
Baru kali ini kan setan dicariin sama manusia. Ups, maksudku bukan setan tapi sebuah entitas yang mirip mas Liam. Ya, aku duduk di sini makan sama Tristan gunanya buat nyari info tentang mas Liam yang merupakan adik pak Raga.
"Nggak enak makananya, Chel?" tanya Tristan.
"Enak kok, Tan..."
"Kalau enak kenapa makannya cuma dikit? atau kamu mau kita pindah resto? disekitar sini ada resto khas timur tengah juga loh, katanya sih enak, tapi aku belum pernah coba. Kalau kamu mau kita melipir kesana," Tristan nawarin.
Aku menggeleng, "Disini aja, Tan. Makanannya enak kok, cuma mungkin karena habis sakit jadi selera makanku belum kembali," aku ngeles.
"Untung pak Raga punya asisten satu lagi yang ngurusin kerjaan ya, coba kalau nggak? bisa dibayangin akunya sakit dan pak Raga harus urus semua sendiri," ucapku mancing mulut embernya Tristan.
"Kamu salah, asisten pak Raga tuh bukan satu tapi tiga,"
"Tiga?"
"Iya tiga sama kamu. Itu juga kalau belum ganti ya, soalnya selama ini kan kalau kerjaan salah dikit aja, langsung dipecat sama pak bos. Makanya asisten dia suka ganti-ganti kecuali yang cowok tuh, siapa ya namanya? ehm, kalau nggak salah---"
"Liam?"
"Bukan kalau Liam mah dulu banget, kalau sekarang mah orangnya udah ganti. Kalau aku nggak salah namanya Andri. Dan kalau yang cewek itu namanya Arsinta," ucap Tristan.
"Kok kamu tau Liam?"
"Ah, aku? pernah ketemu sekali aja. Tapi kayaknya udah nggak pernah muncul lagi, kabarnya sih dia sakit tapi nggak tau sakit apa dan dirawat dimana,"
"Sakit? aku malah baru tau kalau dia sakit..." ucap Tristan.
Aiihhh, Tristan baru tau kalau mas Liam sakit. Itu berarti pengorbanan aku buat makan malam kali ini sia-sia dong ya.
Aku mutar otak biar bisa cepet pulang dan mikir lagi gimana caranya aku bisa nemuin mas Liam di rumah sakit.
"Chel ... kenapa rambut kamu pendekin lagi?" tanya Tristan tiba-tiba.
"Oh iya. aku bosen,"
"Padahal kamu cocok dengan rambut panjang, lebih feminim" kata Tristan
Setelah selesai makan, Tristan mekso buat nganterin balik tapi ya aku ngeles lagi. Mau ketemu Amel abis ini. Soalnya ya bisa berabe kalau pak Raga bisa tau kalau aku ketemuan sama si Tristan.
Aku naik taksi duluan, setelah taksi mulai bergerak, aku baru inget kalau aku dikasih hape sama pak Raga yang isinya nomor orang-orang. Aku menelepon mbak Enjel.
"Halo? mbak Enjel?"
"Ya ada apa, Nona?"
__ADS_1
"Begini, Mbak? aku disuruh pak Raga buat jengukin mas Liam," kataku dengan pede.
"Kamu bisa kesini? kebetulan aku lagi di luar," lanjutku.
"A-ehm, iya. Saya segera kesana," ucap mbak Enjel sebelum panggilan terputus.
Aku minta taksi ini berhenti di depan sebuah minimarket, dan setelah nunggu beberapa saat akhirnya mbak Enjel dateng dan otomatis aku pindah ke mobil yang dibawa mbak Enjel.
Bersamaan dengan bergeraknya mobil ini, aku dapet panggilan dari pak Raga.
"Waduh, angkat nggak ya?" batinku. Tapi bodo amatlah aku lagi dalam misi menemukan mas Liam, dan aku nggak mau misi ini gagal.
Aku matiin aja nih hape. Aku tau mbak Enjel ngelirik dari kaca spion depan. Sepanjang perjalanan aku deg-degan, macam orang mau ketemu gebetan.
Setelah sekian lama bergelut dengan macetnya jalanan, akhirnya aku sampai juga di sebuah rumah sakit elit.
Dan mobil ini berhenti, "Udah sampai, Nona..." ucap mbak Enjel.
"Makasih, ya..." ucapku ramah. Tapi baru juga mau nyentuh handle dan mau buka pintu, mbak Enjel ngomong lagi.
