
"Mas Andri?" gumamku, refleks aku minggir memberi jalan pada pak Jiwa Raga yang pasang muka angkuhnya.
Ya yang berdiri dengan sombongnya itu ya pak Raga, mas Andri mah selalu woles tapi tegas.
Aku menunduk dan sesekali mencuri pandang pada pak Raga yang berjalan ke arah satu ruangan, yang kayaknya privat gitu.
"Gebleeekkk?!! kenapa nggak aku tahaaan tadi. Ya ampuuun Rachel begonya mbok ya dikurangiiii thooo yaaaaaaa!!!!" aku mengumpat diri sendiri.
Aku masuk aja, ngejar pak Raga. Tapi tiba-tiba ada tangan yang mencekalku.
"Maaf, Mbaak? ada yang bisa dibantu?"
"Saya mau ke dalem!" aku nunjuk sembarang arah.
"Maaf, tapi duduk berarti memesan!" ucap pelayan itu.
"Ya ampuuun, apa gara-gara saya pakai baju begini? saya juga punya duit mbak, buat pesen makanan disini," ucapku, aku nggak mau diremehin.
"Silakan Nona..." raut wajahnya langsung berubah ramah, dia jalan nunjukin aku meja yang kosong.
"Silakan, Nona menunya..." ucapnya gercep nyodorin buku menu.
Aku sih nggak begitu memperhatikan nih meanusia, yang aku perhatiin pak Raga. Aku berdiri mau nyari nih pak Jiwa Raga. Pak Moreno nggak boleh sampai berhasil melancarkan rencananya, buat ngasih barang yang udah didukunin.
"Anda mau kemana, Nona?"
"Haiiiishhh, aku jadi kehilangan jejak dia, tau nggak?!" ucapku memandang pelayan dengan kesal.
aku buka dan banting topi di meja. Aku duduk lagi dengan frustasinya.
"Silakan menunya," ucapnya lagi.
"Ocha dingin, dan yang ini..." aku menunjuk salah satu menu sushi.
"Baik. ada lagi, Nona?"
"Baiiiik, tidak adaaa, terimakasih...!" ucapku menirukan gaya si pelayan, sekuat tenaga berusaha mengontrol emosiku.
"Baik, silakan ditunggu," ucap si pelayan, dia membawa buku menu bersamanya.
"Baiiiikkk..." sahutku menyenderkan punggung ke kursi.
Si pelayan pergi dan aku masih celingukan kemana perginya pak Raga.
"Nggak sembarangan orang bisa masuk ke tempat privat kan? astagaaaaa, ck kenapa bisa aku tadi malah nunduk dan geser. Bukannya aku tarik tangannya terus ngajak dia pergi. Kalau kayak gini pasti pak Moreno bisa ngasih benda itu tanpa sepengetahuan pak Raga," gumamku.
Aku menunggu dengan resah, karena jam makan siangku yang udah habis sementara pak Raga belum keluar juga.
"Silakan, Nona..." ucap si pelayan menyajikan makanan di atas meja.
Satu persatu sushi masuk ke dalam mulutku.
__ADS_1
"Kayaknya aku cari aja deh di dalem. Udah sejam nggak keluar-keluar!" mataku masih mencari-cari pak Raga.
Ocha dingin langsung membasahi kerongkonganku yang kering kerontang. Capek nunggu nggak jelas kayak gini.
"Bayar dulu deh, baru aku cari tuh pak Jiwa Ragaku!"
"Aduh, tapi sayang belum abis!" aku melihat sushi yang masih ada dua biji.
Akhirnya aku ngejejelin mulutku yang imut ini dengan dua sushi sekaligus.
Baru juga ngunyah, aku liat pak Raga keluar sama mas Andri. Raut mukanya datar.
"Pasti pak Raga udah diguna-guna, nih!" aku cepetan minum
"Uhuukk!! uhuk," dadaku aku pukul pelan, seret banget rasanya, akhirnya aku minum lagi tuh beberapa teguk ocha dingin.
"Alhamdulillah,"
Aku bangkit dari kursi, mau ngejar pak Raga tapi aku dihalangi oleh seseorang.
"Silakan bayar terlebih dahulu di kasir kami, Nona..." pelayan itu menunjuk ke arah kasir.
"Ck, aduuuh! gagal maning gagal maning kan?!!" aku lari ke kasir buat bayar.
