Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Ludes


__ADS_3

"Dia dimana, Mbak?" Aku nanya lagi.


"Ehm, Mas Bram lagi di luar kota seminggu ini, urusan kerjaan..." jawab mbak Gita.


"Selama Nay dirawat disini? dia belum pulang? belum liat keadaan anaknya?" tanyaku pada mbak Gita.


Mbak ku itu ngangguk, "Bukan salah mas Bram, kerjaannya nggak mungkin ditinggalin karena perintah langsung dari atasan. Lagipula, Nay masuk rumah sakit seyelah mas Bram berangkat. Nay seperti ini juga karena mbak yang nggak becus ngurusnya, Dek..."


"Mbaaaaak, mbak jangan ngomong kayak gitu..." aku ngusap air mata yang lolos dati kedua matanya.


"Mbak yang nggak bisa ngasih makanan yang bergizi buat Nay," tangis mbak Gita pecah.


"Kan aku udah kasih mbak uang. Pakai aja buat kebutuhan mbak sama Nay. Aku kan udah bilang, pakai aja mbaaak..."


"Maaf, Dek. Uang yang kamu kasih itu udah abis..."


"A-apa? a-bis? hmm," aku bingung harus bereaksi seperti apa. Karena jujur aja, uang yang terakhir aku kasih ke mbak Gita nominalnya lumayan gede. Ibarat kata buat makan mbak Gita sama Nay sebulan aja udah lebih dari cukup kok.


"Maaf, Rachel. Mbak terpaksa gunain uang dari kamu itu untuk bayar cicilan kartu kreditnya mas Bram yang udah numpuk. Mbak udah beberapa kali di datangi dept collector." Ungkap mbak Gita.


"Sekali lagi mbak minta maaf, Racheeel. Mbak emang bisanya nyusahin kamu aja," lanjutnya.


Ya ampun ya ampun, kepalaku mendadak ngeliyeng mendengar penuturan dari mbak ku yang eheemmm bucin banget sama suaminya. Ini mah kayak aku yang kerja keras buat ngebayarin foya-foyanya si Bram semelekete itu, kurang uaajyaar tuh laki-laki.


"Maaf ya, Dek. Kamu pasti kecewa banget sama mbak..."


"Kecewa pastinya mbak! bukan masalah duitnya, masalahnya kenapa mbak masih ngurusin orang nggak tau diri kayak gitu, mbaaaakk? ya ampuuuun..." aku pegang kedua bahu mbak Gita.


"Mbak cuma mau mempertahankan pernikahan ini, Rachel. Karena perbuatan yang halal tapi dibenci oleh Allah itu ya perceraian," ucap mbak Gita.


"Iya, Mbak iya! tapi suamimu itu udah dzolim sama istri dan anaknya, dan orang kayak gitu nggak pantes buat dipertahanin, Mbak!" aku emosi, tapi sekuat tenaga buat ngejaga intonasi supaya Nay nggak kebangun.


"Terus, ini uang buat rumah sakit Nay udah ada?" tanyaku pada mbak Gita.


Mbak Gita menggeleng, dan itu sudah kudugong sebelumnya. Dan kepalaku sekarang nyut-nyutan, tabunganku udah ludes. Terakhir duitku ya yang aku kasih ke mbak Gita.

__ADS_1


"Kenapa mbak nggak cerita kalau Nay dirawat? kalau aku nggak ke rumah, pasti aku nggak tau kalau keponakanku lagi sakit kayak gini?!" aku gemes banget sama mbak Gita


"Mbak cuma nggak mau ngerepotin kamu, Dek,"


"Terus mau nunggu mas Bram yang nggak!tau pulangnya kapan? iya? pinter banget kamu, Mbak!" ucapku menohok. Aku sengaja ngomong gini biar mbak Gita bisa mikir. Kalau apa yang dilakukan dia saat ini tuh salah.


"Iya, Dek. Mbak tau mbak tuh bego banget!" mabk Gita menutup wajahnya dengan tangan.


"Udah jangan nangis! kita saudara, Mbak. Bagaimanapun aku bakal bantuin Mbak. Mbak nggak sendirian," aku memeluk mbak Gita.


Aku kasih kekuatan buat kakaku yang bego dengan kebucinannya. Tapingimana aku bantu mbak Gita, sedangkan aku aja udah jobless mulai hari ini.