"Dia ada di kamar 301, kamar khusus yang d menjadi tempat beristirahatnya selama ini," ucap mbak Enjel.
"Saya yakin, Nona kemari tidak atas perintah Tuan..." lanjut mbak Enjel.
"Ehm, itu---"
"Keluarlah, Nona. Ajak bicara Tuan, sekaligus ajak tuan untuk bangun di ditidur panjangnya..." ucap mbak Enjel.
"Iya, makasih, Mbak. Dan tolong jangan bilang pak Raga kalau aku kesini," ucapku.
"Siap, Nona..."
Aku keluar dari mobil dan berlari menuju loby rumah sakit. Setelah nanya ke bagian informasi, aku naik lift menuju kamar 301.
"Semoga kamu nggak kenapa-napa, Mas..." ucapku dalam hati.
Ting!
Lift kebuka dan sosok yang aku cari selama ini nongol gitu aja di depan pintu lift. Aku yang melihat itu langsung manggil, "Mas Liaaam?"
Tapi mas Liam bersikap acuh. Dia tersenyum sekilas lalu mlengos aja minggalin aku.
"Tungguuuu...?!!" aku ngejar mas Liam. Dan meraih tangannya yang pucat.
Kita berhenti tepat di kamar 301.
__ADS_1
"Mas Liam, kenapa ngilang gitu aja? aku salah apa?"
"Nggak, kamu nggak salah apa-apa..." ucap mas Liam, dia masih nggak mau ngeliat aku.
"Hanya tubuhku sekarang semakin lemah, jadi aku nggak bisa pergi dengan leluasa seperti sebelumnya," lanjutnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" aku nanya. Mas Liam ngelepas pegangannya dariku, dia menembus pintu.
Sedangkan aku yang nggak mau kehilangan mas Liam, nyusul dia dan...
Braaakk?!!
Aku kejedot puntu kamar.
"Iiisshh, kenapa juga nih pintu nggak ngebuka!" aku geplak daun pintu sebel aku tarik handlenya.
"Ssshhh, huuuh, sakit?!" aku usap jidat pakai rambut, biar nggak jadi memar.
Aku liat laki-laki yang terbujur kaku dengan banyaknya selang-selang yang menempel di badannya.
"Mungkin waktuku nggak akan lama lagi," ucap mas Liam versi tembus pandang.
"Nggak, Mas. Kamu bakal baik-baik aja. Kamu bakal bisa sadar lagi, aku bakal mengusahakan itu," ucapku dengan penuh keyakinan.
"Dokter terbaik sudah didatangkan dari seluruh penjuru negeri dan alat tercanggih sudah aku pakai, tapi nyatanya kondisiku semakin lemah..." jelasnya.
"Aku nggak tau seberapa lama kamu berada di tempat tidur itu, tapi aku yakin kalau kamu bakal bangun lagi. Dan kita bakal ketemu secara nyata, Mas..." ucapku menunjuk Liam yang tertidur dengan alat-alat medis di badannya. Aku nggak bisa nahan air mata yang udah ngucur aja dari tadi.
"Rachel ... ijinkan aku mengucapkan sesuatu..." ucap mas Liam.
"Berjanjilah Rachel, kalau kamu akan jadi pasangan hidup buat kak Raga. Aku tau kak Raga sebenernya ada rasa sama kamu, tapi dia enggan mengakuinya. Kamu gadis yang baik, kamu nggak mata duitan, dan kamu layak bersanding dengan kak Raga. Jadikan yang pura-pura menjadi nyata, kamu bisa kan Rachel?" lanjutnya.
Aku menggeleng, "Tapi...."
"Walaupun aku juga mulai menyukaimu," ucap mas Liam.
Aku nggak percaya kalau mas Liam suka sama aku, ada rasa yang emmbuncah mendengar itu.
"Aku juga---"
"Tetaplah bersama kak Raga, apapun yang terjadi..." serobot Liam.
"Apa?"
"Tetaplah bersama kak Raga apapun yang terjadi, berjanjilah Rachel..." ucap mas Liam.
__ADS_1
"Setidaknya dengan itu aku akan pergi dengan tenang, dan sampaikan salamku untuknya. Aku menyayanginya seperti kakak kandungku sendiri," ucap Liam.
"Apaaa? maksudnya?" aku terperangah dengan apa yang diucapkannya.