Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Hujan


__ADS_3

"Duduk...!" suruh pak Raga.


Aku pun akhirnya mengurungkan diri buat pergi dan menurut pak Raga buat duduk lagi.


"Emang saya ada hutang apa? perasaan nggak ada..." pak Raga bergumam sendiri, lalu dia diam sejenak.


"Ya mana saya tau!" ucapku udah kesel banget ya ampun sama pak Raga. Sampe pengen ngejambak rambut sendiri kalau kayak gini.


"Kamu tau? pas awal nyemplung tadi perasaan aman-aman aja nggak ada ular, tapi kenapa pada muncul? apa damage saya sebesar itu? sampai binatang pun ingin mendekat" pak Raga bergumam sambil melihat ke arah sungai.


"Ya aama kayak Bapak!" aku nyeletuk.


"Maksudnya?"


"Ya sama kayak Bapak. Perasaan saya sudah ijin liburan, loh kok tiba-tiba Bapak bisa nongol disini gitu, kan uwooow, banget gitu Pak? saya kan ngerasa dikasih kejutan, loh! kan sama kan sama ular tadi yang tiba-tiba muncul dan bikin Bapak kaget. Nah seperti itulah yang saya rasakan saat ini," ucapku.


"Wow, saya memang paling bisa bikin kejutan!" ucap pak Raga ngebanggain dirinya sendiri, dia pun meminum kopinya lalu berdiri dan menghampiri salah satu orang. Mereka yang ada disitu membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Sedangkan pak Raga hanya memasang senyumnya yang irit.


Sedangkan aku, pengen gumoh denger pak Raga ngomong barusan.


"Pak saya mau balik ke penginapan. Saya capek..." kataku.


"Kita muter-muter aja dulu. Katanya mau liburan? masa liburan cuma tiduran di kamar? kalau cuma mau tidur di kosan juga bisa! ngapain jauh-jauh sampai numpang mobil sama orang kalau ujung-ujungnya cuma numpang tidur sama numpang ke toiletnya aja!"


"Abisnya kalau sama Bapak, yang ada bukan liburan tapi kerja. Jadi mending saya di kamar, tidur dan bisa mimpi ketemu sama..."


"Sama siapa?" serobot pak bos.


"Yaaa ... sama siapa aja! artis india kek artis hollywood kek artis korea kek,"


"Nggak boleh!"


"Dih kok nggak boleh, masa iya saya terikat perjanjiannya sampe ke mimpi-mimpi juga? Bapak ada gila-gilanya deh...?!" aku merepet.


Aku ninggalin pak bos yang berjalan di belakangku.


"Racheeeeeel...?! mau kemana kamu?!" teriak pak Raga.


"Tauuu, akkkh?!!" jawabku.


Daaaaan...


Sekarang jadilah aku numpang dari mobilnya pak Raga.


Karena apa? karena tiba-tiba aja hujan turun dan aku nggak mungkin balik ke resort dengan jalan kaki. Nggak mungkin banget. Yang ada aku basah kuyup dan masuk angin.


Baru aja duduk di dalam mobil, tiba-tiba ada telepon masuk.


"Siapa?" keningku mengernyit ngeliat nomor baru.

__ADS_1


Tapi otakku koneknya ke tante Ira, ya kali aja nomor ini nomornya tante Ira. Kan aku nggak nge-save, ya kali aja tante Ira nyariin aku soalnya kebetulan hujan gede juga kan. Gimanapun aku kan jatohnya numpang sama mereka, jadi kalau aku ilang atau terjadi sesuatu yang buruk kan bikin repot semuanya.


Aku usap layar hape dan angkat panggilan itu, "Haloooo...?" ucapku.


"Haloo? kamu dimana? ini aku Naga...!" ucap adik laki-laki Amel.


"Naga? kok dia yang nelfon? aku kira tante Ira," gumamku.


"Kenapa? gimana, gimana? hujan deres, kamu dimana? sinyal juga mulai nggak bagus," ucap Naga.


"Aku masih di luar,"


"Apa dengan pria sombong itu? cepatlah kembali, cuaca sedang extrim...! ha- halo..." suara Naga mulai mbleret.


"Haloo?" panggilan itu terputus secara tiba-tiba.


Dan...


JEDEEEEEERRR!!!


Petir menggelegar!


"Matikan hapemu atau kita berdua akan tersambar petir!" suruh pak Raga.


