
Pagi-pagi, mas Wahyu bilang kalau aku disuruh masuk shift pagi. Dia nggak bilang kenapa, intinya aku disuruh secepetnya dateng ke kedai.
"Kenapa disuruh mendadak, aku kan ngertinya shift sore kayak kemarin!" ucapku yang mandi dengan super kilat.
Hari minggu loh padahal, aku juga masih pakai baju begini. Buru-buru aku pesen taksi online, buat ke kosan. Ganti baju dulu, nggak lucu kalau berangkat dengan kondisi kayak gini.
Seperti biasaaa aku selalu minta supirnya ngebut. Tapi alamaaaaak, ini hari minggu banyak jalanan di tutup karena car free day. Dan untuk itu aku turun di jalan buat jogging atau marathon lari lebih tepatnya.
Tadinya aku mau bilang sama mas Wahyu kalau aku nggak bisa kesana, tapi katanya aku bakal nyesel kalau nggak dateng secepatnya.
Udah punya firasat buruk, aku pun lari buat menuju kosan. Biasalah tawon ngang ngung ngang ngung bilang kalau aku kayak orang gila, jogging pakai piyama yang ditubruk sama sweater.
"Ada orang gila baru, gaeeees!" celetuk Mirna.
"Heeeeeh, Talk to my hand!" aku liatin telapak tanganku ke arah muka Mirna.
"Ckkk, berani-beraninya yaaaa!" Mirna merong-merong.
"Udah Mir, ketoprak kita keburu hambar!" ucap salah satu dari mereka.
Aku segera masuk ke dalam kamar meninggalkan Mirna and the bala-bala tawon.
Badanku lumayan kluncur keringet, bahasa kerennya gobyosss. Dan bikin aku nggak nyaman.
"Aarrrghh, harus mandi lagi!" aku ngeloyor ke kamar mandi. Ketemu air sama sabun seikhlasnya, terus aku cepetan pakai seragam dan dandan alakadarnya.
Saking buru-burunya aku nggak sengaja nyenggol kacamata dan...
Kreeeeekk!
Keinjek.
"Shiiiiitttt, tangkainya patah!" aku kesel banget.
"Oh ya, aku kan masih punya softlens!" Aku segera pakai soflens yang dulu pernah aku beli.
Terakhir, semprotan minyak wangi jadi sentuhan terakhir sebelum aku pergi ke kedai kopi.
Kali ini aku nggak naik kendaraan umum ataupun taksi, aku naik motornya Almeer.
Tapi tiba-tiba di tengah jalan, mas Wahyu nelpon, "Raaacheeelll? kamu dimana?"
"Di jalan lah, Massss!" jawabku setelah menepi.
"Kamu lama bangetttt! ayo cepetaaaan!"
"Ada apa sih, Mas? pak Chandra lagi sidak apa gimana?" tanya ku sama mas Wahyu.
"Nggak ada waktu buat jelasin, yang jelas cepetan kesiniiiiii!!!!" seru mas Wahyu yang main nutup telepon.
"Nggak biasanya mas Wahyu kayak cacing kepanasan kayak gitu!" aku kantongin hape lagi dan lanjutin perjalanan.
Aku nyari jalan lain menuju kedai. Beberapa panggilan aku abaikan, karena aku fokus nyetir. Aku sih nggak ngerasa melakukan kesalahan apa-apa kecuali kemarin yang aku tuker shift sama Aldan.
"Duuuh aku jadi deg-degan nggak.jelas kayak giniii..." batinku.
Dan dengan segala keahlianku nyari jalan pintas, akhirnya aku bisa sampai juga di kedai dengan selamat dan sentosa.
Aku parkirin motor dan segera masuk ke dalam.
"Mas Wahyuuu!" aku panggil mas Wahyu yang berhadapan dengan seorang laki-laki dengan setelan jas casual-nya. Bukan hanya mas Wahyu, tapi ada Aldan, Fatir, mbak Arni pada berjejer gitu.
__ADS_1
"Maaf saya, terlambat!" ucapku sopan. Tapi kalau dilihat dari belakang kayak bukan pak Chandra.
Dan seketika dia memutar badannya.
"Almeeeerrr?" gumamku melihat siapa pria yang ada di depanku saat ini.
Dia senyum.
Kemudian dia berbalik sedangkan aku mendekat lagi. Masih belum konek nih otak.
Almeer menyalami semua yang ada disitu, terakhir mas Wahyu memberi sebuah pelukan. Dia tepuk pundak Almeer
"Jangan nangis dong, Mas! malu sama umur!" ucap Almeer nyindir umur mas Wahyu yang paling tua diantara kita-kita.
"Sering kasih kabar ya, Al..." ucap mas Wahyu.
