Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Akhirnya Bertemu


__ADS_3

Besok paginya, aku udah sembuh dari penyakit lemes berkat digerujug beberapa botol infusan dan juga vitamin yang masuk ke dalam tubuhku dan bikin aku seger. Aku yakin pak Raga membayar mahal untuk ini. Tapi sekali lagi aku nggak mau nanya soal harga, takut kesadaran langsung melayang saking terkejang-kejangnya.


Di rumah sakit nggak ada kata makan nggak enak, semuanya enak. Saking banyaknya makanan, kemarin aku sempet bagi-bagiin ke perawat jaga sama cleaning service yang dateng ke kamar. Pak Raga nggak marah au ngelakuin itu, ya siapa suruh dia pesen makanan segambreng, ya kan?


Ya tau kita lagi sakit tapi nggak makan segitu banyaknya juga, bisa mbledos perutku yang ada.


Aku pengen nanya sebenernya sama pak Raga, "Ini Eyang Anti nggak ada rencana balik ke Belanda gitu?"


Tapi lagi-lagi keinginan itu hanya bisa tersimpan dalam hati aja, nggak berani kita buat ngomong.


"Kenapa?" pak Raga nanyain aku. ya sedari pagi emang dia udah ada disini.


"Tidak ada, Pak..."


"Oh ya, diluar jam kantor, saya nggak mau kamu ngomong pakai bahasa baku, tapi kamu ngomongnya harus lembut cenderung sayang. Kamu bisa memposisikan diri sebagai asisten kalau sedang di jam kantor. Ingat, Eyang tidak boleh sampai curiga, jadi kamu harus mulai membiasakan diri biar tidak kaku," ucap pak Raga semaunya.


"Kamu dengar tidak, Racheeel?" lanjutnya.


"Denger, Pak. Denger banget malah..."


"Bagus! jangan lupa dipraktekin,"


"Njiiih, Paaak..." ucapku menunduk hormat.


Pak Raga balik badan dan jalan menuju pintu, sedangkan aku masih diem aja di tempat.


Lalu dia berhenti, tanpa menoleh, "Saya mau ke ruangan Liam, kamu mau ikut tidak?"


"Ikuuuuut, Paaakk?!!" aku berlari ke arah pak Raga.


Tapi tiba-tiba...


Klek?!


"Aaaaaawwkhh?!" Kakiku kesleo.


Dan


Hap?!!


Lalu ditangkap. Iya ditangkap di pelukannya pak Raga. Matanya yang segaris tajam itu melihatku, aku juga ngeliat dia. Jadi kita sekarang liat-liatan.


"Ehm, maaf," aku tersadar jika posisi setengah kayang ini nggak baik buat kesehatan jantung dan perasaan.


Tapi pak Raga masih terdiam.


"Ehem, maaf, Paaak..." ucapku lagi.


"Oh..." pak Raga menegakkan tubuh kami berdua.

__ADS_1


Dia melepaskan tangannya dariku, "Hem, kita ke ruangannya Liam!" ucapnya.


Tapi baru juga melangkah, heels-ku patah.


"Aawwkkh," aku melepaskannya.


"Kenapa lagi?" tanya pak Raga.


"Tidak kenapa-kenapa--"


"Sudah jam 5 lewat 1 menit 30 detik, jadi cara bicaramu tolong diubah ya....?!" serobot pak Raga sambil nunjukin jam tangannya.


"Ya ampun, ngomong aja harus diubah-ubah kayak alarm di hape?!" batinku dongkol.


"Kenapa tadi?" tanya pak Raga.


"Ng ... nggak kenapa-napa, Sayang. Cuma patah heels-nya," ucapku agak kagok pas bilang 'sayang'.


"Sini aku liat,"


Aku high heels-ku yang sebelah kiri.


"Ck, udah nggak bisa dipertahankan?!" pak Raga masukin high heelsu ke tempat sampah.


"Pak, kok dibuang sih? ya ampuuuun, itu kan masih bisa disol?!"


"Apa tadi? Risol?"


"Aarghh, orang kaya mana tau sol sepatu?!" aku berusaha jalan ke arah tong sampah, tempat bernaungnya high heels- ku tadi.


"Nggak usah diambil, nanti aku belikan lagi," ucap pak Raga.


Dia nelfon orang yang aku nggak tau siapa, dan selang setengah jam ada orang yang dateng kesini cuma buat nganterin sepatu.


Mungkin pak Raga yang minta. Sepatu yang dateng itu sepatu teplek, nggak ada haknya sama sekali.


