Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Kamu Nanyeaaaakkkkk?


__ADS_3

Badan capek, tapi nggak enak ya kalau nolak ajakan Amel buat makan malam sama keluarganya. Nggak jauh, cuma disini-sini aja, di restorannya resort tempat kami menginap. Padahal badanku kayaknya mau ambruk, capek banget. Tapi balik lagi, nggak enak buat nolak.


Lagi ngadepin makanan tiba-tiba inget pak Raga. Aku lihat ke sekeliling, tapi itu bos gendeng sama sekali nggak nampak


"Kemana pak Raga? Kok nggak ada? Tuh orang udah makan belum ya? atau dia udah pesen makanan dan dianterin ke kamarnya?" batinku.


Aku jadi keinget pak Raga. Walaupun kesel tapi aku jadi khawatir, kalau dia belum makan. Bukannya tambah sehat, yang ada dia tambah sakit.


"Ih, kok aku malah mikirin dia sih? baguslah kalau dia nggak nongol, jadi nggak ada lagi yang ngerecokin acara liburanku. Ada orang liburan malah disuruh kerja, cuma pak Raga doang itu..." pikiranku berkata lain.


"Kenapa? keasinan makanannnya?" bisik Naga.


Sontak aku nengok, "Nggak kok!" aku senyum tipis.


"Yeuuuuuhhh, moduuuuuusss!" Amel nyeletuk.


"Siapa yang modus, Mel?" tanya om Ibram yang kebetulan denger ucapan si Amel ember bocor.


"Oh ini Pah----" ucapan Amel terpotong.


"Aaawkkjh!" dia malah sekarang memekik. Amel ngelirik tajem ke arah Naga yang dengan santainya minum jus melon.


"Kenapa lagi kamu, Mel?" sekarang giliran tante Ira yang nanya.


"Nggak apa-apa, Mah. Keinjek kaki sendiri," jawab Amel nggak masuk akal.


"Gimana tadi kerjaan beres, Rachel?" tanya tante Ira.


"Oh, iya. Beres kok, Tan..." jawabku.


"Bos emang gitu, Chel. Kalau nyuruh nggak mau tau kita lagi ngapain, nih papanya Amel aja seharian dia di depan leptop, niatnya mau liburan malah kerja lagi kerja lagi..." tante Ira nyindir Om Ibram.


"Ya gimana ya? udah bagian dari resiko kerjaan," Om Ibram nanggepin ucapan istrinya.


"Udah lah, lagi makan juga ngebahasnya kerjaan terus!" ucap Naga.


Malam itu aku makan nggak begitu banyak, nggak tau kenapa. Nggak selera aja bawaannya. Kelar makan malam, Om Ira dan Om Ibram katanya mau jalan-jalan di resort, mau me time berdua katanya. Kalau Amel dia ke kamar nggak kuat dingin. Dan kalau aku, entah kenapa langkahku menuju kamarnya pak Raga.


"Astaga, kenapa aku malah kesini, sih?" aku merutuki kebodohanku.


Dan pas aku berbalik, badanku menabrak Naga.


"Naga? loh kok kamu ada disini?"

__ADS_1


"Kamu yang kenapa disini? kan kamarnya mbak Amel disebelah sana," Naga nunjuk ke salah satu arah dengan tangan kanannya.


Nih bocah panggilnya kamu kamu bae. Dasar berondong manis.


"Aku tadi---"


"Kamu udah dateng? kita pergi sekarang," seseorang dengan suaranya khas berada di belakangku. Dia pegang tanganku.


"Pak Raga?" gumamku.


Naga ngelepasin tangannya pak Raga dari tanganku, berani banget nih bocil. Dia nggak takut apa ya di lempar ke atas pohon sama nih pak bos.


"Jangan sentuh!" Naga memperingatkan.


"Kamu yang jangan sentuh!" kata pak Raga.


"Nagaaaa?!!" seru Amel. Kita bertiga otomatis nengok ke sumber suara.


Dia menghampiri ke arah kami.


"Dicariin mama juga, ternyata disini..." lanjut Amel.


Dia lalu menunduk hormat pada pak Raga, "Malam, Pak..."


