
"Sejak kapan kamu disitu?"
"Sejak tadi," ucapku datar, mencoba untuk profesional dengan pekerjaanku sebagai pelayan.
"Rachel---"
"Silakan, Nona. Sudah lengkap ya pesanannya, selamat menikmati..." ucapku yang kembali ke counter.
"Rachel, Racheeeeel!" Amel ngejar aku dia pegang lengan ku.
Aku lepasin tangannya, "Maaf, aku lagi kerja. Aku nggak mau kehilangan pekerjaan lagi. Aku harap kamu ngerti. Permisi..." ucapku dengan menunduk hormat, walaupun dalam hati aku aku bertanyeak-tanyeak. Aku kembali ke counter.
"Apa yang udah Amel perbuat sebenernya? Aku nggak peduli sama Tristan, aku cumaaa .... arrrghh! kenapa aku nggak dengerin dulu dia mau ngomong apa lagi, kenapa aku main panggil dia, begooonya kok nggak berkuraaang, Racheeel! harusnya tuh kamu dengerin sampai selesai" gumamku dalam hati.
"Kenapa, Chel?" tanya Fatir yang mungkin menyadari ada sesuatu yang aneh.
"Nggak apa-apa, aku pulang ya, Tir! kayaknya orang yang aku tunggu nggak jadi kesini," aku lepas apron dan ngelepas topi.
"Ya udah ati-ati kalau gitu..." kata Fatir.
Dan aku yang udah jalan beberapa langkah lantas balik lagi, ke arah loker.
"Ada yang ketinggalan?" Fatir kepo banget persis kayak mas Wahyu, beda sama Aldan yang lebih kalem dan no comment.
"Topi!" aku pegangin topi. Kayaknya ribet gitu kalau pulang pakai topi.
Dam pas aku nyampe loker, aku liat ada tuyul gengsssss!
"Tumaaaan, yak! dibilang jangan nyolong-nyolong, tambeng banget jadi setan!" aku samperin tuh tuyul.
Baru mau aku getok pake topi, tiba-tiba.
Cteeeeekkk!
Dia menjentikkan jari tengah dan jempolnya. Dah dia gone laginudah. Gimana nggak empeet kita ya. Udah di kosan diganggu, di tempat kerjaan juga diganggu lagi. Bener-bener ya, Tan bikin emosyiii jiwa dan raga begitu.
"Ini nggak bisa dibiarin, jadi berasa rumah sendiej dia keluar masuk seenaknya ngambilin uang juga!. Nongol lagi, aku pites tuh si tuyul!" aku buka loker dan naruh topi.
Dengan membawa kekesalan yang udah menggunung, aku pun keluar. Amel masih duduk sama temennya yang dia bawa kesini. Dan aku nggak peduli.
__ADS_1
Tiba-tiba...
Ada yang menarik tanganku.
"Pak Raga??"
"Masuk ke dalam mobil!" ucapnya.
Bruukk!
Pak Raga menutup pintunya setelah aku duduk dengan benar.
"Udah kayak setan aja nih orang, nongolnya bikin jantung deg-degan!" gumamku, ngeliatin nih orang muter dan buka pintu duduk di kursi.
"Jangan-jangan masih sodaraan nih sama tuyul tadi, atau dia kaya karena nuyul?" batinku meronta sambil ngeliatin bos gendeng yang seenak udelnya narik orang, nyuruh orang buat ngikutin maunya dia.
"Mau kemana?"
"Nenangin hati kamu!" ucapnya.
"Saya nggak tenang kalau disamping Bapak. Yang ada saya apes mulu bawaannya!" aku menimpali ucapannya.
"Ini bukannya jalan ke apartemen?" tanyaku.
"Ingatan kamu bagus juga!" kata pak Raga.
"Mau ngapain kesana?" tanyaku.
"Nanti kamu juga akan tau!" pak Raga menyunggingkan senyum misteriusnya, dia melirikku penuh arti.
Sontak aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada, melindungi diri.
"Ck, heeeeey! kamu pikir saya ini pria seperti itu?" pak Raga berdecak.
