Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Bola Mata


__ADS_3

"Jangan pergi..." ucapnya.


Ya, tangan pak Raga mencekal tanganku. Jantungku berpacu, aku takut kejadian yang nggak sengaja di mobil terulang kembali. Pokoknya aku sebenernya nggak siap ngeliat mukanya pak Raga, titik.


"Duh Gusti...!" ucapku dalam hati.


Aku mematung, pura-pura jadi manekin. Setelah beberapa saat tangan pak Raga terlepas. Aku memutar sedikit badanku, buat ngeliat keadaan bosku itu.


Dan ternyata dia tertidur.


"Dia pingsan atau tidur ya?" ucapku dalam hati.


Karena merasa nggak ada pergerakan apapun dari pak Raga, aku pun berani mendekat.


Tangan pak Raga menggantung di sisi tempat tidur, aku ambil dan aku masukkan lagi ke dalam selimut.


Pas aku pegang dahinya, "Demam? panas banget suhu tubuhnya," aku panik.


Selimut tebal yang tadi menutupi badan oak Raga aku singkap.


Drrttt


Ada telfon dari Amel. Ternyata dia beberapa kali missed call tapi karena hapeku dalam keadaan silent, jadi aku nggak ngerti kalau dia nelfon.


"Halo?" aku sambil ngelepas jasnya pak Raga yang agak basah.


"Kamu dimana, Chel? ini udah sore kok kamu nggak balik-balik? katanya kamu sama pak Raga? emang belum selesai meetingnya?" Amel merepet aja kaya petasan.


"Aku udah balik ke resort kok!" kataku yang nempelin punggung tanganku di leher dan jidatnya pak Raga.


Nggam sengaja nyenggol jambul kebanggannya pak Raga, "Sorry..." lirihku.


"Dimana? kok nggak ada di kamar?" tanya Amel.


"Aku di kamarnya pak Raga,"


"WHAAAAAATTTTTTT? APA YANG UDAH KAMU LAKUKAN RACHEEEEEEEEL?" teriak Amel.


"Astaghfirullah, Ameeeeeeel bikin kaget orang aja sih! kupingku sakit tau nggak denger kamu teriak," aku ngelus dadaku sendiri.


"Lah itu kamu ngapain di kamar pak Raga? aku nggak nyangka ya, Chel---"


"Sssuuut, diem! aku nggak ngapa-ngapain, amit-amit! dengerin dulu aku mau ngomong..." aku nyerobot ucapan Amel.


"Jadi aku kan tadi keluar sama pak Raga, dia keujanan. Dan tadi sempet hipotermia di dalam mobil dan sekarang malah badannya demam, makannya aku lagi ngurusin nih orang. Mau aku tinggal takut kenapa-napa kan jadi panjang urusannya, Ameeeell. Sekarang udah jelassss?" lanjutku panjang lebar.


"Oh, kirain...!"


"Mel, tolongin aku bisa?" aku nanya ke Amel.


"Apa?"


"Beliin thermometer gun, sama obat penurun panas!" aku nempelin lagi telapak tanganku yang dingin ke jidatnya pak Raga yang panas.


"Ya, nanti aku minta anter Naga deh kalau gitu..."


"Thanks ya," kataku sebelum memutuskan sambungan telepon.


Dan sedetik kemudian aku baru inget kalau jalan menuju resort kan ada yang di tutup dan dialihkan jalan alternatif. Aku chat Amel buat ngasih tau itu, beruntungnya Amel baca dan katanya dia baru mau berangkat.


"Kemeja yang tadinya basah, sekarang udah kering sendiri karena saking panasnya badan pak Raga..." aku berucap lirih.

__ADS_1


Aku rogoh tasku dan ngambil minyak kayu putih, selain aromatherapi aku juga selalu bawa minyak kayu putih dalam tas.


Telapak kaki pak Raga yang dingin, aku olesin minyak kayu putih dan aku pijit-pijit. Kalau ada asisten award, mungkin aku yang jadi juaranya. Gimana nggak juara, nih ngurusin bayi tua kayak gini kan susah.


Selang setengah jam, ada yang ngetok pintu kamar.


Tok


Tok


Tok


"Amel kali yah?" aku bangkit dan ngintip dulu di bolongan yang ada di pintu.


Tapi nggak ada siapa-siapa. Aku pakai softlens ya jadi nggak berani ngucek mata.


