Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Pecinta Micin


__ADS_3

Warung makan tenda kayak gini emang juara. Buat kami para pecinta micin, paling suka nasi goreng di pinggir jalan kayak gini, daripada nasi goreng ala restoran yang harganya berkali-kali lipat lebih mahal.


"Gimana, enak nggak?" tanya Almeer.


"Juara!" aku kasih jempol sama dia.


"Micin emang nggak pernah salah!" lanjutku.


Almeer ketawa renyah, "Hahahaha, kamu lucu juga ya ternyata..."


"Kamu ketawanya lebar juga ya ternyata," aku menimpali.


"Ya abisnya, bawa-bawa micin segala!" kata Almeer.


"Ya kan emang bener kan? selain bumbu rahasia yang nggak akan pernah terungkap, ada micin yang memiliki andil bikin masakan jadi gurih dan enak, iya nggak?" kataku setengah berbisik, takut abang nasgor nya mencak-mencak kita gibahin.


"Tapi jujur, nasi goreng kambingnya ini beneran enak. Mungkin aku bakal sering mampir kesini," lanjutku.


"Syukurlah kalau gitu, jangan lupa ajak aku sekalian! biar kita sama-sama kenyang," kata Almeer.


"Ide yang cukup bagus! kayaknya kita bisa jadi teman baik mulai sekarang," aku tersenyum dan dia ketawa.


Kayaknya lebih nyaman kayak gini, nggak ada batasan kamu lebih tinggi aku lebih rendah. Kita duduk sama-sama tinggi dan berbicara dengan nada yang normal.


Mungkin satu hal yang harus aku pelajari, kalau kita sebaiknya bergaul berhubungan dengan orang yang sepadan, selevel sama kita. Jadi nggak ada rasa direndahkan dan diremehkan. Dan soal pak Raga, biar waktu aja yang menghapus semuanya. Aku nggak mau melupakan, biar dia pergi dengan sendirinya.


Dan sekalinlagi, aku menoleh ke belakang. Instingku mengatakan ada sesuatu yang nggak beres.


"Al...?"


"Ya?" sahut Almeer di sela makannya.


"Kayaknya daritadi aku ngerasa di awasin gitu. Jangan-jangan bener mas Wahyu ya? kriminalitas lagi tinggi akhir-akhir ini?" aku melontarkan keresahanku sama Almeer.


"Yang aku denger sih gitu, makanya kan kamu aku shift pagi. Dan yang masuk sore para laki-laki. Karena ya itu menghindari sesuatu yang nggak diinginkan," ucap Almeer.


"Makasih ya..." ucapku.


"Sama-sama..." sahut Almeer.

__ADS_1


Kita menikmati nasi goreng dengan ukuran jumbo ini sambil 'hahaha hihihi', kalau kayak gini aku berasa punya temen akrab lagi


"Aah, aku kenyang banget! mereka nggak rugi apa kasih porsi sebanyak itu?" aku memegang perutku.


"Mungkin lain kali kita pesan satu porsi aja, kita bagi dua!" kata Almeer, dia ngasih aku helm.


"Ide yang bagus! Dan paling kita jadi di tandai sama mereka 'pelanggan super pelit', hahahahah," aku ketawa, begitu juga dengan Almeer.


"Lain kali aku yang traktir!" ucapku ketika udah duduk di motornya Almeer.


"Siaaaapppp!" sahut Almeer bersemangat.


Sekarang aku boncengan sama Almeer menuju kos Alam Indah yang isinya bala-bala tawon. Walaupun Nay udah nggak tinggal sama aku, tetep rencana mau pindah dicanangkan bulan depan. Atau minimal abis nerima duit motor.


Suatu keberuntungan aku kenal sama Almeer, dia bener-bener dewa penolong, bahkan disaat aku seperti dikuntit seseorang kayak gini.


Almeer diem begitu juga aku. Pikiranku melayang lagi ke jiwa Ragaku.


"Semoga kamu juga beruntung bisa selamat dari incaran orang-orang jahat," aku berdoa dalam hati.


