Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Gunting dan Ajeng


__ADS_3

Aku yang mendapat pelototan gitu, agak menciut dikit. Gimanapun dia itu setan, mukanya nyeremin. Nggak usah pakai melotot aja, mukanya emang udah nggak enak buat dipandang, walaupun aslinya si gadis yang bernama Ajeng ini punya wajah yang manis loh kalau diperhatikan. Tapi semua itu seakan hilang dan tergantikan dengan efek seram dan menyebalkan.


Hantu Ajeng, naik ke atas ranjang. Dia mengarahkan gunting itu ke arahku. Aku yang ngeliat itu julurin kaki ke bawah, sampai telapak kakiku ngerasain dinginnya lantai.


CeKriiik..!


CeKriiik..!


Dia mainin gunting.


"Awas loh tajem, ya?! awaaaass, loh..." ucapku mengalihkan perhatian.


Dia mendekat, sekali lagi aku terpaku pada kain yang dia pakai putih lusuh dan kotor itu. Aku turunin lagi satu kaki ku berniat mau kabur.


Cekriiik!


Cekriiik!


Bunyi gunting yang dimainin. Dia julurin tangannya kedepan, seakan pengen meraih rambutku.


Namun tiba-tiba.


"Berhenti?! kau tidak boleh menyakitinya?!" suara menggelegar mas Liam berasal dari arah pintu.


"Ajeng..." ucap seorang wanita yang disinyakir ibun tirinya Ajeng.


Tapi Ajeng melihatnya dengan tatapan penuh amarah dan dendam.


"Ajeng, ibumu ingin bicara..." ucap mas Liam.


"Ajeng, ibu minta naaf sudah memotong rambutmu. Ibu minta maaf Ajeng, itu ibu lakukan untuk membeli obat untuk adikmu, Alvi. Ibu tau apa yang ibu lakukan salah, karena sudah memotong rambutmu sembarangan. Tapi percayalah, ibu sangat menyesal, Ajeng..." ucap si ibu yang penampilannya tak kalah menyeramkan dari Ajeng. Di pakaiannya terdapat bercak warna merah.


Dua orang yang sama-sama sudah meninggalkan dunia fana, tapi masih tertahan karena masih ada urusan yang belum selesai.


"Sejak awal aku tidak menyukaimu, kamu hanya menginginkan harta ayahku...?!" tuduh Ajeng. Dia turun dari ranjang dan mulai menghampiri si ibu tiri yang berdiri nggak jauh dari pintu.

__ADS_1


Hal ini aku manfaatkan buat bergerak menjauh dari ranjang. Mas Liam yang melihat itu mengarahkan ibu Alvi untuk bergerak ke arah lain supaya aku bisa menjangkau pintu.


"Ajeng, apa yang kamu pikirkan itu salah Ajeng..." si ibu masih bergelinang air mata.


"Halah...?! jangan sok baik kamu?!" ucap Ajeng.


"Ibu hanya ingin meminta maaf karena ibu sudah mengambil rambutmu tanpa seizin darimu...." ucap si ibu tiri.


Aku yang melihat sebuah kesedihan di mata ibu tiri Ajeng. Dan tatapan mata ibu tirinya membyat aku tersedot lagi ke masa lalu.


Aku melihat, sewaktu ibu tiri Ajeng menggandeng seorang anak. Mungkin ini adik yang bernama Alvi. Mereka berdua bertamu ke rumah Ajeng dan ayahnya. Mereka makan bersama di ruang makan. Namun dari sikap dan perilaku Ajeng, jelas dia tidak welcome.


Hari berganti, ayah dan ibu tirinya menikah. Ajeng yang melihat itu sangat kesal. Dia mulai ngambek dan tidak mau sekolah. Ajeng yang sudah SMA berperilaku seperti anak-anak usia SD.


"Ajeng, kamu sudah seminggu tidak masuk sekolah..." ucap ayahnya, tapi ajengbhanya tiduran tanpa berniat menjawab pertanyaan ayahnya


"Ajeng! ayah tidak suka dengan sikapmu ini Ajeng?! kamu sudah besar---"


"Sudahlah, Mas. Mungkin Ajeng lagi nggak enak badan," ucap ibu tirinya.


Waktu berlalu sangat cepat, ayah Ajeng di PHK dan dia sakit dan akhirnya meninggal. Mereka hidup bertiga dan ibu tirinya yang harus bekerja keras.


