
"Mau kemana?" tanya pak Raga. Yang dari negeri antah berantah tiba-tiba nongol aja.
"Maaf, Tuan. Tapi lepaskan tangan anda," ucap mas Almeer.
Mencoba melepaskan tangan pak Raga dari tanganku.
"Maaf, Tuan. Tangan anda menyakiti----"
"Siapa?" pak Raga menatap Almeer, seperti singa yang akan menemui musuhnya.
"Maaf, Tuan. Jangan buat saya dipecat dari kedai ini," aku mengingatkan pak Raga, kalau aku sama dia udah nggak ada hubungan dan aku nggak mau kena masalah lagi.
"Tolong jangan buat saya kehilangan pekerjaan," lirihku, dan ucapanku itu membuat pak Raga melepaskan tangannya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan kembali setelah jam kerjamu selesai!" ucap pak Raga sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Pria tegap itu meninggalkanku dengan Almeer, dan mobil mewahnya itu, iya suaranya itu yang aku sering dengar di kosan. Kalau malam atau subuh kan suasana sepi, jadi suara mobil kedengeran jelas banget. Jangankan suara mobil, suara nyamuk aja kita bisa denger kalau lagi bener-bener sunyi.
"Kamu nggak apa-apa, Chel?" tanya Almeer ngebuyarin lamunanku soal suara mobil.
"Eh, nggak apa-apa kok," ucapku.
"Ya udah, yuk?" ajak Almeer.
Dan kita keluar naik motor berdua ke ATM salah satu bank ternama yang lokasinya paling dekat dengan posisi kita saat ini.
Almeer nunggu di luar sedangkan aku masuk ke dalam. Aku masukin uang ke dalam mesin.
"Akhirnya, amaaan!" ucapku yang keluar dari ATM center.
"Udah?"
"Hu'um," aku ngangguk.
"Mau langsung balik atau?" tanya Almeer.
"Kita beli mie pedas, nanti di seduh di kedai gimana? kayaknya aku pengen makan yang pedes," ucapku yang kepalaku emang nat nut mikirin mantan bos gendeng.
Almeer sih iya iya aja. Tipe laki-laki yang nggak kebanyakan ngatur atau protes, kalau ngomong juga nggak pernah ngegas. Dia sabar nungguin aku keluar dari minimarket, aku beli beberapa buat temen-temen di kedai.
"Banyak banget belinya?"
"Barangkali ada yang mau kan?" aku naik ke atas motor.
Dan sekarang motor di gas lagi menuju kedai. Aku sempet kepikiran kalau aku ada janji makan sama Almeer, sedangkan pak Raga bilang bakalan balik lagi ke kedai. Lah terus aku harus gimana?
Emang tuh orang hobi banget bikin aku pusing kepala.
Nggak lama kita sampai di kedai, mas Wahyu sampai keder.
__ADS_1
"Loh udah balik? ada yang ketinggalan?" tanya mas Wahyu.
"Rame nggak, Mas?" Almeer nggak ngejawab, dia malah balik nanya.
"Nggak kok! kalian kalau may makan, makan aja. Santai..." ucap mas Wahyu.
"Kita mau makan di dapur, mau bikin mie seduh!" kata Almeer.
"Mas Wahyu mau? ntar aku bikinin," ucapku nunjukin kantong keresek yang aku bawa.
"Nggak, ah. Perutku suka konslet kalau makan kayak gitu," tolak mas Wahyu.
"Ya udah kalau gitu, kita makan duluan ya? kalau kerepotan, tereak aja. Ntar aku keluar..." ucap Almeer.
"Okeeehh!" sahut mas Wahyu.
Beruntung banget aku bisa kerja disini, walaupun cuma baru bisa bersih-bersih, tapi para pegawai yang lain nggak ngeremehin malah ngajarin. Semua ini berkat Almeer, dia emang baik banget. Dan semoga dia bakal kayak gini terus, nggak berubah.
Aku seduh mie pedes khas korea rasa hot chicken. Sedangkan Almeer buka air mineral dingin buat kita berdua.
"Udah jadi..." ucapku.
Kita makan di salah satu sudut dapur. Mbak Arni yang lagi ngadon kue ikut komentar.
