
"Sebenernya nggak usah repot-repot! tapi terima kasih kadonya," ucap Almeer di telepon.
"Kado? apa dia ulangtaun hari ini?" batinku.
Gerbang udah ngablak aja kebuka
Baru juga aku mau melangkah, ada suara orang lain lagi yang aku denger. Almeer nggak aengaja nengok ke belakang, dia mau nyapa aku tapi aku segera naruh telunjuk di bibirku. Aku berjalan mundur selangkah demi selangkah. Sedangkan Almeer nanya tanpa bersuara, 'ada apa?'. Tapi aku cuma kasih kode, buat mendekat.
"Mau saya dikasih berapa juta pun, saya nggak mau, Pak! saya nggak kuat gangguannya, maaf..." suara pria lain, dan aku hafal banget suara laki-laki ini.
"Gangguan? dia bicara gangguan?" aku mematung sejenak.
Aku aktifin perekam suara. Aku dan Almeer saling tatap. Aku tau dia bingung, aku cuma menggeleng. Karena sekarang, bukan saat yang tepat buat jelasin.
"Saya nggak mau, Pak! udah cukup, saya juga yang kena imbasnya, itu setan-setan juga ngumpulnya dimana coba? di kamar saya, selain pada menclok di pohon, di balkon. Pokoknya saya udah nggak kuat,"
"Tenang ajah, duit Bapak semua saya kembaliin, nggak apa-apa saya nggak dapet komisi juga. Daripada setiap hari saya ngeliat penampakan yang nggak lazim," ucap pria itu.
Aku suruh Almeer teriak, "Pakeeeet!"
"Yaaaaa, sebentaaaarr!" seru seorang pria yang bentar lagi kena gebug.
Ceklek!
Pintu kamar itu terbuka.
"Eheemm!" Aku dehem.
"Mbak Rachel?" mas Riski bingung.
"Perasaan saya dengernya pakeet, ya? kok mbak Rachel yang muncul?" gumam Riski.
"Masnya yang kang paketnya ya?" mas Riski menyadari kehadiran Almeer.
Aku naikin sudut bibir ke atas, nengok ke Almeer sebentar.
"Iya, dia kang paketnya! yang bakal ngirimin mas Riski ke kantor polisi!" ucapku, dan ku dorong mas Riski menerobos ke kamarnya, sampai punggungnya membentur tembok. Tanganku mencengkram lehernya.
"Racheeeelll!" teriak Almeer.
"Mbakkkk, mbakk kenapa?" mas Riski berusaha melepaskan tanganku dari lehernya.
"Rachel, lepasin dia Racheeeel!?!!" Almeer menangkap tubuhku dari belakang dan melepaskan tanganku dari mas Riski.
__ADS_1
"Awasss, biar aku cakarrrr-cakarrr nih oraaaang!!!!" aku berusaha melepaskan diri dari Almeer, sedangkan mas Riski terpojo
"Racheel, kamu kenapa? jangan kayak gini!" Almeer.
"Dia ini yang bikin aku tiap hari digangguin sama setan-setan tau, nggak!" ucapku sama Almeer.
Mas Riski menggeleng.
"Nggak usah ngelak! karena aku udah rekam pembicaraan kamu tadi di telepon!" ucapku tajam.
Lalu aku mencerirakan sama Almeer tentang apa yang aku alami di kosan ini, dan tentang batok kelapa berikut pak Hardi yang semalam kesurupan siluman monyet.
Dan Almeer pun melepaskan aku kemudia berjalan ke arah mas Riski.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Almeer beberapa pukulan mendarat ke badan mas Riski sampai dia terkulai tak berdaya.
"Ampuuun, Mas ammmpuuun! iya iya saya ngaku salah, iyaaaa" ucapnya pada Almeer. Dia melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Sedangkan penghuni lain keluar buat nontonin.
"Mau diapain nih orang?" tanya mas Almeer.
"Diiket aja dia di pohon rambutan! biar diserbu semut rang-rang dan kita gelitikin dia rame-rame sampe dia lemes!" ucapku ngasal.
Tapi nggak, kita nggak sejahat itu. Aku dan Almeer lebih milih mas Riski dibawa ke rumahnya ibu kos, biar dia diadili disana. Sementara Almeer langsung ngehubungin orang buat gantiin aku dan dia shift pagi.
"Makasih ya, Mas! sorry banget kita lagi ada perlu!" ucap Almeer.