Tapi Ajeng diam saja, dia nggak peduli dengan apa yang dibicarakan ibunya. Dia yang sedang berdiri melihat jendela akhirnya masuk ke kamarnya.


Kondisi perekonomian keluarga Ajeng semakin hari semakin memprihatinkan. Dan saat itu anak kecil yang bernama Alvi sakit. Badannya panas. Ibu Ajeng yang melihat itu panik, dia mengambil dompet dan air matanya mengalir saat hanya uang 20 ribu di dalam dompetnya.


Ibu tiri Ajeng nekat membawa Alvi kecil ke rumah sakit, dan benarbsaja ternyata Alvi harus mendapat perawatan saat itu juga. Aku yang melihat itu merinding dan bisa merasakan beratnya kehidupan yang dijalani ibu tiri Ajeng itu. Setelah demamnya turun karena dikucur obat penurun panas leqat infus, akhirnya Alvi boleh pulang tanpa harus menginap di rumah sakit tapi hal itu nggak membuat ibu tiri Ajeng senang melainkan bingung. Karena dia sama sekali nggak ada uang.


Dia pulang untuk melihat apa yang mungkin bisa dijual, supaya dia bisa mendapatkan uang. Namun saat di tengah perjalanan. Dia melihat ada orang yang sedang menjual seikat rambut ke sebuah salon.


"Permisi," ucap ibu tiri Ajeng pada pemilik salon.


"Ya, silakan masuk, mau potong rambut atau creambath...?" ucap si pemilik salon ramah. Mungkin dia pikir ibunya Ajeng imi dateng buat nyalon.


"Ahm, tidak. Saya tidak mau potong rambut, saya kemari mau bertanya. Apa ibu tadi menjual rambut?" tanya ibu Ajeng agak sungkan.

__ADS_1


"Oh iya betul. Memangnya kenapa?"


"Saya mau menjual rambut," jawab ibu tiri Ajeng.


"Oh ya sudah, bawa aja rambutnya kesini. Tapi saya haya mau jika rambutnya bagus dan sehat ya. Semakin panjang semakin mahal," ucap si pemilik salon. Tapi ini bukan salon tempat aku nyambung rambut ya.


Akhirnya ibu Ajeng pulang dan melihat Ajeng yang tertidur membelakanginya. Dia mengeluarkan dua benda, karet dan gunting.


Ibu tiri Ajeng mengikat rambut ajeng dan segera memotongnya. Ajeng yang menyadari ada sesuatu yang terjadi padanya pun terbangun dan melihat ibu tirinya degan tatapan marah.


"Maaf, Ajeng..." ucap ibu tirinya yang kemudian pergi meninggalkan Ajeng sendirian.


Singkatnya, ibu tadi menjual rambut ke salon dan setelah dia mendapatkan uang. Wanita itu pergi ke rumah sakit untuk menebus obat dan membawa Alvi pulang. Tapi sejak saat itu ternyaa Ajeng mengurung diri dan sakit sampai akhirnya dia pergi dari dunia.


Kepergian Ajeng ternyata memberikan pukulan terhadap ibu tirinya, dia terkena serangan jantung dan menyusul Ajeng. Dan nasib Alvi, sekarang dia dirawat oleh salah satu kerabat dari pihak ibunya.


Dan ternyata baik Ajeng dan ibu tirinya itu masih berkeliaran di dunia ini karena masing-masing mereka memiliki ganjalan.


"Akkhh," aku lemas saat pandanganku mataku dan ibu tiri Ajeng terputus.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya mas Liam. Aku menggeleng.


"Ajeng, maafkanlah ibumu, Ajeng..." ucapku.


"Tidak akan," ucapnya dengan penuh penekanan.


"Maafkan ibu, Nak. Ibu tidak akan tenang jika kamu tidak memaafkan ibu..." ucap ibu tiri Ajeng.


"Aku tidak peduli," ucap Ajeng yang sikapnya tidak berubah bahkan sampai dia sudah menjadi hantu.


Aku mendekat pada dua hantu yang sedang berhadapan itu.


Lalu aku mengambil gunting yang dipegang Ajeng. Dan dua makhluk ghoib itu memandangku berbarengan.


"Racheel....?!" panggil mas Liam, dia segera mendekat.

__ADS_1


Aku hanya melihatnya sekilas, lalu melihat ke arah Ajeng kembali.


"Jika dengan mendapatkannya kembali kamu menjadi tenang, aku akan melakukannya malam ini juga..." ucapku dengan penuh kesungguhan.


__ADS_2