"Ya, siapa tau, Pak! saya hanya berjaga-jaga. Karena bagaimanapun Bapak itu termasuk dalam kategori pria-pria kesepian!" ledekku secara nggak langsung.
"Otakmunini isinya kecurigaan yang sama sekali nggak berdasar. Bagaimana bisa kamu menilaiku pria kesepian? ini sungguh melukai harga diriku sebagai seorang pria, hem?" pak Raga nengok sebentar. Kemudian dia kembali menatap ke depan.
"Dan hal itu nggak akan pernah terjadi, karena setiap hari aku menyatroni orang yang sudah berani menggetarkan dan merobek-robek hati ini!" lirihnya, sedangkan telingaku masih bisa mendengar apa yang dia ucapkan barusan, hanya saja aku malas menanggapi. Aku fokus liat ke jalanan. Pura-pura nggak denger aja.
__ADS_1
Tapi sesaat pikiranku melayang ke neneknya pak Raga, dan aku menjadi gelisah.
"Kalau neneknya tau aku dan pak Raga masih bertemu, bisa-bisa aku dituduh yang macam-macam," batinku nggak tenang.
Secara memori terakhirku dengan Eyang Anti kan nggak begitu baik, malah dia marah besar waktu itu. Karena kita berdua udah mempermainkan sebuah hubungan di depan Eyang.
Selama berada di dalam mobil, sama sekali nggak ada obrolan apapun. Mulutku tertutup rapat, begitu juga dengan pak Raga. Yang terdengarbhanya lagu yang mengalun mengisi kesunyian langit sore yang keliatan indah, namun segera berakhir dan digantikan malam yang panjang dan gelap.
Seperti kehidupan, kalau kita berada di posisi bahagia, suka cita, waktu bergerak cepat. Tapi ketika kita lagi ngerasain penderitaan, bahkan satu detik pun berasanya lama banget.
"Sebenernya apa yang akan dibicarakan sampai harus ke apartemennya segala?" batinku.
Aku menengok ke arah pria yang masih gagah dengan setelan jasnya, dia fokus nyetir tapi kayaknya ada sesuatu yang dia pikirin. Daaan 'seeet' pak Raga nengok, seketika aku buang muka, megang kaca jendela pura-pura liat ke jalanan.
"Maaf, waktu itu saya nggak belain kamu di depan Eyang. Dan ngebiarin kamu begitu aja, nanti aku jelaskan alasanku melakukan itu, dan hal-hal yang nggak kamu ketahui selama ini," ucap pak Raga.
"Ya," aku hanya menjawab dengan singkat.
Kemudian mobil ini masuk ke dalam basement sebuah apartemen mewah yang orang kayak aku nggak bakalan kepikiran buat masuk apalagi tinggal di tempat kayak gini. Aku masih pakai seragam pelayan sangat jomplang dengan pak Raga yang pakai jas bermerk dan keliatan high class-nya.
Pak Raga membawaku ke lantai paking atas gedung ini, dan pas dibuka beuuuh luasnya no play-play. Kalau orang liat atau paoasan sama kita di lift mungkin mikirnya, pak Raga jalan sama pembantunya kali ya. Nggak bakal ada yang nyangka aku ini bekas asistennya pria tampan namun menyebalkan ini.
"Sepertinya tempat ini...." ucapku ragu sembari melihat sekitar. Perasaan emang bukan ini unit yang dulu pernah aku singgahi.
Pak Raga memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Sepertinya bukan ini tempatnya," ucapku.
"Kalau bukan ini tempatnya, mana mungkin kita bisa masuk dengan akses yang saya miliki?" ucap pak Raga.
"Sepertinya kamu mulai meragukan berapa banyak uang yang saya miliki. Tentu saja, saya pantas memiliki tempat ini," ucap pak Raga benerin jambulnya dengan tangannya.
"Apa hanya uang dan kekayaan yang ada dipikiran anda, Pak?" ucapku ketus.
Sedangkan pak Raga menatapku dalam, mata kita beradu. Dia mendekat selangkah demi selangkah,
Dan Brukkkk!
Langkahnya berbelok menutup pintu.
__ADS_1
"Hah?" aku hanya melongo melihat apa yang dilakukannya barusan.