
Aku nggak ngabarin perihal kepulanganku kali ini. aku pikir aku bakal kasih kejutan buat papa sama mama.
Keretaku sampai di stasiun tujuan, pukul 2 dini hari. Buat langsung ke rumah lumayan rawan, takut jadi korban perampokan atau penjambretan. Jadi, aku milih buat stay di peron sampai pagi. Ya, setia dengan dua koperku yang super gede ini, aku meluk diri sendiri menghalau dingin yang menusuk kulit.
Untung di dalem kreta aku sempet tidur, walupun kalau bangun lagi-lagi air mata keluar tanpa kulo nuwun alias permisi.
Pak Raga jelas orang kaya raya, kita nggak satu kelas. Ya iya, sekolah nya aja beda, umur tuaan dia. Kita masih cantik ntar dia udah keriput, tapi belum tentu kalau duit banyak apapun bisa dirombak termasuk kekencangan dan kekenyalan kulit wajah. Lah kok sampenya kesitu?
Ya biar hati nggak merana dan nelangsaaa mulu bawaanya. Apalagi mau ketemu orangtua, nggak boleh bawa masalah dari luar. Harus tetep ceria apapun suasananya.
Dan nggak habis pikir lagi suasana menggalau merana kayak gini kok ya tetep adaaaa aja makhluk ghoib yang ketangkep sama mata. Ada satu sosok perempuan yang duduk diatas satu gerbong kereta yang udah nggak digunain.
Ada emang kereta api yang diluar jalur rel, nah si perempuan ini duduk dengan dengan kaki yang menggantung. Sesekali dia gerakin kakinya, kayak lagi main sendiri.
Dia mungkin lagi galau meratapi kehidupan dia di masa lalu, tapi sabodo teuing lah. Aku juga lagi banyak pikiran, kita cukup dalam batas aman aja. Jangan saling mengganggu.
Setelah matahari mulai menampakkan dirinya, aku berjalan keluar dari area peron.
Aku mesen mobil di salah satu aplikasi ijo, yang akam membawaku pulang ke rumah.
Di sepanjang jalan aku mencoba buat menghibur diriku sendiri dengan nostalgia jaman sekolah. Apalagi tadi aku sempet nglewatin SMA ku dulu.
Nggak kerasa, sebelum jam 7 pagi aku udah nyampe di teras rumah. Tempat yang aku kangenin banget.
"Makasih ya, Paak...!" ucapku pada si supir taksi. Setelah menurunkan dua koperku.
"Maaf ini ongkosnya," ucapku yang menyodorkan sejumlah uang.
Dan setelah mobil itu menjauh, aku baru masuk ke dalam.
Tapi baru mau ngetok, aku melihat pintu nggak dikunci. Jadilah aku ada niatan buat kasih surprise buat mama.
Aku masih dengan mengendap-endap, ngegered koper dengan sepelan mungkin.
"Kita nggak bisa terus-terusan menyembunyikan dari Racheeel, Mas!" ucap mama.
Deg!
Deg!
Deg!
__ADS_1
"Apa yang mama bicarakan? apa yang dia sembunyikan?" batinku.
"Lambat laun dia harus tau, Mas. Apalagi saat dia menikah," ucap mama dari arah ruang makan.
"Itu nggak perlu, karena sampai kapanpun Rachel hanya boleh tau kalau aku adalah papanya,"
"Kenapa? karena kamu nggak bisa menyayangi dia seperti anakmu sendiri, Aryani? bahkan dia sama sekali nggak ngrepotin kamu selama ini! lalu kalau dia tau kamu mau apa? hem?" papaku menaikkan intonasi bicaranya.
"Bukan seperti itu, Mas! tapi, aku yakin kalau Ayudia juga menginginkan kalau anaknya juga mengenalinya sebagai ibunya," ucap mama.
"Kalau nanti Rachel menikah, kamu juga nggak bisa menjadi walinya!" lanjut mama.
"Siapa Ayudia? siapa? kenapa papa nggak bisa jadi waliku?" aku muncul tiba-tiba.
"Rachel?" ucapan mama serasa tercekat. Mama dan papa melihatku dengan wajah menyesalnya.