Aku kasih tau dimana alamat kosku, dan kemungkinan besok kita juga bakal pulang bareng lagi. Kan Almeer mau liat motorku yang mau dibeli temennya.


"Iya, ini kos ku. Kenapa? jelek?" aku nanya setelah turun dari motor.


"Nggak juga, tapi kos mu disini apa nggak terlalu jauh buat ke kedai?" tanya Almeer.


Aku kasih helm yang tadi aku pakai, "Nah rencananya aku juga mau pindah. Biar berangkat kerjanya lebih deket gitu," jawabku pada Almeer, yang kini menggantungkan helm yang baru aja diterimanya, di salah satu bagian khusus nyangkolin plastik belanjaan di motornya.


"Ya lebih baik gitu. Ya udah, aku balik ya? udah malem juga, besok harus buka kedai pagi-pagi," ucap Almeer.


Dan pas banget aku lagi di depan gerbang sama Almeer ada kang deliverry yang dateng. Dan nggak lama si Mirna keluar. Dan makanan itu ternyata pesenannya si Mirna, bocah lambe-lambeam di kosan.


Tatapannya berasa menusuk dan senyuman sinis terbit setelah ngeliat lawan bicaraku.


"Ya udah, Al. Aku masuk, yah?" aku ijin masuk sama Almeer.


"Ya, aku juga pamit, bye Rachel..." ucap Almeer sesaat sebelum dia pergi dengan motornya.


Sedangkan aku naik masuk ke dalam.dan menuju tangga.

__ADS_1


"Ciyeeee yang ganti gebetan lagi! yang kemaren udah keburu sadar apa gimana, Chel ? hahahahah," suara Mirna mencemooh aku.


Setelah sampai di atas, aku berbalik dan menatap Mirna tajam.


"Apaaa, hah? nggak terima? iya?" Mirna makin bikin emosi.


"Nggak sih, nggak level aku marah sama kamu. Buang-buang tenaga!" aku kini yang ketawa kecil, sambil pasang muka songong.


Nggak mau denger ocehan nggak mutu dari Mirna, qku percepat langkah dan segera buka pintu.


Ceklek!


Brakk!


Aku tutup pintu setelah sampai di dalam. Tas aku taruh di atas meja.


"Aarrrerghhhh! capeeeknyaaaa..." aku pijit sendiri pundakku dengan satu tangan.


Baru mau ngelempar badan ke kasur, tapi nggak jadi.


"Mandi dulu deh, buang sial abis ketemu bala-bala tawon. Ngang ngung ngang ngung terus, blegug siaaa!" aku ngumpat sambil nyamber anduk dan masuk ke kamar mandi.


Udah malem jadi aku nggak mau mandi terlalu lama, takut rematik. Yang penting badan udah bersih dan wangi aja, besok dah kita baru gosok badan sampai mengkilat kalau perlu. Biar nggak flu aku bikin teh pakai heater.


Dan....


Bleteeeekkk!!!


Heater-ku konslet saat aku tuang air panas ke mug kesayangan, tapi kabelnya masih nyolok ke listrik.


"Haiiiiisssssshhhhh!! masih untung nggak kebakaran!" aku matiin tombol on off di colokan listrik.


"Hadeeeuuuh! harus beli lagi kayak giniiiii!!" aku usek-usek rambut kesel banget. Aku lanjutin bikin teh manis.


"Huuuffhh, menyebalkan," aku tiupin teh yang ada di mug dan aku seruput pelan-pelan , buat nenangin nih pikiran biar nggak ruwet.


Malam semakin larut, aku mulai rebahan di kasur, "Wahai raga Rachel..." wajah pak Raga nongol di pikiran, dan bkin blank seketika.


"Loh kok jadi Raga Rachel sih? deuuuhhh, gara-gara ada orang yang namanya Raga, jadi bikin buyar semua yang mau aku ucapin buat diri sendiri! tauk akkhhhh!"

__ADS_1


__ADS_2