"Nggak ada orang..." aku sesaat melihat ke belakang, pak Raga masih di posisinya.


Suara ketukan itu terdengar kembali.


Tok


Tok


Tok


"Huuyfhh," aku buang nafas sejenak sebelum kembali mengintip dari lubang pintu.


Mataku lirik kesana kemari. sementara jantungku dag dig dug dengan nafasku yang kian memburu.


JENG .... JENG!


"Astaghfirullah, apaan tuh?!!" aku pegangin dada, mencoba mengatur nafas.


Aku mudur, dan berbalik menuju dimana pa Raga berbaring.


"Pak di luar ada setan loh, Bapak bangun kek...!" ucapku. Tapi percuma aja kayaknya aku ngomong, karena pak Raga tetep merem dan diem. Badannya makin panas, sedangkan Amel belum juga kesini bawa obat.


"Ini kamar pak Raga kayaknya nggak aman deh..." aku celingak-celinguk, ya kali aja ada sesuatu yang ghoib yang tiba-tiba muncul.


Drrrrrtt...!


"Halo, ya?" aku ngejawab telepon dari Amel.


"Kamar berapa woooy?!" tanya Amel.


"101, cepetan kesini. Suhunya tambah naik soalnya...?!"


Nggak ngejawab, temenku itu malah nutup panggilan secara sepihak. Kurang uaajyaaarr emang.


Tok!


Tok!


Tok!


"Si Amel bukan ya? jadi ragu buat bukain..." lirihku.


Aku sentuh jidat pak Raga yang masih panas, "Aku bukain pintu dulu ya, Pak..." katakunsebelum bangkit dan oerkahan menuju pintu.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


"Amel bukan ya? takut dikagetin kayak tadi lagi loh...?!" aku bergumam sendiri.


Lama aku berdiam di depan pintu, sampai akhirnya ada chat dari Amel, minta dibukain pintu.


Ceklek!


"Alhamdulillah akhirnya dateng juga! ini obatnya?" tanyaku nunjuk keresek putih yang Amel pegang.


Dan dia dateng sama Naga. Adik Amel itu menunjukkan raut nggak bersahabat. Dia npak mencuri pandang ke dalam.


"Lama amat sih? lagi ngapain hayoo?"


"Nggam lagi ngapa-ngapain! otaknya tolong diberisihkan dari pikiran-pikiran buruk yah? kalau nggak percaya, hayuk masuk, dan urus si bos bareng-bareng...!" ucapku mempersilakan Amel masuk.


"Ck, ya udah kalau gitu biar aku yang urus manusia itu!" ucal Naga yang mau nyelonong masyk ke dalem. Tapi segera ditarik oleh Amel.


"Apaan sih, Mbak?"


"Udah diem?!" Amel menggelengkan kepalanya ke Naga.


"Tapi Mbakkk---"


Mulut Naga segera dibekap Amel.


"Hmmmph!" Naga berusaha berontak tapi Amel nggak mau melepaskan bekapannya.


"Ya udah urusin si bos dulu. Kalau butuh apa-apa, telfon aja ya?!" kata Amel.


"Ok ok makasih..."


Dan Amel pun membawa Naga pergi, aku cuma geleng-geleng kepala melihat adik kakak yang jarang banget akur.


Aku pun segera menutup pintu dan mebghamoiri pak Raga.


Aku tempelin thermometer ke jidat pak Raga.


"40 derajat?"


Aku taruh termometer diatas nakas, dan mulai membangunkan pak Raga.


"Pak, Pak Ragaaa? Pak bangun, Pak! Bapak harus minum obat," aku menepuk pipinya beberapa kali.


"Paak, pak Ragaaa..." aku mencoba membangunkan manusia menyebalkan ini.


"Emmmhp," matanya perlahan terbuka.


"Ayo kita minum obat dulu, Pak..." ucapku yang mencoba membantu pak Raga buat duduk.


"Haus...! tolong ambilkan saya air," kata pak Raga lemas.


Bukan cuma air tapi aku ambilkan juga obat buat pak Raga minum. Setelah dia berbaring lagi.


"Baju anda basah, lebih baik anda menggantinya sekarang, Pak..." ucapku.


"Sekarang?" pak Raga lemas, dia naikin alisnya satu, dan melirik ke kiri dan ke kanan.


"Sekarang dan di kamar mandi" ralatku cepat.

__ADS_1


__ADS_2