"Itukah kenapa aku dan mbak Gita seperti dua orang yang berbeda? walaupun kita masih ada hubungan kekerabatan? iya, Tante?" aku tanya sama orang yang selama ini aku panggil mama.
"25 tahun kalian menyembunyikan semua ini," ucapku getir.
"Sekarang dimana ayahku, Om?" ucapku. Dan aku yakin ucapanku ini menyakiti hati Om ku yang selama ini berpura-pura jadi papaku, tapi siapa yang lebih tersakiti disini? Aku.
Ya, ternyata berpura-pura itu ada masanya. Semua hal yang disembunyikan kapan saja bisa terbongkar. Apakah ini yang dinamakan dunia real tipu-tipu?
Sekarang aku disini, di depan sebuah gundukan tanah. Gundukan tanah yang sering aku kunjungi bersama papa. Dia hanya bilang ini makam adiknya, tanpa aku tau kalau makam yang aku tabur bunga bertahun-tahun ini adalah makan ibuku sendiri. Ayudia Faradilla.
"Maaf, Rachel..." ucap papa, dia memelukku erat. Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya.
"Dimana ayahku?" tanyaku pada papa.
.
.
.
Aku bagaikan terbang bersama burung-burung. Nggak, bahkan aku terbang melebihi burung itu sendiri. Ya, aku sedang menuju sebuah negara di daratan eropa, yang membutuhkan belasan jam untuk sampai kesana.
Hal yang sulit diterima, namun itulah yang terjadi. Nyatanya aku bukan anak dari pasangan Danu Lawana dan Aryani Permata, dan kenapa aku baru ngeh kalau namaku dan mbak Gita aja udah beda. Mbak Gita menyandang nama belakang papa, Sagita Lawana sedangkan aku Rachel Faradilla. Seperti nama ibuku.
Dan sekarang aku akan mencari pria yang belum bisa menyembuhkan luka hatinya, karena ditinggal sang kekasih hati.
__ADS_1
Aku melihat sebuah foto bertuliskan Ivan Nawfal dan Ayudia Faradilla.
Foto ayah dan ibuku yang sesungguhnya.
Berbekal alamat dari papa Danu, aku terbang ke Jerman. Katanya ayah Ivan ada disana. Awalnya dia akan membawaku bersamanya, tapi papa Danu melarang, karena waktu itu aku masih bayi. Aku membutuhkan orang yang nisa merawatku dengan baik, jadilah aku ditinggal disini bersama orang yang aku anggap orangtuaku.
Begitu pesawat mendarat aku menuju sebuah kota Hamburg, jerman.
Aku mendatangi sebuah rumah yang nggak terlalu besar, tapi keliatannya cukup hangat.
Aku menarik nafas panjang swbelum mengetuk pintu.
Tok!
Tok!
Tok!
"Ja, eine minute! (Ya, sebentar!)" suara seorang laki-laki.
Dan ketika pintu terbuka.
"Rachel?" dia memekik menyebut namaku.
"Ayaaah?" ucapku dengan mata yang berkaca.
"Aku pasti sedang bermimpi!" pria dihapanku mengucek matanya. Kemudian melihatku lagi.
"Aku tidak sedang bermimpi, apa ini kamu Rachel?"
Aku mengangguk!
Ayah memegang dadanya, dia menangis. Lalu memelukku begiti saja.
"Maafkan Ayah, Racheeel..." ucapnya dengan tangis begitu menyayat hati.
Dan disinilah aku berada, bersama ayah yang selama ini hilang dari kehidupanku. Ayah membawaku masuk, menyelami kehidupan yang dijalaninya selama ini. Banyak foto-foto mendiang ibu.
Aku nggak mau banyak bertanya, kenapa begini kenapa begitu. Yang jelas, aku hanya ingin menjalani setiap harinya dengan baik, menebus semua moment yang terlewati begitu saja dengan ayah.
"Beristirahatlah, ayah akan buatkan teh untuk kamu?" ucap ayah seraya membiarkanku sendirian di kamar.
__ADS_1
"Ada banyak kejutan yang terjadi dalam waktu dekat ini, aku harap kamu juga bisa menjemput kebahagiaanmu sendiri..." ucapku sambil memandang satu fotoku bersama pak Raga yang akunjadiin baground di layar hapeku.