Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Bukan Manusia


__ADS_3

Sepanjang makan malam ini, Eyang Anti ngomongin masalah tunangan-nikah-tunangan-nikah, sampe aku rasanya seret gitu nelen makanannya, padahal yang aku makan steak Wagyu A5 loh, yang dagingnya lembut nggak main-main.


Mau ngelesnya juga susah banget. Sampe rasanya pengen ngilang aja gitu dari sini. Ya gimana, aku sama pak Jiwa Raga ini kan sebatas pacar boongan. Ibarat kata, kita bersama karena terpaksa begitu ya, nggak mungkin lah kita akan memperpanjang sandiwara ini sampe taun depan. Aje gile, dikira kita lagi main sinetron pake diperpanjang segala?


"Kamu kenapa, Rachel?" tanya Eyang Anti.


"Nggak kenapa-napa, Eyang..." aku jawab dengan muka yang disenyum-senyumin, sambil makan gitu.


"Ini pasti gara-gara kamu kecapean, ya? kerja di tempat Raga? iya?" Eyang Anti langsung menatap ke arah cucunya.


"Ehm, nggak Eyang. Mungkin cuacanya yang lagi nggak jelas Eyang. Kadang ujan kadang panas, jadi efeknya nggak enak di badan," aku nyari alasan.


Ya kali kita bilang, ini loh eyang kitanmau istirahat lagi mencret-mencret disuruh makan dimari sama bos kita yang lucknat ini. Jadi kita makan sambil nahan emosi nih daritadi, mana ngebahasnya masalah tunangan mulu. Stress banget nih otak jadinya.


"Kamu jangan kasih kerjaan banyak-banyak sama Rachel. Kasian kan, bisa kurus dia lama-lama kerja sama kamu...!" Eyang kasih ultimatum ke pak Raga.


Enak juga ya ada yang ngebelain di depan pak bos. Pasti dalam hati, pak bos dongkol banget itu, dituduh ngasih kerjaan berat. Padahal kan seharian ini aku magabut banget di kantor.


Aku loyo dan nggak bertenaga ya karena perkara masuk angin, dan itu salah aku sendiri yang telat makan. Makanya kalau jaman dulu nenekku selalu bilang ' Rachel ayo makan siang, nanti kamu bisa sakit maagh kalau telat makan!' gitu gengs. Dan kerasanya tuh pas udah gede kayak gini, makan tidur nggak teratur, dikit-dikit jadi meriang.


"Rachell?" panggil Eyang Anti.


"Eh, iya, Eyang. Ada apa?" aku taruh pisau dan garpu diatas piring dan menyimak wejangan apa yang bakal diucapin sama Eyang.


"Jangan sering melamun, nggak baik..." kata Eyang.


"Oh, iya ... Eyang..." aku senyum kagok. Kirain mau ngomong apaan, ternyata cuma bilangin jangan ngelamun.


Dan nggak sengaja mataku melihat ada seorang pria yang basah kuyup, dia dateng sama pasangannya yang nggak kalah basahnya.


"Kasian banget itu orang basah begitu..." aku bergumam sendiri.


"Kenapa, Rachel?" tanya Eyang Anti.


"Itu, Eyang. Ada orang yang dateng basah kuyup. Kasian banget," ucapku lagi.


"Basah kuyup? tapi disini nggak hujan, Rachel..." Eyang Anti menengok ke arah yang sama dengan aku.

__ADS_1


Tapi pak Raga segera mengalihkan pembicaraan kami, "Nggak usah diliatin juga, Eyang. Nanti mereka malah risih," kata pak Raga.


"Tapi kan disini yang datang...?" Eyang Anti menggantungkan ucapannya.


"Mungkin mereka lagi live dan nerima tantangan, makan di restoran mewah dengan kondisi basah kuyup. Bisa aja kan, Eyang?" kata pak Raga, dia ngeliat ke arahku sekilas ngasih kode-kode nggak jelas.


"Apa?" tanyaku lirih.


"Sekarang lagi marak live, pakai acara tantangan kayak gitu kan Rachel?" pak Raga ngomong pake senyum tapi terkesan maksa, negesin ke aku.


"Iya ... iya. Banyak yang seperti itu, Eyang..." ucapku canggung.


