Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Pada Capek Semua


__ADS_3

Bu Retno kembali dengan membawa leptop, dan koplaknya baik bu Retno maupun mas Riski nggak tau gimana caranya ngebuka rekaman cctv yang tersimpan. Yassalaaaaam!


Baru aku mau ngotak-atik, pak Raga langsung ngambil alih.


"Mau lihat tanggal berapa?" tanya pak Raga.


"Berapa ya?" aku garuk kepala.


"Berapa ya, Bu?" aku nanya sama bu Retno.


"Nggak tau! kan yang nemuin batok itu kamu!" ucap bu Retno.


"Ya juga ya?" aku jadi keder sendiri.


"Kalau kayak gini bisa jadi berhari-hari nontonin rekaman cctv!" ucap pak Raga.


"Saya salin rekaman ini, dan nanti saya kabari lagi jika sudah menemukan orang yang menaruh barang seperti itu!" kata pak Raga kasih solusi.


"Lagi pula ini sudah jam 2 dini hari, lebih baik kita semua kembali beristirahat," ucap pak Raga.


Pinter banget dia cari alasan supaya bisa cepet pulang. Mau nggak mau aku harus pending dulu rasa penasarannya, karena kita semua juga sama-sama nggak ada gambaran kira-kira berapa hari atau berapa minggu benda ini udah ada di kosan. Intinya kita semua udah capek.


"Mungkin dilenyapkan dulu saja batok itu, Pak ustad! saya takut kalau suami saya berubah beringas seperti tadi!" ucap bu Retno.


"Baik, Bu..."


Dan perlu kita ingat, ngebakar batok bukan seperti ngebakar kertas. Yang sekali kena api, kebakar terus cepet abis gitu! lenyap nggak bersisa.


Ngebakar batok ya kayak ngebakar kayu, lumayan lama abisnya. Padahal udah diguyur bensin.Tapi ya butuh waktu buat batok utu akhirnya berubah menjadi arang.


Kita udah kaya aggota pramuka yang lagi gelar acara api unggun!


"Alhamdulillah sudah habis terbakar, jadi saya pamit pulang, Bu. Kalau ada apa-apa, atau terjadi sesuatu yang aneh dengan pak Hardi. Ibu kabari saya saja. Nanti saya secepatnya datang kemari," ucap pak Zam.


"Kalau boleh saya minta nomor hapenya, Pak! biar lebih gampang, kalau Riski yang manggil bisa satu abad nyampenya," sindir bu Retno.


"Maaf, Bu. Di jalan tadi sempet nglewatin rumah mantan, Bu. Jadi kebawa perasaan galau, maklum baru putus. Yaaa, jadi saya lama nyampenya ke rumah pak Zam!" ucap mas Riski.


Yeuuuuuuuh, mas Riski. Situasi lagi genting, sempet-sempetnya dia mikirin mantan. Lama-lama lawak juga nih mas Riski.


"Ya sudah, Bu. Kami balik lagi ke kosan, ya!" ucapku.


"Kalian pulang aja, kalian pasti capek!" ucap bu Retno.


"Kami permisi, Bu..." ucapku, sedangkan pak Raga diem bae. Sempet aku sikut nih orang.

__ADS_1


"Aawwkkh! kamu kenapa, sih?" keluh pak Raga. Aku main mata, kedip-kedip dan nunjuk bu Retno pakai dagu.


"Kenapa? sakit leher?" pak Raga malah nanyeeaaaaak.


"Pamit!" bisikku.


"Hemmm!" dia cuma jawab pakai deheman.


"Permisi," ucap pak Raga yang kemudian narik aku buat pergi dari rumah ibu kos diikuti mas Riski.


Sampai di depan gerbang kita berhenti. Pak Raga, nyender di body mobilnya, "Saya pulang ya? hoaammph," dia nggak bisa ngelawan ngantuknya.


"Nyetir sambil ngantuk apa nggak bahaya?"


"Apa itu artinya kamu menahanku buat berlama-lama disini? memang ya pesonaku ini sulit ditolak," ucap pak Raga ngelantur kemana-mana.


"Mbak Rachel mau masuk atau masih lama ngobrolnya? gerbangnya mau saya kunci," tanya mas Riski.