"Berhubung kamu habis kesleo, jadi untuk hari ini jangan pakai sepatu yang ber-hak dulu, dan jangan pecicilan, ngerti?" ucap pak Raga.


Aku ngangguk, "Ngerti...."


"Bagus?!


Akhirnya setelah dipending dengan acara kesleo dan nungguin sepatu dateng, aku bisa juga nengokin mas Liam. Suara derap sepatuku dan pak Raga, bikin jantungku tambah deg-degan.


Dan ketika akan masuk, tiba-tiba aja ada tangan yang mengisi sela-sela jariku.


"Hai, Liam..."


"Kak Raga. Aku senang kak Raga datang lagi kemari," mas Liam tersenyum ke arah kami. Tentu aja dapet senyuman seindah itu, aku lempar balik senyum yang paling manis yang aku bisa. Seumur hidup baru kali ini aku terpesona sama arwah, walaupun sekarang sosok arwah itu sekarang menjadi nyata, dan aku sangat bersyukur akan hal itu.

__ADS_1


Nggak bisa dibayangin, deg-degannya aku saat ini. Senyum mengembang menghiasi wajahku di depan mas Liam, siap-siap buat disapa.


"Hai...?" ucap mas Liam ke arahku.


"Hai..." aku jawab dengan full senyuman.


"Siapa dia, Kak? apa dia calonnya kak Raga?" tanya mas Liam ke arah pak Raga.


Deg!


Satu pertanyaan yang membuat aku lemes.


"Apa iya dia nggak inget aku.? Apa karena aku bertemu dengannya saat dia berkelana sebagai arwah?" batinku meronta-ronta.


"Kaaak? apa dia...?" ucap mas Liam ke arah pak Raga.


Pak Raga menoleh padaku sekilas. Dari cara bicaranya, kemungkinan mereka berdua ydah banyak bicara sebelum hari ini.


"Kak Raga? kenapa diam?" tanya Liam lagi dengan suara yang masih sangat lemah.


"Ehm, ya begitulah. Hem, bagaimana keadaan kamu? apa lebih baik?" tanya pak Raga yang sekarang udah luwes jadi kakak.


Sedangkan aku, hatiku sekarang lagi rontok kayak ketombe. Udah ancur lebur, karena dia nggak ngenalin aku sebagai mana mestinya.


Jangan ditanya, mataku jelas udah berkaca-kaca. Rasa sakit hatinya berasa bertambah berkali-kali lipat karena sampai nggak dikenalin sama mas Liam.


"Kamu istirahat aja, nanti kakak akan sering kesini," ucap pak Raga. Mas Liam mengangguk, sedangkan air mataku udah nggak bisa lagi dibendung.


"Kakak pergi dulu, Liam..." ucap pa Raga, dia menarik aku keluar dari ruang perawatan mas Liam.


Sampai di lobby, aku melepaskan tanganku dari pak bos. Air mata udah merembes kemana-mana.


"Hikkkss..." aku nangis.


"Kalau mau nangis, nanti aja di mobil. Jangan disini. Nanti orang nyangkanya aku ngapa-ngapain kamu, Racheel?!" ucap pak Raga.


Tanpa persetujuanku, pak Raga ngegandeng tanganku menuju mobil. Di dalam mobil aku nangeeees lagi. Pokoknya air mata berasa nggak ada abis-abisnya. Pengen keluar aja semua, nyesek banget nih dada rasanya.


"Mau nangis berapa jam kamu? mobil saya bisa kena banjir lokal dadakan, kalau kayak gini caranya..."


"Bapak nggak tau, kalau saya lagi patah hati?! respect sedikit bisa nggak sih, paaak? aku tuh lagi patah hatii, huaaaaaaaaaa....?!" aku cengkram jasnya, aku pukul-pukul dadanya.


Bag bug bag bug?!


Dia menangkap tanganku, "Apa sih yang kamu pikirin? kamu itu lagi terikat perjanjian sama saya?! bisa-bisanya kamu suka sama laki-laki lain? dan itu adik saya sendiri?!!" pak Raga malah marah.


"Apaaaa?" aku melihat tajam ke arah pak Raga. Kedua mata kami bertemu.


"Kamu dilarang menjalin hubungan dengan siapapun, selama masih terikat perjanjian denganku mengerti? sekalipun itu hanya rasa suka yang kamu pendam sendir di dalam hati," ucap pak Raga.

__ADS_1


"Otak Bapak udah geser kayaknya ya, Pak..?"


"Saya tidak suka dibantah, Rachel...." ucap pak Raga membungkam pelan mulutku dengan tangannya.


__ADS_2