"Silakan..."
"Berapa? cepetan!" ucapku judes.
"Apaaaaa? mahal banget, gilaaak!" aku protes, tapi tangan ngambil duit di dompet.
"Silakan, Nona!" dia pasang wajah sok ramah.
Nggak ada waktu buat misuh-misuh, "Nih, uang pas!" aku taruh uang pas dan ngibrit keluar.
"Hhhh ... hhh ... dimana pak Raga," aku celingukan nyari tuh orang.
"Itu dia!" aku lari ke arah pak Raga yang baru masuk ke mobilnya. Aku sekencang kijang.
Dan
Ceklek!
"Heh, kamu---" pak Raga kaget saat aku berhasil masuk ke dalam mobilnya.
"Saya, Rachel. Mantan asisten Bapak, saya harap Bapak masih ingat," ucapku dengan kecepatan diatas rata-rata, aku buka topi dan kacamata supaya pak Raga bisa mengenali wajahku.
"Bapak masih inget kan muka saya? atau Bapak udah mulai amnesia yang kedua?"
"Bukannya kamu?"
"Iya, saya yang semalam nganterin kopi semalam. Saya nggak bisa jelasin itu sekarang, yang jelas ada hal yang lebih penting dari itu!" aku menatap pak Raga.
__ADS_1
Aku mendekat.
"Kamu mau apa saya?" tanya pak Raga terpojok.
Nggak peduli dengan pak Raga yang mepet ke pintu, aku semakin mendekatkan diri dan mencari saku jas pak Raga.
"Pasti disini," aku merogoh saku kanan pak Raga.
"Hey, Rachel. Kamu sedang apa?"
Aku berhenti dan mendongak, " Mencari sesuatu yang kalau dibiarkan akan membuat keadaaan menjadi buruk, Pak!" ucapku, jarak wajah kami cukup dekat, hingga aku bisa melihat warna bola matanya yang cokelat terang.
Aku mencari lagi.
"Hey hentikan, Rachel---" pak Raga uget-uget, mungkin dia geli atau ngeri.
"Bapak diem dulu, Pak! saya harus nemuin benda itu," aku masih merogoh saku kanan pak Raga, tapi aku nggak nemu apa-apa kosong.
Pak Raga nahan bahuku, "Kamu ini mencari apa?"
"Biarkan aku menolong untuk yang terakhir kalinya, setelah ini aku tidak akan muncul lagi di hadapan Pak Raga!" aku menatapnya dalam, sembari melepaskan tangan pak Raga di bahuku.
"Saya yakin benda itu sudah memberi efek buruk, sampai kamu lupa semuanya. Pak Moreno itu berniat jahat. Saya mendengarnya sendiri, anggap aja ini balas budi karena Bapak sudah memberi saya gaji yang cukup besar!"
Aku melanjutkan apa mencari di saku dalam jas pak Raga, "Nggak mungkin disini juga!"
"Hey, hentikaan!" pak Raga tereak lagi.
Aku mencari kancing di saku kiri pak Raga, dan aku menemukan sebuah benda berbentuk bulat. Aku ambil benda itu.
Sebuah kancing berwarna merah.
"Dia benar-benar melakukannya!" aku mnegangkat bulatan kancing itu sejajar dengan mataku.
Aku yang sudah mendapatkan apa yang aku cari, kembali ke posisiku semula dengan masih menggenggam kancing yang disinyalir punya kekuatan mistis. Aku segera memakai kembali topi dan kacamataku.
Namun ketika aku mau keluar, tanganku ditahan pak Raga, sontak aku menengok ke belakang. Ya, tangan itu menyentuh kulitku, rakyat jelata.
"Berikan benda itu!" dia menatapku.
"Apa?"
"Benda yang kamu ambil tadi," ucapnya.
"Ini memiliki kekuatan yang buruk, bahkan mungkin lebih buruk dari apa yang ada pikirkan, Pak..." aku nggak mau menyerahkan benda itu.
"Saya sudah tau. Makanya berikan benda itu, saya sendiri yang akan menghancurkannya," ucap pak Raga.
"Sudah tau?" aku menatap pak Raga heran.
Dia mencondongkan badannya ke arahku, menatap kedua bola mataku, "Berikan!" suruhnya.
__ADS_1