Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Mencari Pelaku


__ADS_3

Akhirnya dengan adegan yang cukup dramatis, geraman disertai dengan teriakan yang cukup bikin sakit telinga karena di ruqyah, pak Hardi pun bisa segera disadarkan. Walaupun badannya seketika lemes.


"Kayak kenal spring bed-nya!" gumam mas Riski yang baru sadar ada spring bed yang diketakkan deket sama pohon rambutan.


"Itu diambil dari dalam kamar sana, sama mereka-mereka ini!" pak Raga nunjuk kamar mas Riski, lalu beralih nunjuk beberapa perempuan.


Dan para pelaku segera kabur, takut kalau-kalau giliran mas Riski yang ngamuk.


"Astagaaaaaaaa!" kan kan mas Riskinya kueesel.


"Ada apa, Kiiii?!!!" suara bu Retno naik satu okyaf.


"Nggak, Bu nggak!" mas Riski ciut.


Oh ya, para petugas damkar akhirnya pada balik tuh ke markasnya setelah keadaan kosanku udah aman dan tentram. Dan tau nggak, pak Hardi kulitnya pada bentol-bentol gitu di wajah, tangan dan kaki.


"Apa ini karena kesambet, Pak? kulit pak Hardi kok bisa bentol-bentol gitu?" aku nanya ke ustad yang dipanggil sama mas Riski, namanya ustad Zamroni. Biasa sapa, ustad Zam.


"Ooooh, ini mah digigit semut rang-rang! bukan karena kesambet!" ucap ustad nahan ketawanya. Mungkin dia pikir itu pertanyaan bodoh.


"Maaf kalau malam dia suka oleng!" ucap pak Raga yang tangannya disampirin di pundakku.


"Kita pulang, Pak!" ucap bu Retno ngajak pak Hardi bangun dari spring bed yang digletakin di deket pohon rambutan. Sekarang pak Hardi duduk.


"Bukannya di rumah ibu masih ada batok kelapa aneh yang waktu itu sama dan mas Riski anterin? nggak sekalian aja pak ustadnya kesana buat mastiin benda apa itu sebenernya, Bu? saya juga udah capek Bu, kalau tiap malem ada aja gangguan yang bikin tidur nggak tenang," usulku pada bu Retno.


"Batok kelapa? batok kelapa apa bu Retno?" tanya ustad Zam.


"Jadi Rachel sama Riski ke rumah saya, bawa batok kelapa. Katanya Rachel nemu barang itu di tempat dia biasa parkir motor. Dan katanya kosan ini jadi banyak makhluk halusnya, padahal dari dulu tempat ini aman-aman saja, Pak!" jelas bu Retno.

__ADS_1


Pak ustad lantas mendongak, dia melihat sekitar.


Dia menghirup udara seraya memejamkan mata, kemudian matanya terbuka kembali.


"Ya, memang saya merasakan energi yang lain, terutama di pohon ini," ucap ustad Zam yang melihat ke arah pohon rambutan.


"Jadi bagaimana ustad? apa kita tuntaskan malam ini saja? supaya tidak ada lagi gangguan untuk saya dan suami saya begitu pun penghuni kosan ini," ucap bu Retno.


Dan kita rame-rame ke rumah bu Retno setelah gotongan spring bed-nya mas Riski. Kasian dia, kalau harus tidur di lantai.


Rumah yang hanya di samping kosan ini, jadi sebenernya ya deket banget. Dan ibu kos sering inspeksi juga ke kosan. Kalau ada yang ketauan buang sampah sembarangan pasti kena denda.


"Apa nggak sebaiknya kita pulang aja?" tanya pak Raga ketika kita duduk di kursi teras. Karena dalam rumah ibu kos udah nggak karuan bentukannya.


"Udah jam 2 dini hari. Begadang nggak baik buat kesehatan," kata pak Raga setengah berbisik.


"Tapi saya yang nemuin dan batok kelapa itu, sampai akhirnya hal yang nggak diinginkan terjadi sepertin ini,"


"Ya nggak. Saya sama mas Riski kesininya. Tapi kan---"


"Lah itu udah ada Riski. Jadi kamu pulang aja sama saya, udah malam!" serobot pak Raga.


"Bapak kalau mau pulang, pulang ajah. Saya masih penasaran apakah batok kelapa itu memiliki kekuataan yang ghoib atau bagaimana," ucapku.


"Mata kamu nggak bisa bohong, kamu udah capek itu!" ucap pak Raga yang masih aja pengen berdebat.


"Tapi saya penasaran, Pak. Saya mau tau hal ini sampai tuntas, mending Bapak pulang aja ke rumah Bapak..." ucapku gemes banget.


"Saya nunggu disini!" ucap pak Raga yang sesekali ngeliat arloji di tangannya.

__ADS_1


"Hadeuuh, pak Raga nih ribet banget. Padahal dia yang ngantuk. Tuh sampe nguap kayak gitu. Matanya juga udah merah, kayaknya dia udah capek banget. Ah, biarin aja lah. Aku penasaran siapa yang masukin barang kayak gitu di kos-kosan," ucapku dalam hati.


Setelah nganter pak Hardi ke dalem, mungkin ke kamar. Bu Retno balik lagi nemuin kita. Dia ngambil batok kelapa yang di taruh di salah sudut teras deket taneman.


"Ini pak ustad!" ucap bu Retno yang memberikan batok kelapa pada ustad Zam.


Pria berpeci ini melihat dengan seksama barang yang diterimanya. Nggak tau apa yang dilafalkannya, tapi kemudian dia menaruh bensa itu di atas meja.


"Batok ini sebenarnya bukan batok biasa, hanya di dalamnya terdapat tulisan mantra yang membuatnya jadi media atau wadah makhluk-makhluk halus. Nanti batok ini akan saya bakar, sehingga mantra-mantra di dalamnya pun hilang bersamaan hancurnya batok kelapa ini!" ucap ustad Zam.


"Kalau boleh tau siapa yang berniat jahat dan siapa sasarannya ya, pak?" tanyaku.


"Kalau saya itu saya tidak tau, Mbak! ilmu saya belum nyampe kesana. Saya hanya bisa merasakan energi yang kuat dari benda ini, dan yang ada sesuatu yang buruk yang tersimpan di dalamnya!" jawab ustad Zam.


"Intinya saya pernah menemukan hal seperti ini sewaktu saya masih berguru beladiri di suatu perguruan silat. Dan cara menghancurkannya ya dengan membakarnya, dan nanti si pengirim itu akan mendapat ganjarannya sendiri!" ucapnya lagi.


Aku sih yang penting barang jelek kayak gini bisa lenyap udah cukup. Capek juga diganggu makhluk nggak jelas.


"Tapi kalau di kosan ada semacam cctv, akan lebih mudah kita melihat siapa pelakunya!" lanjut ustad Zam.


"Bu! kan di kosan emang dipasang cctv, pas banget nyorotnya ke parkiran motor!" ucap mas Riski tiba-tiba.


"Iya iya ada," ucap bu Retno.


"Kamu bener, Ki. Ada memang cctv yang mengarah ke parkiran. Kok saya malah lupa ya? Sebentar ambil leptopnya!" ucap bu Retno yang kini masuk lagi ke dalam rumahnya.


"Alhamdulillaaaaah, akhirnya nemu juga titik terangnya. Untung pak Hardi kesurupan, coba kalau nggak? bakalan masih jadi misteri itu batok kelapa!" batinku.


"Mau sampai kapan kita disini?" tanya pak Raga.

__ADS_1


"Sampai kita tau siapa pelakunya, Pak!" tandasku.


__ADS_2