurrrrr!" para penghuni kamar yang diatas maupun yang di bawah pada lari masuk ke dalam kamar masing-masing. Termasuk bala-bala tawon, yang suara jeritnya aja fals nggak karuan.


Aku geleng-geleng kepala aja udah, ngeliat kelakuan temen-temen kos yang cemen. Aku juga ngeri sama kunti, tapi aku nggak lari perkara mikirin nasibnya pak Hardi.


Tanpa pikir panjang aku balik badan mau naik ke lantai dua.


"Naik ke atas, nolongin pak Hardi! apa boleh buat, nggak ada yang mau nolongin kan?" ucapku dengab sesekali benerin kacamata, dengan raut wajah sok keren layaknya pahlawan kebenaran Rachel 009, kalau 008 udah punya orang soalnya.


"Ck! nggak usah! kalau jatuh juga kan jatuh di atas spring bed!" pak Raga pegang tanganku.


"Paling aebentar lagi bantuan juga datang! kamu diem aja disini!" ucapnya lagi enteng.


Plaaaaakkk!


Lengan kekar pak Raga ditabok bu Retno, "Tolongin suami ibuuu, itu kakinya goyang-goyang!" sekarang jasnya yang di tarik-tarik.


"Aduuuh! lepasiiin! iya iya iya!" ucap pak Raga mempertahankan jasnya.


"Cepetan tolongin suami saya! saya takut dia jatuh!" suruh bu Retno.


"Aaaaaaaaeeghhh!" pekik pak Hardi, kayaknya dia lagi dijambak sama si kunti di atas sana.


"Cepet tolongin!"


"Ya gimana? masa harus manjat juga?" tanya pak Raga.

__ADS_1


"Dari lantai dua kan bisa!" aku nunjuk lantai dua. Tapi kalau mau nyebrang ke pohon rambutan ya lumayan, susah.


"Saya bukan tarzan apalagi samson, Racheeel!" pak Raga benerin jasnya, takut kusut.


Dan terdengar sebuah teriakan, "Buuuuu ... pak ustadnya udaaah ketemuuuuuuuu!" suara mas Riski.


Bersamaan dengan mas Riski yang berlari dengan seorang pemuka agama dengan peci hitam dan sorbannya, datangnya petugas damkar yang udah siap dengan segala perlengkapan untuk mengevakuasi orang yang terjebak di ketinggian Ada tangga yang mereka gunakan buat manjat.


Mereka nggak tau kalau di atas sana ada kunti yang siap menyambut kedatangan mereka.


"Aaaaaaakkkkhhggg!" teriak salah seorang penyelamat yang naik buat mengevakuasi pak Hardi.


Braaaakkkk!


Dahan yang tadi buat ningkring pak Hardi tiba-tiba aja patah.


"Aaaaaakhhh," semua orang reflek teriak karena kaget.


Sedangkan aku ditarik ke dalam pelukannya pak Raga, tangannya melindungi kepalaku. Dia membalikkan badan kami membelakangi pohon.


Aku kemudian melepaskan diri dari pelukan pak Raga.


"Ckakakakaakakakk!" suara lengkingan tawa dari mbak kun, penghuni setia pohon rambutan.


"Hhhh hhhh hhhh," petugas yang lain membantu salah satu rekannya yang turun dengan napas yang terengah-engah.


"Ada penunggunya, Brroooh!" ucap petugas damkar setelah menginjakkan kakinya di tanah.


Pak Hardi yang udah di bawah, langsung tangannya di tahan ke belakang sama mas Riski.


"Loh loh kenapa dibekuk seperti itu?" tanya salah satu petugas damkar yang bingung.


"Lagi kesurupan, Pak!" ucap mas Riski.


Tapi orang yang namanya lagi kemasukan jin, kekuatannya kan melebihi kekuataan manusia, dan pak Hardi bisa melepaskan diri begitu saja.


Tapi karena personil laki-lakinya banyak, pak Hardi nggak bisa kemana-mana, dia dikepung dalam lingkaran manusia. Para petugas maupun mas Riski berusaha menghadang pak Hardi.


"Eeeiiit, mau lari kemana eeiiiit!!" ucap salah seorang petugas.


Para merentangkan tangannya supaya pak Hardi nggak kabur.


Dan tanpa diprediksi, Pak Raga masuk ke dalam lingkaran melalui celah bawah.


Dan Hap!

__ADS_1


Lalu ditangkap!


Pak Raga melumpuhkan orang yang menjadi sasarannya dari belakang, dia mendorong pak Hardi hingga bapak kos ku itu tersungkur ke tanah dengan posisi telungkup, sedangkan tangannya ditarik ke belakang dan di tahan pak Raga. "Ayo lakukan!" ucap pak Raga pada orang yang memakai peci hitam dan melingkarkan sorban di lehernya.


__ADS_2