"Beuuh baunya nyampe sini loh!" kata Mbak Arni.
"Makan dulu, Mbak. Ada dua lagi nih, tinggal nyeduh," aku nawarin.
"Boleh, Mbaaak. Buat mbak Arni semua aja, mas Wahyu nggak mau katanya," ucapku.
"Oh gitu? ya udah. Aku simpen di loker ah, betewe makasih ya?" mbak Arni ngeloyor ke lokernya
"Makan dulu, mienya keburu ngembang!" kata Almeer.
Baru suapan pertama, belum kerasa pedesnya.
"Chel...?" Mas Almeer manggil.
"Ya? kenapa Al?"
"Tadi siapa, Chel?" suara Almeer lembut.
"Hah? tadi?" aku melihat ke arah Almeer.
"Laki- laki tadi,"
"Mantan bos," ucapku seadanya.
"Oh, mantan bos?"
__ADS_1
"Hem, kalau aku ceritain rasanya complicated banget, Al. Dan yang ada kamu nanti mikir yang nggak-nggak," ucapku.
Aku mulai lagi. Kita makan dengan hening. Hanya suara desisan karena rasa pedas.
"Maaf yah, udah nanyain hal yang terlalu privacy," ucap Almeer tiba-tiba.
Aku kasih senyuman ajah.
"Kok lama-lama pedes ya, Al?" aku mencebikkan bibirku.
"Kamu juga sampe jontor kayak gitu!" aku ketawa liat Almeer yang bibirnya merah dan tebel banget.
Baru aku omong kayak gitu, Almeer labgsung nyambar botol minumnya.
Glek!
Glek!
Glek!
"Udah aku tahan-tahan loh biar keliatan keren, tapi ternyata sepanas itu ya. Sampe nggak kuat kalau nggak minum, ssssshh !" ucap Almeer nahan pedes.
"Emang ini pedesnya beda, Al. Makin lama makin pedes!" ucapku.
"Almeeerr, kopiiiiii!" seru mas Wahyu bikin aku sama Almeer sama-sama kaget.
"Astaghfirullah, itu suaranya mas Wahyu jadi cempreng begituuuu?" ucapku pada Almeer.
"Hahahah, udah kecapean dia. Aku ke depan dulu. Kamu abisin dulu aja makannya," kata Almeer. Kebetulan Almeer udah selese makan sedangkan aku tinggal dikiit lagi baru bisa abis.
Setelah Almeer pergi mbak Arni dateng.
"Kalian lagi deket?"
"Hah?"
"Pacaran, pacaran..." mbak Arni nemuin telunjuk kanan dan kirinya .
"Nggak, Mbak! kok pada mikirnya kayak gitu sih? aku tuh nggak ada apa-apa sama Almeer,"
"Ya nggak. Cuma kita pada kepo aja gitu. Soalnya kan kayaknya kalian dekeeet banget gitu loh. Ya udah abisin makanannya ya, aku mau ngecek adonan donut," ucap mbak Arni.
Aku cuma bis geleng-geleng kepala. Ya nggak salah sih pada mikir begitu, karena kebanyakan perempuan dan laki-laki itu jarang ada yang murni bisa temenan atau sahabatan gitu. Kalau nggak si cowok yaaa si cewek, yang kebawa perasaan.
Dan buat saat ini buatku Almeer temen yang bener-bener temen, karena hatiku masih ada yang masih ketinggalan sama pak Raga. Hubungan yang berawal dari pura-pura, terus akhirnya kebawa perasaan beneran ini yang bikin aku bingung. Apalagi kejadian kemarin yang bikin aku kayak orang bego.
Mungkin ini yang bikin Eyang Anti begitu marah sama aku, dan sekarang aku jadi paham kalau dibohongi itu rasanya nggak enak, terlepas tujuannya baik atau nggak.
"Sekarang aku baru ngerti, dan aku udah salah banget. Walaupun semuanya pak Raga yang rencanain, tapi aku turut andil dalam kebohongan itu," gumamku
__ADS_1
"Kayaknya aku harus minta maaf lagi," lanjutku, yang keinget Eyang Anti.