Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
24 jam Terakhir


__ADS_3

"Asalkan apa?" Amel nanyeak.


"Asalkan kamu nggak nongol lagi di depanku!" ucapku tegas.


"Kok gituuuu?"


"Aku maafin tapi aku nggak bisa ngelupain yang namanya penghianatan. Belum jadi pacarnya Tristan aja kamu bisa ngelakuin kayak gitu apalagi kamu udah jadi pacarnya bahkan istrinya. Bisa aja hal kayak gini terulang lagi," ucapku, Amel mau menyela tapi aku secepetnya ngomong lagi.


"Kamu tau kan Mel, kalau gelas pecah walaupun udah dilem dan disatuin lagi, tetep aja nggak bisa buat dipake buat minum. Kalaupun dipaksain yang ada bibir kita bisa kebeset dan luka. Sama seperti persahabatan kita,"


"Kamu tau nggak apa yang kamu lakukan itu bisa membawa masalah untuk pak Raga?" aku udah diubun-ubun rasanya.


"Kamu tuh harusnya SD dong!" lanjutku.


"Apaan tuh SD?"


"Sadar Diri!" ucapku ketus.


"Iya, aku bakal minta maaf sama pak Raga," ucap Amel.


"Ya udah, sok atuh!" ucapku nantangin Amel.


Aku sengaja bilang kayak gini, biar Amel tuh mikir. Persahabatan kita yang udah dijalin 2 tahun ini, rusak cuma gara-gara playboy cap badak macam Tristan. Untuk masalah eyang Anti, aku sendiri yang bakal ngelurusin.


.


.


.


Amel udah pergi setengah jam yang lalu. Aku masih di tempat ini, masih bingung apa yang harus aku lakuin.


"Apa aku ke kantor pak Raga, bawain dia makanan. Gimanapun semalaman dia begadang," aku ngetokin jati di dagu.


"Ah, tapi kan pak Raga bilang kalau pagi ini dia ada pertemuan penting. Ck, huuwhh kalau ada ngeselin kalau nggak ada ngangenin," ucapku ngekek kalau inget kelakuan mantan bos.


"Mending aku nengokin calon adik ipar di rumah sakit, ah. S Ekalian aku bisa cari tau gimana caranya ngeluluhin hati eyangnya, kayaknya mas Liam lumayan deket sama eyang Anti.


Dan ketika aku beranjak dan mau naik motor, aku jadi keinget lagi dengan Almeer.


"Sebenernya kamu itu siapa sih, Al? kenapa kamu pura-pura jadi orang biasa, apa yang kamu sembunyikan?" aku ngomong sendiri, sambil pegang spion.


"Jangan-jangan motorku itu sebenernya dia yang beli bukan temennya yang tapi dia yang bayarin..." gumamku.


Aku bakal cari tau itu nanti. Sebenernya penting nggak penting sih siapa yang beli, tapi aku paling nggak suka dibohongin. Dan kalau ngucap kata-kata dibohongin, pikiranku melayang pada Eyang Anti. Ah, siapapun nggak suka yang namanya rekayasa.

__ADS_1


Sekarang aku singkirkan dulu masalah Almeer, sekarang tujuanku beli buah. Nggak mungkin nengok adik ipar tanpa membawa apa-apa.


Aku melipir buat beli parcel buah, nggak terlalu besar soalnya susah bawanya juga. Abis dari kang buah aku meluncur ke rumah sakit. Mungkin aja mas Liam masih ada disana karena tidur yang panjang bikin dia harus melatih lagi syaraf-syaraf motoriknya.


Dan sesampainya aku di depan ruang rawat mas Liam, aku ambil nafas sejenak kemudian ngetok pintu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!" suara mas Liam dari dalam.


Ceklek!


Dan ketika aku membuka pintu, senyuman teduh mas Liam langsung menyapaku. Tapi mataku membulat saat ada orang lain yang ada di dalam sana.


"Mbak Enjel," batinku. Dia memakai baju santai.


"Ayo sini, masuk!" ucap mas Liam.


Aku melangkah maju dan menutup pintu. Tapi bukan hanya mbak Enjel yang ada di ruangan itu tapi ada Eyang Anti juga, beliau lagi duduk di sofa.


