Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Mati Suri


__ADS_3

Kita berdua sekarang berdiri di samping tubuh mas Liam yang sudah terbujur kaku.


"Liam, maafkan kakak Liam..." pak Raga mengambil tangan dingin mas Liam dan mengelusnya pelan.


"Maafkan Kakak yang sudah mengabaikan kamu selama ini, bahkan ketika arwahmu mengikutiku kemanapun aku pergi. Maafkan Kakak, yang tidak pernah menjenguk kamu disini. Maafkan Kakak, Liam..." ucap pak Raga.


Dia kini menekuk kakinya, sedangkan tangannya tak lepas dari mas Liam.


"Bangun Liam, bagaimana aku bisa mengatakan ini pada Eyang. Dia pasti akan sangat terpukul mendengar kabar duka ini bangunlah Liam. Maafkan Kakak Liam," pak Raga terus saja bicara.


Aku baru kali ini melihat sosok pak Raga yang biasanya cuek dan dingin, sekarang begitu rapuh.


Aku berniat pergi, ngasih waktu buat pak Raga menumpahkan segala rasa penyesalannya. Tapi baru aja aku melangkahkan kaki, tangan pak Raga menangkap tanganku.


"Jangan pergi, temani aku disini " ucapnya lirih.


Aku pun berbalik lagi, berdiri di samping pak Raga yang sedang berlutut di samping ranjang mas Liam. Air mataku nggak bisa terbendung. Dia mengalir semaunya, hanya mulutku yang sesekali menghela nafas. Mencoba melonggarkan apa saja yang membuat sesak di dada.


"Aku tidak tau apa yang akan kamu lakukan dengan Liam saat itu, tapi yang aku tau kamu akan menanggung resiko yang sangat besar jika mentransfer energimu pada Liam," ucapnya, dia melepaskan tangan Liam dan menyeka air matanya dengan punggung tangannya sendiri.


"Apapun itu asalkan bisa menolongnya, aku rela..." ucapku.


Pak Raga bangkit dan menatapku dengan penuh tanda tanya.


"Setidaknya sampai dia bisa menyampaikan kebenaran itu pada anda, Pak..." ucapku lagi.


"Dia begitu mengkhawatirkan anda, begitu menyayangi anda, sosok adik yang sangat menyayangi kakaknya..." aku berusaha untuk tidak menangis saat mengatakan ini.


"Iya aku tau. Aku yang jahat, aku pantas dihukum," ucap pak Raga.


"Bahkan aku mengacuhkan kehadirannya, tidak memberinya kesempatan untuk bicara..." lanjutnya.


Aku mengambil tangan mas Liam yang dingin dan menggabungkannya dengan tangan pak Raga. Tangan kami bertiga saling bersentuhan.


"Menjadi saudara bukan berarti harus berasal dari satu rahim yang sama, atau berasal dari satu darah yang sama..." ucapku.

__ADS_1


"Kalian akan menjadi saudara selamanya, menjadi kakak dan adik di kehidupan ini ataupun di kehidupan selanjutnya..." lanjutku dengan penuh haru biru.


Dan ketika aku mengucapkan itu, perlahan aku merasakan pergerakan dari tangan mas Liam. Aku dan pak Raga saling tatap.


"Rachel, apa kamu merasakan itu?" ucap pak Raga.


Aku mengangguk, "Ya..."


Pak Raga melepaskan tangan kita bertiga, dan melihat satu tarikan nafas dari mas Liam.


"Dia kembali, dia kembali...?!" seru pak Raga.


"Tetap disini, aku akan panggil dokter?!" ucap pak Raga sebelum berlari keluar.


"Mas Liaam? apa kau benar-benar kembali?" aku melihatnya nggak percaya. Baru satu jam yang laku divonis meninggal, dan sekarang dia kembali lagi.


Aku mengecek nadi di tangannya, "Alhamdulillah, Allahu Akbar...?!" aku berucap syukur dengan suara yang bergetar. Aku nggak percaya dengan mukjizat ini.


Dan nggak lama team medis datang dan menyuruh kami berdua untuk keluar ruangan.


Dia mbalas pelukanku, bahkan aku merasaka tangannya mengelus lembut kepalaku.


"Mungkin Tuhan ingin memberiku kesempatan kedua untuk memperbaiki hubunganku dengan Liam," ucap pak Raga.


"Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," ucapnya lagi.


"Ehem, permisi, Tuan ... Nona..." ucap dokter. Aku dan pak Raga melepaskan pelukan kami.


"Bagaimana kondisi adik saya, Dokter?" tanya pak Raga. Aku sangat senang pak Raga menyebut mas Liam adiknya.


"Pasien mengalami kondisi langka yaitu kondisi dimana fungsi jantung dan pernafasan yang sempat terhenti kemudian berfungsi kembali, semua ini bisa terjadi atas kehendak dan kuasa Tuhan. Dan untuk beberapa jam ke depan, Tuan Liam berada dalam pantauan kami. Maka dari itu, untuk sementara waktu tuan Liam tidak bisa dikunjungi. Kami akan memindahkannya ke ruang ICU, anda hanya bisa melihatnya dari kejauhan," ucap dokter.


"Apapun itu lakukan saja, Dok!" ucap pak Raga.


"Baik kalau begitu, permisi, Tuan..." ucap Dokter.

__ADS_1


Dan aku melihat mas Liam di pindahkan ke ruangan yang berbeda. Aku dan pak Raga mengikuti kemana mas Liam.


"Anda tidak boleh masuk, Nona..." ucap perawat mencegah aku buat masuk, dia menutup pintu ruang ICU.


"Biarkan Liam disana, dia akan dipantau 24 jam oleh team medis..." ucap pak Raga.


"Tapi---"


"Dia akan baik-baik aja, kita tunggu saja disini," ucap pak Raga yang mengarahkan aku buat duduk yang ada di depan ruang ICU.


Kita berdua nggak ada yang ngomong. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Disatu sisi aku seneng mas Liam bisa hidup lagi, tapi disisi lain hatiku rasanya mencelos mengingat janji yang sempat aku ucapkan. Seandainya mas Liam bisa hidup kembali, maka aku akan berada disisi pak Raga. Padahal yang sekarang yang ada di hatiku ya mas Liam, tapi demi janjiku itu aku harus menepis rasa cinta yang baru juga mampir beberapa hari.


Aku menengok melihat sosok yang biasanya galak dan suka ngatur itu.


"Kenapa aku bisa ngucapin kalimat itu, kenapa nggak yang lain? misalnya kalau mas Liam bisa hidup kembali aku bakal jadi temen yang baik buat dia kek atau apa kek, kenapa harus berurusan dengan pak Raga. Astagaaa..." aku menoyor kepalaku sendiri.


"Kamu kenapa Rachel?" tanya pak Raga.


"Tidak ada. Saya hanya sedikit pusing," ucapku berbohong.


"Bersandarlah," pak Raga meneouk bahunya.


"Tidak usah, Pak.."


"Bersandar saya bilang?!" pak Raga mekso, dia dorong kepalaku ke bahunya.


Mungkin karena capek, aku merasakan kepalaku pusing banget. Aku dan pak Raga sengaja menunggu disini, sampai kondisi mas Liam bisa stabil. Kita nggak mau kehilangan mas Liam buat kedua kalinya.


Beberapa kali aku bisa ngerasain kepala pak Raga anjluk-anjlukan. Mungkin dia ngantuk banget, karena setauku hari ini dia ada ada pertemuan penting di singapore. Tapi entah bagaimana caranya, dia bisa muncul nemuin aku disini. Dan itu mungkin yang bikin pak Raga sekarang capek dan ngantuk.


Aku yang semula bersandar di bahunya sekarang aku arahin kepala pak Raga buat bersandar di bahuku.


"Jadi biangkerok sekaligus penyakit dalam keluarga pak Raga itu tante Mella, tapi tujuannya apa dia bikin isu-isu yang nggak bener, sampai memercikkan api kebencian diantara pak Raga dan Mas Liam?" batinku bertanya-tanya.


Sekarang waktu menunjukkan pukul 2 dini hari dan kita berdua, satu-satunya manusia yang duduk disini. Aku nggak nyaman nunggu disini, tapi aku nggak mungkin beranjak sebelum aku memastikan keadaan mas Liam sudah lebih baik dan nggak ada sesuatu yang mengkhawatirkan.

__ADS_1


Aku memejamkan mata saat beberapa makhluk halus mulai berseliweran di depan kami.


__ADS_2