"Gimana?" aku penasaran
"Mas Wahyu sama Aldan mau gantiin kita masuk pagi, jadi kamu nggak usah khawatir. Urus aja orang ini sampai selesai" ucap Almeer yang ngantongin lagi hapenya. Aku ngangguk.
Dan disaat burung bercicit cuit di dahan-dahan pohon dan juga di atas genteng menyambut matahari, aku dan Almeer nyeret mas Riski buat ngadep bu Retno.
Beberapa kali aku ketok pintunya sambil ngucap salam, "Assalamualikummmm!"
Dan beberapa saat kemudian pintu terbuka, "Waalaikumsalam!"
"Loh, Rachel? pagi-pagi sudah kesini, ada apa?" ucap bu Retno
__ADS_1
"Masya Allah, Riski? kenpaa muka kamu bonyok begitu?" bu Retno heran dengan wajah Riski yang warnanya kaya ubi ungu.
"Dia habis dapet hadiah, Bu..." ucapku.
Dan bu Retno mempersilakan kami buat duduk, disitu aku menceritakan apa yang sebenernya terjadi. Kalau aku ini nggak sengaja nguping mas Riski lagi telpon-telponan sama seseorang. Aku juga nyodorin bu Retno sebuah rekaman suara mas Riski. Raut wajah bu Retno langsung berubah saat rekaman itu aku matikan.
"Kenapa kamu melakukan hal seperti ini, Riski? padahal ibu sudah menaruh kepercayaan yang besar sama kamu!" bu Retno menahan amarahnya.
"Katakan pada ibu, siapa orang yang menyuruh kamu buat melakukan ini dan apa tujuannya?"
"Ehhmm," mas Riski tpak bingung.
Braaakkkk!
Aku pukul meja pakai tangan, "Ngomong yang bener! jangn cuma ham hem hemmm! bikin emosi deh!" ucapku.
"Eh iya iya Mbak. Sebenernya yang nyuruh Saya itu pak Panji, adiknya bu Retno sendiri..." ucap mas Riski.
"Ck, jangan menuduh sembarangan kamu Riski. Mana mungkin adik saya melakukan hal seperti ini, jangan ngarang kamu Riski!" bu Retno marah.
"Saya nggak bohong, Bu. Ini kalau ibu nggak percaya," mas Riski membuktikan percakapannya lewat chat dengan pak panji. Dan bu Retno pun ngecek nomor yang ada di hape mas Riski.
"Kenapa? dia melakukan hal seperti ini?" ucap bu Retno.
"Pak Panji pernah bilang kalau dia sakit hati, soalnya ibu kalau dimintai pinjem duit nggak pernah ngasih!" ucap mas Riski.
"Terus kamu lagi, kenapa malah ngebantu adik saya itu! tuman kamu!" bu Retno nambahin geplakan di lengan mas Riski.
"Ya maap, Bu! saya khilaf, saya butuh duit bu, buat ngelamar Dhea, Bu. Tapi semua itu terlambat, karena saya udah keduluan orang," mas Riski nangis.
"Cuma saya nggak habis pikir, terus kenapa kamu bawa batok itu kemari kalau kamu memang disuruh sama Panji!"
"Saya nggak kuat, Bu! bukan hanya penghuni kosan yang lain yang diganggu, tapi saya juga bu. Malah banyakan nongol di kamar saya. Saya hampir nggak bisa tidur karena dapet gangguan terus! jadi waktu mbak Rachel nemuin itu ya, ya udah saya mending lapor sama ibu supaya batok itu pindah ke sini," ungkap mas Riski.
"Tapi jadi saya dan suami saya yang kena imbasnyaaaa!!!!" ucap bu Retno kesel.
Daripada dengerin mas Riski yang lagi dimarahin sama bu Retno, aku pun pamit pulang, " Berhubung pelakunya udah ketauan, saya pamit ya, Bu! Selanjutnya terserah ibu mau diapain nih orang," ucapku pada bu Retno.
"Terima kasih ya, Racheeel. Kamu udah bantu ibu nemuin siapa pelakunya. Dan ternyata semua di luar dugaan!" ucap bu Retno.
"Kalau begitu, kami permisi," ucapku pada bu Retno.
Aku dan Almeer pun pergi meninggalkan rumah ibu kosku dan kembali ke kosan Alam Indah.
__ADS_1