
"Harusnya kamu tau betul batas jam makan siang," ucap pak Chandra tegas.
"Iya, Pak..."
"Kamu diterima disini atas rekomendasi, Almeer. Saya harap kamu tidak membuat dia dalam posisi sulit!" kata pak Chandra.
"Iya, Pak..."
"Situasi kedai saat ini sedang ramai, jadi saya harap hal seperti tadi tidak terjadi lagi. Sekarang kamu boleh keluar," pak Chandra menunjuk pintu dengan dagunya.
"Baik. Permisi, Pak..." aku bangkit dan mengangguk memberi hormart sebelum bangkit dan pergi meninggalkan ruangan pak Chandra.
Ternyata setelah di luar ada Almeer dan juga Fatir. Wajah mereka berdua cemas.
"Gimana, gimana? ngapain pak Chandra manggil kamu?" tanya Almeer nggak sabaran.
"Sini, Chell..." sekarang Fatir yang narik aku ke counter supaya menjauhbdari ruangan pak Chandra.
"Kenapa pak Chandra manggil kamu, Rachel?" tanya Almeer lagi.
"Nggak kenapa-napa, Al. Cuma---"
"Cuma apa?" kini Fatir yang nggak sabaran.
"Cuma dikasih tau kalau lain kali supaya lebih disiplin, gitu..." ucapku.
"Ehm, sebenernya bukan kita yang bilang loh. Tapi pak Chandra yang tiba-tiba aja nongol," ucap Fatir, dia mungkin takut kalau disangka tukang lapor.
"Iya, lagian aku juga yang salah. Nggak seharusnya aku dateng telat kesini, sedangkan kalian lagi kerepotan. Maaf ya," ucapku.
"Yang penting kamu nggak di SP kan sama pak Chandra?" tanya Almeer serius.
Aku menggeleng, "Nggak..."
"Ya udah kalau gitu, kita siap-siap pulang..." ucap Almeer.
"Kan belum ada yang gantiin?" aku ngeliat sekitar.
"Udah, mas Wahyu sama Ardan udah dateng," ucap Almeer.
Kita semua bubar, siap-siap buat pulang.
Setelah ganti baju atasan, aku keluar. Dan Almeer nyamperin.
"Aku kira kamu pingsan di dalem," ucap Almeer.
Aku senyum aja.
"Kita pulang yuk?" ajak Almeer.
"Kita?"
"Kamu lupa? hari ini aku mau ngecek motor?" Almeer berkacak pinggang.
"Oh iyaaaa..."
__ADS_1
"Ya udah yuk?" Almeer narik tanganku buat ngikutin dia.
Aku nggak tau apa yang aku rasain saat ini, yang jelas aku ngerasa jadi orang paling bego sedunia, karena udah ngorbanin waktu kerjaku demi mencemaskan orang yang nggak patut buat dicemasin.
"Chel....?" Almeer manggil.
"Ya...?"
"Kamu keberatan nggak kalau kita mampir makan dulu?" tanya Almeer yang lagi nyetir motor.
"Kamu belum makan ya dari siang?"
"Nggak sempet!" sahut Almeer.
"Pantesan cepet banget baliknya! ya udah, sekarang melipir dulu kek kemana. Soto ayam, soto betawi, soto lamongan, apa lagi tuh...."
"Harus yang anget-anget, soalnya kan udah kelamaan kosong tuh lambung! mau saingan kammu sama ikan kembung?" aku merepet.
"Kok ikan kembung sih?"
"Kebanyakan minum kan jadi kembung!" aku nyeletuk.
"Hahahhahahaha,"
"Receh banget ya?" aku tepok pundak Almeer.
"Makan soto ayam aja, mau?" tanya pria dengan bahu yang lebar ini.
"Boleh, aku mah apa aja masuk kok!"
Aku temenann sama Almeer berasa kayak aku dulu sama Amel. Hah, apakabar tuh bocah. Udah lama dia nggak telfon atau nge-chat. Ya mungkin kiya udah beda jalur. Makanya kita udah nggak intens berkomunikasi lagi.
Setelah 10 menit menyusuri jalan raya, akhirnya aku dan Almeer nemu warung soto.
"Disini, nggak apa-apa?" tanya Almeer.
"Nggak apa-apa," ucapku.
Kira turun dan mulai mesen soto ayam kuah bening.
