
Hari ini aku diajari sama Almeer apa aja yang harus aku lakuin sebagai pegawai baru. Dari beres-beres meja sampai caranya bikin kopi. Pokoknya seharian ini aku masih tahap adaptasi, paling kalau angkut-angkut gelas atau cangkir kotor dan beresin meja mah aku sat set sat set, nggak usah disuruh.
Sedangkan Nayla, anteng duduk. Dan setelah jam makan siang, Nayla istirahat di satu ruangan yang ada loker buat nyimpen tas karyawan dan ada sofa nya gitu. Itu ruangannya deket counter, tempat aku jaga. Jadi aku pastiin kalau Nay aman.
Disini ada dua shift, pagi dan sore karena kedai ini buka sampai jam 10 malam. Tapi buat sementara waktu aku masuk shift pagi dulu aja, itu kata Almeer.
"Udah jam istirahat, kamu makan dulu aja. Kedai biar aku yang handle," ucap Almeer.
"Tapi aku nggak enak, disini kan ada pekerja lain juga, mereka belum istirahat masa iya aku si anak baru main istirahat duluan," jawabku.
"Kasian Nay, pasti udah laper dia. Udah kamu istirahat aja..." Almeer memutar badanku, aku disuruh pergi buat makan siang.
Aku menengok ke belakang sebentar, "Ya udah aku duluan ya?" ucapku. Almeer ngasih satu senyuman buatku.
Setelah itu aku menghampiri Nay, dia lagi sibuk sama crayon dan buku gambar.
"Sayang, kita makan siang dulu yuk?"
"Sebentar, Tante..." Nay melanjutkan mewarnai bunga terakhir sebelum dia menutup bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.
Aku ngajak Nay keluar, aku lihat ada salah satu makan cepat saji yang dekat kedai yang bisa dijangkau dengan jalan kaki. Tangan kecil Nay aku gandeng, dan saat kita udah hampir sampai aku baru inget kalau aku belum menghubungi mbak Gita.
"Nanti aku telfon deh," gumamku dalam hati.
Hawa dingin langsung menyapa kulitku yang panas kena matahari saat aku masuk restoran cepat saji. Restoran yang waktu itu datangi beli makanannya pak Raga. Aku menggeleng mengusir bayangan wajah pak Raga.
"Nay pengen makan apa?" aku menekuk salah satu kakiku di lantai, mensejajarkan tinggiku dengan Nay.
"Yang ituu..." Nay nunjuk salah satu menu yang berhadiah mainan di layar touch screen super besar.
Dan ketika aku berbalik...
Mataku bertabrakan dengan sepasang bola mata yang aku rindukan. Beberapa detik kami saling pandang, namun detik berikutnya pandangan itu terputus.
"Jika sudah, bisakah anda bergeser?" ucap pak Raga datar, seakan kita berdua bukan orang yang saling mengenal.
__ADS_1
"Ah, ya. Tentu..." ucapku yang mengambil standing number dan beralih ke counter, karena pilihanku pembayaran dengan uang tunai.
Setelah menyelesaikan pembayaran aku duduk di tempat yang masih kosong. Sedangkan mataku sekali-kali mencuri pandang pada satu pria tegap yang masih mengusap layar besar buat milih makanan.
"Kayak bukan pak Raga. Pak Raga mana mau beli makanan sendiri, apalagi harus nunggu atau antri," aku bergumam dalam hati.
Perhatianku lalu teralihkan dengan bunyi yang berasal dari hapeku.
"Ya, halo? Mbak Gita?"
"Maaf, Dek. Bisa nggak nanti kamu anterin Nay ke rumah sakit?"
"Mbak Gita sakit?" aku balik nanya.
"Bukan Mbak tapi mas Bram,"
"Hadeeuh, ngapain diurusin sih, Mbak? Biarin aja napa?!" aku gemes banget sama mbak Gita.
"Ya udah, nanti aku anterin Nay kesana! Tapi kalau nanti Nay nggak mau ketemu sama Bram Brem jangan dipaksa ya? kasian..."
