Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Perintah Pak Raga


__ADS_3

Pak Raga melihatku tajam, "Kamu masih--"


"Saya sudah sehat kok, Pak?!" aku nyerobot ucapan pak Raga.


"Jangan memaksakan kondisi,"


"Saya tidak maksa, Pak. Saya memang sudah sehat, nih kalau perlu saya bisa peragain roll depan belakang atau mungkin kayang? semua jenis senam lantai saya bisa, Pak?!" ucapku, aku pengen banget ketemu sama mas Liam. Kita udah khawatir banget sampe kebawa mimpi segala loh.


"Liam belum bisa dikunjungi,"


"Tapi bisa diliat dari jauh kan, Pak?" aku maksa.


"Kenapa sepertinya kamu ingin sekali melihat Liam?" tatapan pak Raga dalem dan menusuk.


"Karena saya, saya khawatir dan pengen tau aja keadaannya seperti apa. Bagaimanapun mas Liam banyak membantu saya, meskipun waktu itu dia ada dalam bentuk lain," ucapku tulus.


Pak Raga menghembuskan nafasnya kasar sebelum bilang, "Kalau saya bilang jangan sebagai bentuk perintah sebagai bos pada asistennya---"


"Saya sakit, tidak dalam situasi kantor. Jadi perintah Bapak tidak berlaku saat ini..."


"Saya yang menggaji kamu, jadi saya berhak memberikan perintah apapun pada asisten pri-ba-di saya, walaupun di luar jam kantor. Ingat, saya sudah membayar kamu mahal untuk pekerjaan yang baru saja kamu jalani beberapa hari. Dan sekarang kamu sudah mau membelot dari perintah saya?" pak Raga mencondongkan badannya ke aku. Aku cuma kedip-kedip aja.


"Saya tidak jadi melihat Liam, saya mau istirahat saja disini. Lagipula saya sudah jarang sekali bersantai-santai," pak Raga negakin badannya lagi lalu mbalek ke sofa. Dia duduk aja santai.


"Oh ya, ada hubungan apa kamu dengan Tristan?" seru pak Raga, kita ngomong-ngomongnya jauh-jauhan. Dia dimana aku dimana.


"Tidak ada,"


"Tidak ada tapi makan malam bersama?" sindir pak Raga.


"Ya ampun ya ampun ya ampun, darimana dia bisa tau kalau aku habis dinner sama Tristan? semoga aja aku nggak dipecat hari ini kayak Arsinta. Roman-romannya pak Raga tipe yang nggak bisa dikibulin, huffh. Baiklah, mending aku jujur aja," batinku.

__ADS_1


"Kenapa, Rachel?" tanya pak Raga.


"Saya sama Tristan hanya sekedar teman kantor, Pak. Tidak lebih dan tidak kurang, pas segitu nggak bisa ditawar,"


"Kamu ngomong apa sih Rachel? tidak lebih tidak kurang? pas? apa nya yang pas?" pak Raga numpangin kaki kanan ke kaki kirinya.


Tangan dia lipet di depan dada. Walaupun dengan jarak yang lumayan jauh kayak gini, tatapan mata pak Raga bener-bener mengintimidasi.


"Bapak mending nonton piala dunia, Pak. Seru tuh pak, nonton langsung ke Qatar..." aku ngalihin pembicaraan.


"Saya tanya apa yang 'pas' Racheeeeel?" pak Raga gumus banget ngomongnya.


"Ya, saya intinya mah tidak ada hubungan yang spesial dengan Tristan. Kemarin cuma ditawari makan aja, Pak. Mumpung gratisan dan saya laper juga, ya udah saya terima. Tapi hanya sekedar makan malam, tidak lebih dan yidak kurang, pas aja segitu pak, tidak bisa ditawar juga..." aku merepet aja nggak ada titik nggak ada koma, bikin pak Raga pusing.


"Pusing saya ngomong sama kamu,"


"Alhamdulillah kalau gitu, Pak. Jadi saya nggak ditanya-tanya terus," gumamku lirih.


"Yang jelas, kamu dilarang menjalin hubungan dengan siapapun selama menjadi pacar saya, Rachel! dan sekarang saya larang kamu untuk pergi, entah itu makan malam, makan siang atau sarapan bareng Tristan dan semua yang tergolong dalam spesies laki-laki yang ada di bumi ini. Kamu mengerti, Rachel?"