"Bentar lagi, Mas!" ucapku.


Dan pak Raga mau jalan ke arah gerbang, tapi aku tahan bahunya, "Eeehhh, mau kemana?"


"Mau masuk! kan kamu katanya khawatir aku nyetir sambil ngantuk. Jadi aku mau istirahat di kamar kamu, dan kamu yang bawa mobil saya ke apartemen!" ucap pak Raga enteng.


"Hahahahhahahaha," pak Raga rentangin tangannya. Lalu dia kasih aku pelukan.


"Saya sudah hubungi pengawal buat kesini, jadi kamu nggak usah khawatir!" ucapnya.


Dan baru aja diomongin, kedrngeran suara mobil mendekati kami.


Pak Raga melepaskan pelukannya, "Masuklah, saya mau pulang. Besok pagi saya ada pertemuan penting!" ucap pak Raga. Yang kemudian memutar badannya.


Ada seorang berjas hitam yang berjalan mendekat dan membungkuk saat pak Raga sudah dekat dengannya.


Pak Raga dengan santainya melempar kunci mobilnya dan langsung di tangkap pengawalnya, "Bawa mobilku!"


"Hoaaaamppph, ngantuknyaaa!" gumam pak Raga. Berjalan dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya.


Yakin nggak ada yang bakalan nyangka, dibalik sosok cool dan super on time itu ada jiwa-jiwa lawak yang nggak banget gitu.


"Dasar bos gendeng!" gumamku.


Aku pun masuk ke dalam kosan dan mencoba istirahat.


Namun nyatanya, istirahat hanya sekedar kata. Baru juga ngeliyep, kurang sejengkal lagi nih ke alam mimpi, eh udah adzan subuh.

__ADS_1


Biar nggak ngantuk, sengaja aku mandi sebelum aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim.


Bukan karena kehidupan yang serba susah ini, tapi aku ngerasa sendirian dan kesepian.


Aku nyoba nelfon mama, "Jam segini mama udah bangun kayaknya!" ucapku sambil nempelin hape ke telinga.


Tapi nggak diangkat.


Dua kali aku coba, ternyata sama nggak diangkat juga.


Aku taruh lagi hapeku dan bersiap buat berangkat kerja. Berhubung heater-ku konslet dan belum beli yang baru, jadi aku nggak bisa bikin minuman sereal atau pun teh panas.


Drrrttt!


Drrrrtt!


"Udah bangun belum? aku udah di bawah!" suara Almeer setelah panggilannya aku angkat.


"Udah bangun sih, tapi kok pagi banget kesininya?" tanyaku.


"Nggak apa-apa, cuma pngen ngajak sarapan bareng!" ucapnya.


"Ya udah aku tunggu, yah!" ucapnya sebelum mematikan sambungan telepon.


Buru-buru aku pakai seragam dan menutupinya dengan jaket. Aku keluar saat pintu-pintu kamar kosan satu persatu terbuka. Dengan muka kucel mereka pada menghirup udara segar di sekitar balkon.


"Beeuuhh pahlawan kemalaman udah mau kerjaaa nieeh! hahahahahah," sindir Mirna.


"Hahahahha," yang lain pada ketawa.


Seperti biasa, aku nggak ladenin. Aku mah lewat lewat aja, pura-pura nggak liat. Anggap aja mereka semua abstrak ya kan. Yang baik cuma kamar yang sampingku persis, selain itu setan semua isinya.


"Ckkkk, main nggak liat!" ucap Mirna dia ngehalangin jalanku.


"Mau kamu apa sih, Mir? aku nggak pernah loh gangguin kamu! jadi, tolong minggir. Aku mau berangkat kerja!" ucapku tegas, tapi dia nggak mau minggir juga.


"Oke fine!" aku tabrak aja bahunya dan turun ke bawah buat nemuin Almeer.


"Heh, sialaan!" pekik Mirna.


"Seenaknya aja mau ngebully orang. Dia pikir dia siapa?" gumamku.


Aku setengah berlari untuk menjangkau gerbang, tapi sesaat langkahku terhenti saat aku mendengar seseorang yang sedang berbicara di telepon.


Dan saat ini aku pasang kuping baik-baik...

__ADS_1


__ADS_2