"Kasih kabar? emang Almeer mau kemana?" batinku.
Dan sekarang dia menatapku.
.
.
.
Kita duduk di salah satu meja. Kedai emang belum buka jadi, suasana masih sepi.
Aku celingukan takut ada pak Chandra, kan nggak sopan ya kita duduk di kurai pengunjung.
"Tenang aja, dia nggak akan berani marah," ucap Almeer.
Aku kasih senyuman tipis, "Sebenernya kamu itu siapa, Al?"
Aku hanya memandangnya lekat-lekat.
Menunggu apa yang akan dia ucapkan lagi.
"Aku kabur dari rumah. Ayahku ingin aku meneneruskan bisnis yang sama sekali aku nggak suka," ucap Almeer.
"Bukannya bagus kamu membantu bisnis orang tua,"
"Bisnis memata-matai orang?"
"Agen gas elpiji? eh maksudku, agen rahasia?" tanyaku.
Almeer hanya mengangguk.
"Tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa, ayahku sakit. Dan aku harus mengurus semuanya," ucap Almeer.
"Bukannya agen rahasia itu---"
"Ayahku membantu orang jahat!" serobot Almeer.
"Dan aku nggak suka itu!" ucapnya lagi.
"Tapi sekarang dia nggak bisa berbuat banyak. Mau nggak mau aku harus menghandle, tapi dengan satu syarat. Aku mau mengurus bisnisnya yang lain, kecuali bisnis kuntit menguntit!" ucap Almeer.
"Baguslah, artinya kamu punya prisip yang jelas. Aku bangga sama kamu," ucapku sama Almeer.
"Sekarang aku harus pergi,"
__ADS_1
"Kemana?"
"Ke salah satu negara yang jauh dari sini," ucapnya memberi teka-teki.
"Kedai ini sekarang milikku, jadi jangan terlalu takut dengan pak Chandra. Dia hanya membantu mengelolanya," lanjutnya, dengan senyuman kecil.
"Oh ya ini," ucapku memberi kunci motor pada Almeer. Dia menerimanya.
"Kamu ninggalin motor kemarin," sambungku.
"Siniin tangan kamu!" dia menarik tanganku.
Dan mengeluarkan satu benda dari saku jasnya, "Buat kamu!"
"Kunci motorku?" mataku membulat menerima kunci motor yang udah aku jual.
"Iya..."
"Bukannya motor ini udah dibeli sama teman kamu?" tanyaku mancing.
"Sebenernya aku yang beli motor kamu. Nggak ada orang yang nekat jual motor satu-satunya, kecuali dalam keadaan terpaksa. Motornya udah ada di depan, anggap aja hadiah dari aku..."
"Terima ya?" Almeer membuatku menggenggam kunci motorku.
Omong-omong soal hadiah. Aku belum kasih hadiah ulangtahun yang aku janjiin sama Almeer.
"Aku juga punya hadiah buat kamu!" ucapku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sebentar..." aku lari ke arah counter dan mengambil satu barang, aku menyembunyikannya di belakang badanku.
Aku duduk lagi dan minta dia ngulurin tangannya.
"Buka telapak tangan kamu," ucapku.
Almeer menurut, lalu aku buka spidol permanen dan aku tulis sebuah kata, friend.
Kemudian aku membuat telapak tangan Almeer menggenggam, "Aku hadiahkan persahabatan kita. Kemanapun kamu pergi akan ada satu teman yang menunggumu untuk pulang..." ucapku, dengan mata yang mulai memanas.
"Terima kasih," ucap Almeer, matanya merah.
Dan teesss!
Dia menteskan air matanya, Almeer bangkit dari duduknya.
"Boleh aku memelukmu sebentar, aebagai salam perpisahan?" ucapnya.
"Tentu..."
Aku berdiri dan menyambut pelukannya. Aku bisa merasakan tangisannya. Entah dia akan pergi kemana, berapa lama. Tapi yang aku rasakan dia sangat berat menjalaninya.
"Terima kasih untuk semuanya, Al. Dan maaf apabila ada janji yang belum aku penuhi," ucapku.
"Iya, Rachel. Oh ya, jaga dirimu baik-baik," ucap Almeer, sebelum melepaskan pelukan kami.
"Aku pamit..." ucap Almeer, dia melangkah keluar.
Bukan hanya aku, tapi semua pegawai disini menangis saat mengantar Almeer ke depan. Sekarang pria baik itu sudah masuk ke dalam mobil yang kini membawanya pergi jauh.
Kami semua kembali masuk ke dalam, dan satu suara memanggilku dari arah belakang.
"Rachel," panggil Eyang Anti.
__ADS_1
"Nyonya?" aku menunduk hormat.
"Saya mau bicara sama kamu," ucap Eyang kemudian.