"Kecuali saya Rachel kecuali saya. Catat itu di jidat kamu, biar kamu ingat!" kata pak Raga.


"Tapi jidat saya bukan papan tulis, Pak?!"


"Racheeeeeee...?!!!" pak Raga merong-merong.


"Nggiiiih sendiko dawuuuh, Bapakeeeeee...?!" aku ngatupin kedua telapak tangan .


Sedangkan pak Raga mijitin pangkal hidungnya, dia ngomong sendiri.


"Punya asisten pribadi bukannya ngurusin malah harus diurusin, ck ck sial banget aku?!!!" pak Raga nyenderin kepalanya di punggung sofa, matanya merem. Matanya yang sipit tapi kalau ngeliat orang bisa tajem setajem katana.

__ADS_1


Roman-romannya pak Raga kayaknya udah molor. Aku tuh pengen ngejenguk mas Liam, tapi kalau aku ngejenguk dia, ada resiko besar yang harus aku hadapi.


Pasalnya, satu langkah aja aku keluar dari ruangan ini, bisa-bisa surat pemecatan melayang nempel di jidat. Kayak ocong yang ditempelin duit sama pak Raga.


Bagaimanapun kita masih butuh duit, apalagi kakakku yang situasinya lagi nggak baik-baik aja sama suaminya. Minimal kalau aku punya duit banyak kan bisa ngebantu dia. Disitu aku galau parah.


"Ya udah lah, nanti juga aku bisa ngejenguk mas Liam. Daripada aku keluar diam-diam malah bangunin singa yang lagi ngorok, itu terlalu beresiko," batinku.


Daripada nungguin pak Raga yang lagi melayang ke dunia mimpi padahal hari masih pagi, aku nelfon Amel.


"Halo, Mel?"


"Hadeeuuuh, darimana aja, Neng? sombong syekaleh ya andah setelah sekian purnama baru nelfon akuuuuu?" Amel merepet aja.


"Heh, jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Aku nggak budek ya, Mel...?!"


"Kebetulan ya kamu nelfon, aku mau nanya-nanya sekalian. Emang bener kamu sam Tristan jadian?" tanya Amel.


"Aku sama Tristan? nggak lah?! ngawur...?! kepikiran pacaran aja belum, aku masih di bawah umur dilarang pacaran,"


"Dibawah umur? dibawah tiang kali?! yang ada kamu tuh udah bangkotan, Rachel..." ucap Amel.


"Kemarin kamu kenapa sih? naik lift aku panggil-panggil, suruh tahan liftnya aku mau ikutan naik, kok malah sengaja di tutup? aku kan jadi telat absen kemaren, hah, gagal lagi deh dapet uang kerajinan?!" ucap Amel.


"Kemaren?"


"Eh udah dulu ya, ada pak Hadi dateng. Bisa di SP aku kalau ketauan telpun-telpunan di jam kerja, caw?!" Amel nutup telfonnya secara sepihak.


"Amel ngomong apaan sih? kemaren? di kantor? lah kan aku udah nggak ngantor 2 minggu. Bisa jadi yang Amel liat bukan manusia tapi syaithon yang dengan pedenya nyamar jadi aku," aku bergumam sendiri.


Aku kira setelah balikin rambut sambung ke pemilik aslinya, terus udah kelar gitu aksi mistis yang mewarnai hari-hariku beberapa waktu terakhir. Tapi ternyata eh ternyata, si syetaan masiiih aja ngeganggu, masiih aja nongol. Kita tuh sampe bingung, kenapa setan-setan sekarang pada caper banget minta diperhatiin.

__ADS_1


Dan Amel, sempet nanya hubungan aku sama Tristan. Siapeee lagii yang nyebarin berita nggak bener kayak gitu. Pantesan aja pak Raga merong-merong. Kan aku masih terikat perjanjian kerja jadi pacar pura-puranya pak Raga, berabe kalau gosip nggak bermutu ini bisa sampai ke telinga Eyang Anti. Udah bisa dipastikan pak Raga bakalan murka sama aku.


"Aku harus mastiin langsung sama Tristan. Ini nggak bisa dibiarin," aku melihat kontak bernama Tristan.


__ADS_2