Warung soto dengan bangunan sederhana yang pasti pas di kantong para pekerja seperti aku dan Almeer, tapi jangan salah. Warung ini terkenal kok, jadi banyak pengunjungnya apalagi di jam makan siang. Kalau nggak cepet-cepetan bakal nggak kebagian tempat.
"Silakaan, Mas ... Mbaaak!" si pelayan pria menghidangkan dua mangkok soto yang masih ngebul di atas meja. Dan nggak lupa dengan dua gelas es jeruk yang pasti seger banget di tenggorokan.
"Makasih, Mas!" ucapku pada si pelayan.
"Hati-hati, Chel ... masih panas!" Almeer ngingetin.
"Justru makan soto, enaknya pas panas-panas kayak gini, Al. Nih, dikasih jeruk nipis kayak gini tambah seger!" aku meres jeruk nipis yang udah di belah yang emang disediain di mangkok.
"Itu nggak kepedesan?" tanya Almeer ngeliat aku naruh beberapa sendok sambal.
"Nggak lah, nanti kasih kecap kan nggak pedes! tapi kamu jangan ikut-ikutan, nanti bisa sakit perut kalau nggak kuat, hahahahaha!" aku ketawa kecil.
"Katawamu ngeremehin aku banget, Cheeel..." ucap Almeer.
__ADS_1
Almeer makan dengan lahap, ya gimana dia belum makan dari siang.
"Chel? kalau aku nganterin kamu kayak gini ada yang marah atau nggak?" tanya Almeer tiba-tiba.
"Ada,"
"Ada?" Almeer nautin alisnya.
"Setan yang marah!"
"Ooh, aku kira. Ahh, kamu tuh hampir bikin jantungku mau melompat tau nggak!" ucap Almeer.
"Lagian kita bareng karena kamu mau liat motor di kos ku, kan?" ucapku.
"Kalau bukan karena motor, gimana?"
"Uhuuuk!" aku kesedak, tenggorokanku panas seketika mana sotonya pedes lagi.
"Minum chel, minum!" Almeer ngasih es jeruk buat aku minum.
Glek!
Glek!
Glek!
"Gimana? mendingan?" tanya pria yang menatapku dengan cemas.
Aku ngangguk cepet, "Uhuk, nggak apa-apa. Udah mendingan kok. Cuma masih pedes aja tenggorokan, berasa kebakar!"
"Makanya jangan banyak-banyak kasih sambel!" kata Almeer.
"Kamu udah? kalau udah kita pulang yuk?" ucapku.
Setelah selesai makan, aku dan Almeer naik motor boncengan menuju kosanku. Deuh jam segini pasti bala-bala tawon udah pada pulang.
"Bukan mereka yang kasih aku makan jadi sabodo amat, mereka mau ngomong apa. Bentar lagi aku juga bakal cabut dari kosan itu..." batinku.
Almeer bukan tipe kebat kebut di jalan kayak aku, dia cenderung kalem. Beberapa kali dia kasih jalan orang mau nyebrang, tipe orang sabaran banget. Sampai akhirnya motor ini berhenti di depan bangunan bertuliskan 'Kosan Alam Indah'.
"Tunggu disini, aku keluarin dulu motornya..." ucapku setelah turun dan ngasih Almeer helm.
"Tunggu yah?" ucapku lagi sebelum masuk.
Pas aku sampai di parkiran motor yang ada di dalem.
"Yah, kempes ban nya!" aku liat banku yang gembos.
"Aiih, mesti di dorong ini!" ucapku, yang elap-elap body motor pakai kanebo sebelum aku bawa keluar.
Sesaat aku mendadak melow.
"Maaf ya Ndol, kamu aku jual! bukan aku nggak sayang, tapi aku butuh uang. Maaf, kebersamaan kita cukup sampai disini, hiiikkkss ... kamu jangan nakal dan baik-baik sama majikan yang baru. Jangan bikin aku malu pokoknya ya, jangan suka ngadat dan jangan suka minta jajan, ganti ini lah ganti itulah. Kan kemarin aku udah pakein kamu onderdil yang ori semua. Huhuhuhuhuhu," aku meluk Cendol, motorku yang nemenin aku 2 tahun belakangan ini.
"Maafin aku ya, Ndoooool. Aku bukan majikan yang baik. Selamat berpisaaaah..." aku meluk Cendol posesif sebelum akhirnya aku dorong keluar menemui Almeer di depan kosan.
__ADS_1