Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Salah Kamar


__ADS_3

Alhamdulillah, akhirnya hari pertamaku terlewati. Karena aku mau ke rumah sakit, aku ganti bajuku pakai baju casual biasa. Walaupun nggak bisa dipungkiri kalau pikiranku ke pak Raga terus, aku khawatir kalau pak Raga bakal dimanfaatin sama orang jahat macam pak Moreno.


"Kamu lanjut sampe malem, Al?" tanyaku sama Almeer.


"Iya, arrgghh?! Padahal udah pegel banget," Almeer muterin pinggangnya kanan kiri.


"Yang sabar ya, ini ujian?!" ucapku. Almeer cuma ketawa tipis.


"Ini nggak apa-apa nih aku pulang duluan?" aku basa-basi.


"Nggak apa-apa, pulang aja. Udah jam 4 sore juga kan? Kasian keponakan kamu juga, pasti dia capek seharian nemenin tantenya kerja..." jawab Almeer.


"Y udah, aku duluan ya?" ucapku pada Almeer.


"Mas Wahyu, aku duluan...?!" aku lambaikan tangan pada mas Wahyu, yang tugasnya di mesin kasir.


"Hati-hati, Chel..." mas Wahyu balas lambaianku.


"Ayo, Nay...!" aku ajak Nay keluar dari kedai.


Kami naik taksi untuk mencapai rumah sakit tempat suaminya mbak Gita di rawat. Jujur, sebenernya males banget aku buat kesana. Ya, bayangin aja ya, kamu mau ketemu sama orang yang udah nyakitin hati kakak kamu dan kasih kenangan yang sifatnya traumatik sama keponakan kamu.


Kalau aku sih pengennya tuh orang kayak gitu tuh nggak usah di-notice, nggak usah dipeduliin. Biarin aja udah, nggak usah dianggap. Kalau perlu tinggalin aja. Tapi balik lagi, setiap orang punya pemikirannya sendiri. Meskipun gemes, dan pengen ngejambak rambut sendiri kalau lagi-lagi mbak Gita mempertahankan prinsipnya yang bilang kalau perceraian itu hal yang halal tapi dibenci oleh Allah. Tapi ya udahlah, itu keputusan mbak ku dan aku cuma bisa support dia sebisa aku. Walupun ujung-ujungnya aku jadi mendadak miskin begini buat ngegantiin kewajibannya si Bram Brem itu buat kasih nafkah anak dan istrinya. Karena yang aku pikirin cuma satu, Nay!


Seoanjang perjalanan aku peluk Nay, aku elusin kepalanya.


"Pokoknya kalau kamu nggak pengen ketemu sama bapak kamu yang songong itu, Tante mau kok ngurusin kamu, Nay. Tante yakin, kita sengsara cuma bentar. Kalau motor dah kejual, tante bakal pindah ke kosan yang ada ac nya, yang bagus biar kamu nyaman! Terus kamu tabte sekolahin deket kedai kopi itu, biar tante bisa anter jemput kamu" ucapku dalam hati.


Sesampainya di rumah sakit, aku ajak Turun Nay.


"Maksih ya, Pak? kembaliannya ambil ajah," ucapku nyodorin uang pada pak supir.


"Makasih, Mbak! dicek lagi, mbak barang-barangnya!" ucap si supir ngingetin.


Bruuuuk!


"Udah, Pak!" ucapku setelah nutup pintu dan keluar dari mobil.


Aku gandeng Nay untuk masuk ke dalam.


"Mama mana, Tante?" pertanyaan Nay membuatku sadar, kalau aku bekum bgomobg perihal bapaknya yang buooros itu lagi terkapar di rumah sakit. Dan emaknya lagi ngurusin bapaknya yang durjana itu.


Aku ajak Nay duduk di kursi tunggu, biar enak ngasih taunya.


"Nay, mama lagi..." ucapanku menggantubg, bingung gimana harus ngomongnya.

__ADS_1


"Ehm, gini. Papanya Nay lagi dirawat di rumah sakit ini, dan mama Nay lagi nemenin papa. Jadi, mama minta Tante buat nganterin Nay kesini..." ucapku.


"Nay mau ketemu sama papa?" tanyaku hati-hati.


"Tapi kalau Nay nggak mau nggak apa-apa..."


"Nay mau..." ucap Nay.


Aku cukup terkejut dengan jawaban Nay, "Okey, kalau gitu Tante anterin ke atas ya. Ruang perawatan papa ada di lantai atas..."