Aku menutup panggilan teleponku dengan mbak Gita berbarengan dengan pesananku yang udah dateng dan tersaji di meja.
"Silakan, Kak..."
"Makasih, ya?" ucapku pada mbak-mbak yang nganterin makanan.
Aku menyuapi Nay makan, sambil melirik ke arah jam tangan. Tinggal setengah jam lagi istirahatku selesai. Nggak jauh dari tempat kami makan, aku bisa ngeliat pak Raga yang juga lagi nunggu makanannya dianterin.
"Jangan diliatin terus Rachel, dia aja nggak ngenalin kamu?!" batinku.
"Liatin aja mumpung ada, bukannya kamu kangen?" ucap sisi diriku yang lain. Aku menggeleng, mengusir kedua pikiran yang saling bertentangan.
Fokus nyuapin Nayla, aku sendiri malah jadi nggak makan. Aku cuma sesekali nyeruput minuman. Makananku sama sekali nggak tersentuh sama sekali. Sedangkan Nayla, makan sambil memegang mainan yang didapet dari paket makanannya.
Aku diburu waktu, setelah Nayla selesai makan aku minta buat makanan yang belum sempet dimakan itu bisa di-packing buat take away.
__ADS_1
Aku ngelapin mulut Nayla pakai tisu, "Kita balik ke kedai kopi lagi ya?" ucapku yang pakai topi dan seragam serba hitam ditambah kacamata yang membingkai mataku.
Jam istirahatku tinggal 10 menit lagi, jadi aku harus bergegas balik buat kerja lagi. Sedangkan untuk terakhir kalinya aku ngeliat pak Raga yang lagi makan burgernya, dia sama sekali nggak peduli. Dia fokus aja sama makanan dan hapenya.
"Kamu kenapa sebenernya? Kamu diguna-guna apa gimana? kamu jadi orang yang sangat berbeda," gumamku sebelum pandanganku berakih pada Nay.
Kali ini aku gendong Nay, kasian dia capek kalau harus jalan kaki. Tapi di saat kita lagi jalan aku liat ada anak yang ngikut ibunya mulung di tempat sampai. Lantas aku berhenti.
"Dek, ini kakak ada makanan buat kamu..." ucapku sambil ngasihin makananku yang udah di-packing rapi, aku juga nyelipin uang seratus ribu buat anak itu.
"Makasih, Kak..." ucap si gadis kecil.
Dan ibunya yang lagi ngumpulin botol bekas pun, sempet nengok ke aku sambil bilang makasih juga.
Nggak tau rasanya makclekit gitu ngeliat keadaan orang yang jauh dibawah aku. Aku yang merasa bahwa akulah yang paling merana. Ternyata nggak, ada orang yang jauh merasakan penderitaan dan kesusahan daripada aku.
"Maaf, Mas. Lama..." ucapku pada Almeer setelah sampai di kedai. Lumayan rame nih yang ngopi siang ini.
"Nggak apa-apa, santuy aja kali. Oh ya, besok sore aku bisa liat motor? soalnya temenku nggak bisa ngecek langsung," tanya Almeer, dia lagi bikin cofee latte buat pelanggan.
"Boleh, boleh. Nanti ketemu dimana? kasih tau aja..."
"Di kos kamu aja, aku cuma mau liat body motornya," sahut Almeer.
"Oh ya, tolong ini dianter ke meja 26 ya?" kata Almeer ngasih dua cangkir hot cofee latte dan dua soft cake rasa mocca.
"Nay duduk disini dulu ya? Tante mau kerja lagi," aku kasih kursi buat Nay duduk di depan mesin pembuat kopi.
Aku ambil nampan dari tangan Almeer dan mulai berjalan ke meja 26.
"Silakan, Tuan..." ucapku ketika meletakkan semua pesanan di meja.
Dan ketika aku melihat ke arah salah satu pria ini, aku sangat terkejut karena yang aku temui seseorang yang sangat familiar.
"Dia...?" gumamku dalam hati.
__ADS_1