"Malam," sahut pak Raga. Pak bos udah ganti baju, udah seger juga kayaknya. Kan cespleng obat yang aku kasih.


"Ih apaan sih, mbaaak!" Naga kesel banget diseret kayak anak kecil.


"Bukan urusan bocah cilik! dicariin mamah tuh!" ucap Amel sembari bawa Naga pergi.


"Kenapa diliatin terus? jangan bilang kamu suka daun muda?" tuduh pak Raga.


"Kamu nanyeaaakk?" aku niruin setan jamet yang pernah aku temui di mobil.


"Apa kamu bilang?"


"Nggak, Pak..." aku menggeleng.


"Kamu kesini nyari saya?"


"Sama sekali nggak, Pak. Kebetulan lewat, mau jalan ke taman. Mau liat bintang, bukan mau liat pak Raga..." aku ngeles.


"Saya lapar, belum makan!" kata pak Raga.

__ADS_1


"Kalau lapar ya makan, Pak. Kalau ngantuknya tidur,"


"Temani saya makan!" pak Raga gandeng aku menuju sebuah taman.


Taman seluas itu dihias dengan gate yang ada bunga dan lampunya. Pokoknya nih taman dihias sedemikian rupa, dengan bangku yang dihias dengan lilin.


"Jangan disini, Pak. Kayaknya ada yang mau ngadain acara...! Nanti saya pesenin aja di restorannya. Bapak tinggal duduk anteng di kamar, makannya dijamin dianter..." aku puter badan berniat meninggalkan pak Raga.


Tapi pak Raga mencekal tanganku, aku menengok ke arahnya.


"Kenapa kira yang harus pergi? kalau perlu kita usir saja orang itu!" ucap pak Raga bossy banget. Dia nekat mendekat ke bangku yang kita nggak tau itu punya siapa.


"Pak, saya beliin deh di restoran. Dosa tau makan makanan yang bukan punya kita," ucapku celingak-celinguk, takut kita dikira maling makanan orang.


Tapi pak Raga keukeuh nyuruh aku duduk.


"Yeuuh, pak bos! susah banget dikasih tau!" aku ngedumel sendiri.


"Pak, ini kalau ketauan terus kita dituduh maling kan nggak lucu pak?! sebelum orangnya dateng mending kita pindah aja, Pak...!" aku masih membujuk pak Raga. Tapi dia dengan santainya duduk dan ngerapihin bajunya.


"Kamu duduk aja, nggak usah tegang!"


"Ya allah, gimana nggak tegang. Ini kita malu loh Pak kalau disangka makan makanan orang!"


"Ya emang kita makan makanan orang, bukan makanan macan! terus masalahnya dimana?" pak Raga nyeletuk, nyebelin banget.


"Masalahnya ini bukan punya kitaaaaa, Bapakeeeeee!" aku gemes banget ama nih orang, kalau bukan bos udah aku masukin cabe mulutnya.


"Kata siapa? kata kamu kan?" ucap pak Raga.


Dan ada dua orang pelayan yang mengantarkan makanan lain, "Silakan, Tuan..."


Pak bos cuma ngibasin tangannya, makasih juga nggak.


"Ini meja saya yang pesan, makanan juga saya yang bayar. Jadi duduk dengan tenang, dan jangan berisik!" ucap pak Raga.


Aku yang disuruh gitu manggut-manggut ajah. Suhu udara malam ini cukup dingin, beruntung aku pakai baju yang lumayan anget jadi aku nggak mungkin masuk angin.


"Makanlah," ucap pak Raga nyuruh aku makan, karena daritadi aku cuma duduk aja nggak sentuh apapun yang ada di meja.


"Apa perlu saya----"


"Iya pak iya, saya makan..." aku nyerobot ucapan pak bos, daripada dia merepet kemana-mana.

__ADS_1


"Oh ya, Rachel. Mengenai pembicaraan tadi sore. Bagaimana kalau kita pacaran beneran aja?" tanya pak bos, sedangkan aku masih melongo mencerna apa yang barusan dia katakan.


"Hah? gimanana?" aku menatap pak bos dengan tatapan heran.


__ADS_2