Kita masih di kawasan sungai tadi ya, karena pas aku nelfon pak Raga riweuh sendiri sama hapenya.


"Kamu ada tas kan? simpan hape saya di tas kamu! percuma dinyalakan juga, nggak ada sinyal...!" Pak Raga misuh-misuh, di kasih hapenya ke aku.


"Ribet!"


"Jangan cuma hape, Pak. Tapi sekalian aja uang Bapak juga titipin ke rekening saya,"


"Boleh kalau kamu mau!" jawab pak Raga.


"Akkkkhhh!" aku memekik saat melihat kikat di langit yang mendung, aku reflek bersembunyi di bahunya pak Raga.


JEDERRRRRRR!!!!


JEDERRRRRRR!!!


Aku ngerasain tangan pak Raga melindungi kepalaku, di posisi kayak gini parfumnya pak Raga seakan menghipnotis. Pengennya menghirup dan lama-lama nemploknya.


"Asataganaga, apa yang aku pikirkan!" gumamku dalam hati.


Setelah petir berhenti bergemuruh, aku menjauh dari pak Raga dan kembali ke tempat dudukku semula, "Maaf..." ucapku lirih.


Aku simpan hape ke dalam tas, ya termasuk hapenya pak Jiwa Raga juga.


"Sebaiknya kita kembali ke resort, selain cuaca lagi nggak bersahabat, saya juga ada kegiatan lain," ucapku.

__ADS_1


"Kegiatan apa?"


"Ada lah pokoknya, Pak..." ucapku ngeles.


"Kegiatan apa saya tanyaaa?!!"


"Ya ampun si Bapak teh maksa pisan euy! Saya mau merenungi hati saya yang lagi patah hati," ucapku.


"Patah hati?" pak Raga nautin alisnya.


Lalu dia berucap lagi, "Karena Liam?"


Aku sih nggak mau jawab ya, itu kan ranah pribadiku.


"Ck, apa sih yang kamu suka dari Liam? kamu juga kenal dia nggak lama,"


"Rasa suka itu nggak bisa diukur berapa lama kita kenal, Pak. Tapi seberapa nyaman kita bersama orang tersebut," ucapku sok bijak.


Perlahan pak Raga doyong ke arahku, dia mendekat, sementara aku mepet ke jendela.


Dia tempelin telapak tangannya ke jidatku, "Saha ieu tehh? cepetan keluar dari raganya Racheeeeel!" ucap pak Raga.


Nang ning nong eh nang ning gung!


Wakwaaaw!


Aku kira pak Raga deketin mau berbuat sesuatu, lah ini malah kek dukun abal-abal yang mat komat kamit nggak jelas. Mana jidatku di usek-usek.


"Iihhh, Bapaaaaakeeeeee?!!! ihh, apaan sih, Paaaak?" aku menepis tangan pak Raga.


"Hahahhahhahahah," pak Ragaalah ketawa.


Lah sarap nih bos lama-lama. Mana dia ketawanya kenceng lagi.


"Hahhahhahahahah, muka kamu lucu banget suwer, Rachel! hahahahaaaa,"


"Bapak nggilani, Paaak!" aku nyeletuk.


"Jalan gih, Pak. Lama-lama deket air, Bapak jadi nggak waras..." ucapku.


Pak Raga cuma nahan ketawanya, dan senyam senyum dewek. Semakin aku kesel, dia semakin seneng. Perlahan mobil ini bergerak menembus hujan yang semakin deras.


Tangan pak Raga muterin pengatur ac mobilnya, dia kecilin biar nggak dingin banget di dalam sini.


Aku ngeliat ke luar jendela, hati langsung sendu. Keinget seseorang yang nggak bisa aku gapai. Gimana mau menggapai, dia inget aku aja nggak. Ditambah lagi ada orang lain yang ada disampingnya.


Walaupun aku nggak tau siapa mbak Enjel yang sebenarnya, tapi aku yakin mereka ada kedekatan. Dan nggak bisa dipungkiri, aku udah terikat janji dengan mas Liam kalau aku akan ada disisi kakaknya, Raga Mahendra. Seketika airmataku turun bersamaan dengan air hujan yang saling berlomba untuk jatuh.


Seketika aku merasakan mobil ini berhenti, aku langsung mengusap jejak air mataku.

__ADS_1


"Loh kok berhenti, Pak?" tanyaku pada pak Raga.


__ADS_2