Kita berdua naik lift untuk sampai ke lantai 3. Awas aja kalau dia nggak punya duit buat bayar tagihan rumah sakit, aku mah ogah banget bayarin. Ngesot-ngesot dah lu cari duit.


Aku nyelusuri lorong dan tiba-tiba si Nayla dadah-dadah gitu. Dan yap, dia berinteraksi lagi sama setan dong. Kagak takut-takutnya si Nay, padahal anak cowok yang dia liat ini mukanya pucet, masih pakai baju pasien dengan ada sedikit bercak darah di sudut bibirnya. Dia tersenyum sama Nay.


"Masuk, Nay?!" aku ajak Nay ke dalem. Aku nggak mau Nay lebih dekat dengan makhluk bukan manusia itu.


"Kita ketemu sama papa kamu ya, Sayang?" ucapku setelah berada di dalam.


"Assalamualaikum!" ucapku dengan pedenya gandeng Nay


"Waalaikumsalam, maaf anda siapa ya?" ucap wanita yang lagi nyelimutin suaminya dengan selimut.


Aku cuma kedap-kedip, dan sadar setelah beberapa detik kemudian.


"Saya---"


"Tunggu, Mbak---" aku mulai maju beberapa langkah.


"Jangan mendekaaattt?!!!! Jangan mendekaaatattt!" si perempuan itu menunjukkan telunjuknya sama aku.


"Jelasin sama aku, sudah berapa lama kalian menyembunyikannya? dasar valakoorrr" lanjutnya.


"Tunggu, Mbak. Saya---"


"Kamu tegaa, Mas sama aku, Massss!!!" di malah mukulin suaminya yang lagi sakit.


"MBIAAAAAK DIEM DULU?!! SAYA ITU CUMA MAU BILANG KALAU SAYA ITU SALAH KAMAR?!!" aku teriaak, biar suaraku kedrbgeran sama peremouan yang lagi ngejambak rambut suaminya.


"Apaaaa?"


"Maaf, saya salah kamar. Saya nggak kenal sama anda dan suami anda. Dan satu lagi, saya bukan valakor!!!!" ucapku.


"Permisi ... maaf sudah membuat anda salah paham," lanjutku dan pergi.


Dan aku pun segera keluar dengan perasaan malu, dan kami berdua disambut tawa dari anak kecil tadi.

__ADS_1


"Hahahhahah," anak kecil laki-laki itu ketawa renyah.


"Sshhhhh?!!" Nay taruh telunjuk di depan bibirnya sambil mendesis.


"Sontoloyo, aku diketawain setan cilik," aku dalam hati.


"Ayo, Naaay?" ucapku bergeser ke samping kamar tadi. Kali ini udah aku pentelengin nomornya, dan udah pasti bener ini mah.


Tok!


Tok!


Aku ketuk pintu sebelum masuk, "Assalamualaikum..." ucapku kasih salam.


"Waalaikumsalam," jawab seorang perempuan, dan itu suaranya mbak Gita.


"Alhamdulillah, nggak salah kamar lagi," gumamku lirih.


"Nay? Sini Sayang, mama kangen!" ucap mbak Gita rentangin tangannya, dan Nay yang juga udah kangen berat pun berlari dan memeluk mamanya.


"Nay kangeeen mama..." ucap Nay nangis.


"Iya, Sayang. Mama juga kangen banget sama Nay," ucap mbak Gita, dia mengelus kepala putrinya.


Aku pun nggak bisa menahan haru, air mataku menetes.


"Nayla..." panggil mas Bram.


"Ck, ganggu suasana aja nih manusia!" lirihku.


"Naylaaaa..." tangan mas Bram berusaha menggapai Nayla yang kini melepaskan pelukan mbak Gita.


"Nggak apa-apa, Sayang. Papa kangen sama Nayla..." ucap mbak Gita lembut.


"Nggak usah dipaksa, Mbak. Kalau Nayla nggak mau, kasian nanti trauma," ucapku.


Mas Bram yang biasanya ngejawab omonganku, tumben-tumbenan diem aja.


"Mas Bram udah berubah, Dek..." ucap mbak Gita.


"Mas Bram kayak gini karena dikerjain sama orang..." ucap mbak Gita.


"Dikerjain gimana? Orang jelas-jelas kelakuannya---"


"Ada orang yang sengaja ingin menghancurkan rumah tangga mbak, Rachel..." ucap mbak Gita dengan tatapan yang serius.

__ADS_1


"Siapa?" tanyaku.


__ADS_2