"Itu buatku, kan?" tanya mas Liam menunjuk buah yang ada di tangan. Dia seolah tau apa yang aku rasain.


"Oh ini? hem, iyah," aku meletakkan buah di atas nakas.


"Bagaimana keadaan kamu? apa sudah lebih baik?" tanyaku sedikit formal.


"Ya, seperti yang kamu lihat. Aku bahkan sudah bisa berjalan dengan tongkat! Kamu kesini sendirian, kak Raga mana?" tanya mas Liam.


"Ehm dia---"


"Sebaiknya kamu istirahat, Liam! sebentar lagi jadwal minum obat!" ucap eyang Anti.


Ya, secara nggak langsung eyang ngusir aku. Mbak Enjel yang udah pasti kenal aku dia diem aja, nggak ada sepatah kata pun yang dia luncurkan dari bibirnya.


"Perawat juga belum kesini, jadi biarkan aku ngobrol-ngobrol dulu sama calon kakak iparku ini," ucap mas Liam.


"Eyang ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Rachel, bukan mengusir tapi bisakah eyang memberi waktu kami berdua untuk bicara?" mas Liam sedikit memohon.


"Bicara saja, Liam. Bukanlah daritadi kalian sudah bicara?"


"Kalau gitu aku nggak mau terapi lagi," ancam mas Liam.

__ADS_1


"Berikan kami 5 menit saja, setelah itu aku akan minum obat dan istirahat!" lanjut mas Liam.


"Liam?" mbak Enjel mencoba menginterupsi, namun mas Liam menaruh telunjuknya di bibir, dia menggeleng.


"Baiklah!" ucap mbak Enjel.


Mbak Enjel senyum sekilas, dan menghampiri eyang Anti.


"Eyang," panggil Enjel. Dan Eyang Anti pun bangkit dari sofanya.


"Jangan lama-lama, nanti kaki Eyang pegel nunggu di luar!" ucap Eyang Anti datar.


Setelah Eyang dan mbak Enjel keluar, aku jadi beneran nggak enak.


"Nggak usah khawatir!" ucap mas Liam.


"Apa?"


"Nggak usah khawatir aku bilang. Aku seperti pernah bertemu kamu dalam mimpi, dan lucunya dalam mimpiku itu aku sangat akrab dengan kamu. Apa sebelumnya kita pernah dekat? karena aku bermimpi hal yang sana berulang-ulang..." ucap mas Liam.


"Mimpi apa?"


"Mimpi kita bikin kopi di pantry perusahaan, beli minuman kesukaan kak Raga di restoran cepat saji! dan anehnya aku ngeliat kamu motong rambut kamu sendiri," mas Liam nampak mengingat sesuatu.


"Apa kita sebelumnya punya kedekatan seperti kamu dan kak Raga?" tanya mas Liam.


Apa aku harus jujur dengan pertanyaan mas Liam itu atau nggak. Kalau emang kita pernah ketemu saat mas Liam berkelana dalam bentuk lain.


"Apa aku harus jujur? tapi apa dia akan percaya? sedangkan apa yang akan aku ucapkan sesuatunyang nggak masuk akal," batinku.


"Kenapa kamu nanya kayak gitu?" aku mencoba mengulur waktu.


"Karena ada sesuatu yang aku rasakan setiap melihat wajah kamu..." ucap mas Liam.


Ucapan mas Liam membuat aku terpaku, "Kenapa kamu tanya ini setelah pak Raga dengan seenaknya memenuhi hati dan pikiranku, Mas!" batinku


"Racheeel..." panggil mas Liam.


"Aku hanya ingin tau saja, aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan kak Raga. Karena sejujurnya mimpi itu hampir saja membuatku kehilangan akal," ucap mas Liam.


"Sebenarnyaa---" ucapanku belum selesai karena ada suara pintu yang di buka.


"5 menitmu sudah selesai!" ucap Eyang Anti.


Aku pun memberikan senyuman sekilas pada mas Liam, sebelum aku pergi dari ruangan ini.

__ADS_1


__ADS_2