"Udah jangan nangis lagi, Mbak. Aku mau tanya ke bagian administrasi. Aku mau ngecek tagihan rumah sakit udah sampai nyentuh angka berapa," ucapku melepaskan mbak Gita.


"Nanti aku balik lagi..." lanjutku.


Aku bergerak ke arah ranjang Nayla, aku mencium keningnya sekilas.


"Tante keluar dulu ya, Nay..." lirihku.


"Gilaaaakk! udah sampe 10 juta?!!!!" teriakku dalam hati. Aku terkejut saat melihat biaya rumah sakit Nayla sampai hari ini


Dua lembar kertas yang mampu bikin aku nangis karena ngeliat nominal yang harus dibayar dalam waktu dekat.


"Makasih ya, Mbak...!" ucapku pada petugas administrasi. Aku pun keluar dari itu.


"Apa Nay nggak punya asuransi atau semacamnya?" gumamku melihat lagi kertas yang aku pegang.


Dan tiba-tiba aja ada chat dari mas Andri. Dia bilang dia baru aja transfer sisa gajiku sebagai asisten pak Raga. Lantas aku balas chat mas Andri dan bilang makasih.


"Raga..." gumamku menyebut nama pria yang membuat hatiku berdenyut nyeri.


Aku menghela nafas panjang, " Hemmm huuuffh, bukan waktunya aku mikirin pak Raga, Racheeel..."


Tanganku beralih merogoh hape, kertas tadi aku simpen ke dalam tas. Jariku mengusap-usap layar benda pipih yang lagi aku pegang, aku cek m-banking. Dan ternyata ada saldo 16 juta. Sisa uangku dalam tabungan cuma sejuta, itu artinya mas Andri transfer 15 juta dengan rincian magabut 2 minggu. Sebuah angka yang gede buat aku, apalagi dalam keadaan kepepet seperti sekarang ini.

__ADS_1


Aku nggak langsung ke kamar Nay, tapi aku turun ke bawah buat ambil duit. Seenggaknya mbak Gita bakal tenang kalau ditangannya udah ada uang.


Setelah ngambil segepok uang, aku naik lagi. Balik ke ruabg rawatnya Nay.


Aku ketok pintu dulu sebelum masuk, dan mbak Gita masih duduk di sofa.


"Mbakk..." aku duduk di samping mbak Gita.


"Tadi dokternya udah visit, katanya besok Nay udah boleh pulang," ucap mbak Gita.


"Alhamdulillah kalau gitu. Oh, ya ... ini ada uang buat bayar administrasi rumah sakit, sisanya bisa mbak pakai buat makan dan buat keperluan yang lainnya," aku kasih mbak Gita semua yang ada di tabunganku.


"Nggak, nggak! ini duit kamu, Chel..." mbak Gita mau balikin lagi uangnya.


"Udah mbak, terima aja. Mbak lagi butuh juga kan? ini bukan hutang jadi mbak nggak usah kepikiran gimana cara ngegantinya," ucapku pada mbak Gita.


"Makasih ya, Dek..." mbak Gita meluk aku.


"Mbak malu sama kamu, Rachel. Mbak malu..." lanjutnya.


"Jangan kayak gitu, Mbak. Kita ini saudara, wajib buat aku bantu mbak Gita..." ucapku nenangin mbak Gita.


Padahal dalam hati ada rasa khawatir, karena duit tinggal 500 rebu, mana harus bayar kosan juga. Kepalaku cenat-cenut seketika.


Malam ini aku sengaja nginep di rumah sakit, sengaja biar mbak Gita bisa tidur dan gantian akunyang jagain Nay, kalau-kalau tuh bocil bangun dan pengen sesuatu.


Sampai jam 11 malem aku belum tidur, aku sibuk ngeliatin foto di hape.


"Fotonya kurang bagus! cuma ada dua jepretan dan dua-duanya akunya nggak bagus. Ck, dasar bos gendeng!" ucapku dengan tawa getir.


Aku matiin lagi hapeku dan sekarang gantian liatin Nayla, "Kalau Tante bisa, mending kamu tinggal sama tante aja, Nay. Tante nggak tega liat kamu kayak gini, dan kamu nggak harus liat papa kamu yang boros itu!" gumamku sambil ngelus tangan Nay.


Lagi fokus sama Nay, tiba-tiba ada satu panggilan ke hapeku.Takut Nay bangun, aku segera angkat telepon itu tanpa ngeliat nomor siapa yang masuk.


"Halo?" sapaku setengah berbisik.

__ADS_1


__ADS_2