Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Nay


__ADS_3

"Haloo????" aku nyapa si penelepon untuk yang kedua kalinya.


"Halo, maaf! headsetku lagi kurang bagus!" ucap seorang laki-laki.


"Almeer?"


"Ya, sorry nelfon jam segini. Aku cuma mau ngasih tau, besok bos ngga dateng. Jadi mending kamu kesininya lusa aja ya,"


"Oh ya makasih udah diinfoin,"


"Iya sama-sama!"


"Almeer! Al...?! tunggu, jangan tutup dulu?!" aku sontak teringat sesuatu.


Aku melipir masuk ke dalam toilet. Biar mbak Gita nggak denger apa yang mau aku omongin sama Almeer.


"Al ... kamu masih disana?" tanyaku.


"Ya?"


"Ehm, sebenernya aku malu. Tapi aku butuh banget, gimana ya...?" aku bingung gimana aku harus nyampeinnya sama Almeer.


"Ngomong aja, Rachel. Santuy aja, apa yang bisa aku bantu?" kata Almeer.


"Aku mau jual motor. Kali aja kamu punya temen calo jual beli motor," jelasku setengah menahan malu.


"Motor apa?"


"Matic, keluaran 2 tahun yang lalu. Baru aja aku servis, jadi mesinnya masih oke banget," ucapku pada Almeer.


"Kebetulan kemarin ada temenku yang sempet nyari motor second. Coba nanti aku tawarin. Kamu kirim aja foto motor kamu, biar nanti aku share ke temenku itu," kata Almeer.


"Iya iya, nantin aku kirim. Ehm, sebelumnya makasih banget ya, Al ... Kamu seperti dewa penolong yang dikirimkan Tuhan buat aku!" lanjutku.


"Semua atas izin-Nya, Rachel. Ya udah, aku tutup dulu ya. Aku baru mau siap-siap tidur, tadi di kedai ramai banget, jadi sekarang aku udah kiyip-kiyip pengen tidur..." ucap Almeer.


"Iya, Al. Good nite and thanks anyway..." ucapku sebelum memutus teleponku dengannya.


Sesaat kegalauanku sirna, minimal ada harapan dengan motor itu. Aku keluar toilet tapi aku nggak nemu Nay di ranjangnya.


"Kemana si bocil?" aku ngeliat keadaan sekitar. Dan nafasku lega saat melihat Nay berdiri tepat di depan jendela rumah sakit yang terbuka.

__ADS_1


"Nay ... Sayang?" aku mendekat ke arah Nay.


"Naay? tidur lagi yuk, Sayang...." panggilku lagi. Tapi aku baru nyadar kalau botol infus dan tiangnya masih ada di sisi kiri ranjang pasien.


Dan ketika melihat ke bawah, di lantai banyak tetesan darah.


"Nay...?" aku meraih tangannya. Namun Nay nggak juga bergeming sedikit pun.


Aku yang panik menarik ujung bajuku dan menutupi tangan mungil Nay yang mengeluarkan darah.


"Nay mau ikut, Tante..." ucap Nay datar.


"Apa?"


"Nay mau ikut tante Rachel..." ucapnya lagi.


"Nay..." aku menatap bocil ini nggak percaya.


"Nay nggak suka ngeliat mama nangis. Nay nggak suka ngeliat papa bentak-bentak mama. Nay nggak suka ada orang yang jahatin mama..." ucapnya dengan terus melihat keluar jendela.


"Ada pentas di sekolah. Semua temen Nay papa mamanya ikut nonton, kasih tepuk tangan. Tapi Nay, cuma mama yang dateng..." suara gadis kecil ini mulai parau, dia sepertinya menahan supaya nggak nangis.


Aku menarik tubuh kecil Nay, aku peluk. Gadis kecil ini, gadis kecilku. Dia merasakan pedih dalam hatinya, perasaan yang nggak seharusnya ada di dalam masa kanak-kanaknya.


"Papa pulang, dan semua barang dihancurin. Papa pergi, dan belum kembali..." ucap Nay.


"Katakan semua yang Nay pengen katakan ya, Sayang..."


"Nay pengen ikut Tante, huaaaaa .... hiikkkkss," tangisnya pecah, namun dia nggak berani nangis kejer. Dia masih bisa nahan suaranya.


"Sssshhh, Nay ... Nay Sayang...?!" aku peluk gadis kecilku.


"Tate akan ngelindungi, Nay. Tante Sayang sama Nay. Nay percaya kan?" aku mengelus kepala anak ini.


Dia mengangguk sambil terus meneteskan air matanya. Aku angkat Nay, aku gendong dia. Tangannya melingkar di leherku, sementara kepalanya ditidurkan di pundakku.


Aku bersenandung di tengah malam sambil mencoba menidurkan Nay dengan suara rombengku, "Lalalalalaaa .... hmmmmm ... lallalalala,"


Aku melihat ke arah jendela.


Dan...

__ADS_1


Clap!!


Ada satu sosok anak kecil yang menempelkan badannya di kaca jendela. Dia memamerkan senyum creepy nya sambil menunjuk Nay.


"Astaghfirullah?!!"


Aku yang ngeliat itu segera menutup tirai dan membawa Nay menjauh dari sana.


"Yeuuuh, si Maemunah kenapa main nongol kayak gitu, ya ampuuuun?!! bikin orang kaget ajahhh!" aku merepet marahin tuh bocil yang tadi nemplok di jendela.


Setelah make sure Nay udah tidur, aku rebahin Nay di tempat tidurnya, aku tarik selimut dan nutupin setengah badan Nay biar nggak kedinginan.


"Chel..." mbak Gita manggil.


"Mbak Gita? mbak kebangun? sejak kapan?" ucapku lirih dan mendekat ke arah mbak Gita yang sekarang duduk di sofa.


"Sejak kamu ngobrol berdua sama Nay..."


"Jadi Mbak----" aku nggak bisa melanjutkan ucapanku.


"Iya, Mbak denger semua, Chel..."


"Mbak udah jahat sama Nay..." mbak Gita memandang sendu ke arah putrinya.


"Jadi soal mas Bram keluar kota itu bohong ya, Mbak?


Mbak Gita lalu mengangguk, dia nangis.


"Kalau Nay pengen ikut kamu, nggak apa-apa, Chel..." ucap mbak Gita.


"Mungkin aku udah gagal jadi ibu menurut Nay..." lanjutnya.


"Nggak gitu, Mbak. Itu nggak bener...?! Mbak itu ibu yang terbaik buat Nay, cuma saat ini Nay mungkin pengen cari suasana baru. antar juga kalau nginep sama tantenya, yang dia inget mamanya terus..." aku nenangin hati mbak Gita.


"Makasih banget ya, Chel..."


"Kasih Nay waktu ya, Mbak...?" ucapku pada mbak Gita.


Malam ini aku jadi tau, kalau setiap orang punya sisi deritanya sendiri. Jadi, jangan merasa kalau kita yang paling merana di dunia ini. Dan satu hal yang aku percayai, kalau Tuhan nggak akan ngasih cobaan tanpa ada penolongnya. Tuhan nggak akan kasih kepahitan kalau nggak ada penawarnya. Termasuk apa yang aku rasakan dengan Raga ataupun Liam, atau pun dengan orangtuaku sendiri dan semua hal yang terjadi yang nggak disangka-sangka sebelumnya.


"Terima kasih ragaku, sampai detik ini kamu mau berkerjasama denganku, melangkah melewati hari ini..." ucapku sebelum terlelap dan hanyut ke dalam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2