"Ck ck ck, anak muda jaman sekarang aneh-aneh aja..." kata Eyang Anti.


Eh, tapi pas aku liat lagi, tuh duo sejoli tadi udah nggak ada. Aku liatin ke segala penjuru di restoran ini, sama nggak ada juga. Oh mungkin mereka udah pindah restoran karena nggak nyaman diliatin orang-orang, bisa juga kan.


Dan makan malam yang bikin engep napas karena pembicaraannya seputar, aku, pak Raga dan pertunangan, akhirnya berakhir juga. Setelah Eyang udah naik mobil dan pergi meninggalkan tempat ini, barulah pak Raga ngajakin balik.


"Ayo naik...!"


"Saya nggak akan diturunin di jalanan lagi kan, Pak Sayang? kalau iya, mending saya naik taksi atau naik bus aja," ucapku pada pak Raga.


Di dalam mobil. Suasananya lumayan enak, perutku yang tadi sempet krudukan juga sekarang udah lebih tenang, nggak mules juga.


"Pak, besok dan lusa saya mau ijin keluarnkota. Jadi, Bapak jangan nyuruh saya dulu, kalau mau nyuruh kalau saya udah balik lagi kesini," ucapku dengan hati-hati.


"Ya...?!" ucap pak Raga singkat.


"Alhamdulillah," spontan aku berucap syukur.


"Eh tunggu! Loh kok kamu yang ngatur? memangnya kamu mau pergi kemana? acara apa? dengan siapa? sepenting apa?" pak Raga seketika merepeet kemana-mana.


"Saya mau helaing sama Amel. Pokoknya saya ijin dua hari, Pak. Mau potong gaji juga nggak apa-apa..." kataku.


"Bggak, nggak bisa! besok saya ada wawancara dengan majalah bisnis. Kamu harus nemenin saya, dan nyiapin semua keperluan saya seharian," pak Raga keukeuh.


"Nggak bisa gitu dong, Pak Sayang. Tadi kan Bapak udah bilang iya. Sebagai lelaki sejati pantang dong narik ucapan," aku juga nggak mau kalah.

__ADS_1


"Ck, tadi kan saya---"


"Nggak bisa! kan Bapak tadi udah bilang iya..."


"Tapi--"


"Eeeit, nggak bisa Pak. Pokoknya Bapak udah ngijinin tadi," aku serobot omongannya. Akhirnya dia pun ngalah.


"Ya sudah ya sudah terserah kamu...!" ucap pak Raga dongkol, sedangkan aku tersenyum penuh kemenangan.


Sesaat kami terdiam, sebelum akhirnya pak Raga kembali membuka pembicaraaan.


"Rachel, dia orang yang kamu lihat di restoran tadi tuh bukan manusia," ucap pak Raga.


"Hah, gimana, Pak?"


"Sayang!" ralat pak Raga.


"Ingat Rachel kamu harus memperhatikan kesejahteraan dan kedamaian hati saya," lanjut pak Raga. Aku hampir hafal kalimat yabg dia ucapkan itu.


"Eh iya, gimaana tadi Sayang?" aku ralat ucapanku.


"Pasangan yang tadi kamu lihat itu bukan manusia," ucap pak Raga.


Spontan aku bergumam sambil ngeliatin oak Raga dari samping, "Bukan manusia? masa sih?"


"Lain kali lagi, kalau ngeliat sesuatu yang aneh jangan langsung ngejeplak aja. Karena tidak menutup kemungkinan, kamu melihat yang seperti itu sewaktu kita ada pertemuan dengan rekan bisnis atau apa. Kamu mengerti Rachel?" ucap pak Raga.


"Emh, iya pak Sayang..." ucapku.


Kenapa semakin kesini, aku sering ngeliat yang aneh-aneh. Wah ini mulai nggak bener sih. Aku mesti diruqyah nih biar nggak diganggu sama para makhluk astral.


"Oh ya dan satu hal lagi..." pak Raga masih nyambung pembicaraan ternyata.


"Iya...?"


"Kamu harua bertahan jadi pacar bohongan saya, sampai batas waktu yang tidak ditentukan...!" ucap pak Raga.

__ADS_1


"Apaaaaaaaaa???" aku shock seketika.


__ADS_2