
"Astagaaaa, nggak yang punya perusahaan nggak gedungnya sama-sama horornya!" aku buka topi saat aku udah di luar.
"Aaahh, aku capek banget seharian pakai topi terus!" aku bersihin topiku yang menjadi atribut yang harus dipakai saat aku kerja di kedai.
"Sekarang baru jam setengah 9 malem, balik lagi ke kedai kopi nggak ya? tas aku tinggalin disana," aku menimbang-nimbang.
Aku jalan kaki menyusuri jalanan kota, "Jadi orang miskin ada banyak cobaannya, jadi orang kaya apa lagi. Selama masih hidup, selama masih ada oksigen yang masuk ke paru-paru, pasti ada masalah yang harus di hadapi. Semangat Racheeeeel..." aku menyemangati diri sendiri.
Tapi tiba-tiba langkahku terhenti.Aku mendongak, ngeliat langit yang gelap.
"Aku ibarat bintang, sesangkan pak Raga itu bumi yang besar, luas, kaya, dan indah..."
Aku menghela nafas sebelum ngelanjutin omonga ngawur malam ini.
"Aku bintang yang kecil, cuma bisa ngasih kerlip untuk bumi disaat matahari bersembunyi. Aku dan kamu beda kasta, Pak. Kamu terlalu besar untuk orang kecil kayak aku..." ucapku ngetawain diri sendiri.
Aku menormalkan kembali pandangan dan kini menatap lurus ke depan, sambil jalan pelan-pelan kayak penganten sunat. Moon maap, penganten aja nggak pakai sunat keles Rachelll.
Dan langkahku berhenti saat ada telepon masuk.
"Kamu dimana Rachel? kok aku liat cewek pakai seragam serba item yang mirip sama kamu lagi brenti di sekitar jalan menuju kedai? itu kamu atau bukan?" suara Almeer di seberang telepon
"Iya, kamu dimana emang?"
"Di sini!"
"Disini tuh dimana?" aku ngerutin kening.
"Ini loh aku yang dadah-dadah. Coba nengok ke sebrang jalan!" ucap Almeer.
"Oh yaaa! yaaa!" aku lambaikan tangan pada Almeer bukan pada kamera.
"Kamu mau kemana?"
"Ke kedai, dompet ketinggalan!" ucap Almeer.
"Aku juga, mau ambil tas!"
"Mau bareng?" Almeer nawarin tumpangan.
"Boleh kalau nggak ngerepotin!"
"Tunggu bentar yah? aku puter balik," ucap Almeer sebelum panggilan telepon ini terputus.
Alhamdulillah ketemu Almeer. Tadinya kalau harus jalan kaki ke kedai lumayan jauh, gempor nih kaki. Kalau pakai taksi sayang sama ongkosnya. Kan hari ini aku beberapa kali naik mobil, nguras kantongnya lumayan dalem.
Tin!
Tin!
Almeer bunyiin klakson.
__ADS_1
"Kamu ngapain disini, Chel?" tanya Almeer, dia keliatan heran gitu. Dia buka jok motornya, ngambil helm dari bagasi.
"Cheeeel...?" Almeer manggil.
"Eh, iya gimana?"
"Kamu abis ngapain? jalan sendirian disini?" tanya Almeer
"Aku? ehm, aku ... habis nganterin pesenan kopi!"
"Bukannya kamu udah balik?"
"Ah, kebetulan ada pesenan dadakan!" ucapku.
"Aduuuh, Al. Please nggak usah nanya sedetail itu. Aku jadi bingung mau ngejawabnya!" batinku.
"Nih, pake dulu helm nya. Mau ke kedai lagi kan?" Almeer pakein aku helm warna putih.
Dia naik ke motornya, nyalain mesin. Sesangkan aku ngerasa kalau ada seseorang yang memperhatikanku. Sontak aku menengok ke belakang, tapi nggak ada apa-apa. Nggak ada orang juga
"Nggak mungkin hantu satpam mau ngikutin aku kan, ya?" gumamku lirih.
"Cheeeel? jadi nggak?" tanya Almeer yang udah duduk di motor matic-nya
"I-iya, jadi Al..." aku nutup kaca helm dan naik ke atas motor.
Kalaunnaik kendaraan jarak perusahaan ke kedai kopi nggak terlalu jauh, cukup beberapa menit aja, asalkan jalanan nggak macet.
"Sanggupnya beli ini soalnya, Chel!" sahut Almeer.
"Bukan maksud aku---"
"Santai aja kaliii..." Almeer ketawa kecil.
Dan motor ini melambat saat memasuki area parkir kedai kopi. Kita berdua turun dari motor, nyantolin helm dan masuk ke kedai kopi.
"Loh kok kalian balik lagi?" mas Wahyu nanya, wajtu liat kita berdua masuk berbarengan.
"Dompet ketinggalan di loker, Mas!" jawab Almeer. Emang mas Wahyu disini yang paling tuwir, jadi kita semua manggil dia Mas termasuk Almeer.
"Aku mau ambil tas!" aku ngejawab duluan sebelum ditanya.
"Emang kalian tuh cocok!" mas Wahyu nyeletuk.
"Sama-sama lupaan!" lanjutnya dengan suara kencengan dikit, mentang-mentang nggak ada pelanggan.
Satu jam lagi kedai tutup. Bagian pastry udah berhenti memproduksi kue-kue enak. Setelah ambil tas di loker, dan Almeer dah ngantongin dompetnya, kita berdua keluar.
"Butuh bantuan?" tanya Almeer pada mas Wahyu yang ngitungin duit.
"Masih ada yang lain, dah sana pulang! anterin aja noh si Rachel, dah malem. Rawan jam segini pulang sendirian," ucap mas Wahyu.
__ADS_1
"Nggak, nggak usah. Aku bisa naik kendaraan umum kok!" aku nyautin.
"Bener kata mas Wahyu, Chel. Udah malem, resiko buat cewek balik sendirian," kata Almeer.
"Akhir-akhir ini angka kriminalitas lagi tinggi, jadi mending kamu dianter Almeer aja. Aku jamin itu bocah lugu kok, kalau macem-macem pelintir aja kupingnya!" sambung mas Wahyu.
"Oh ya udah, kalau nggak ngerepotin mah!" ucapku.
"Ya udah, Mas. Kita balik ya?" Almeer pamit.
"Kita duluan, Mas Wahyu!" aku lambaikan tangan sama mas Wahyu sebelum aku ngikutin Almeer keluar dari kedai.
Akhienya aku naik motor sama Almeer buat ke kosanku. Tapi di tengah jalan, Almeer pegangin oerutnya.
"Kenapa, Al? sakit perut?" aku nanya.
"Cuma kruyukan aja, Chel! lupa belum makan siang!"
"Loh kok sama? aku juga belum!" ucapku spontan.
"Lah bukannya kamu keluar buat makan siang sama keponakan kamu? terus sekarang dia dimana? kok nggak sama kamu?" Almeer nanya sambil terus nyetir.
"Aku cuma nyuapin Nay. Tapi karena jam makan mau abis, jadi aku nggak jadi makan. Dan sekarang dia udah sama orangtuanya. Aku anterin ke rumah sakit, kebetulan papanya lagi dirawat," jelasku.
"Oh, gitu. Ehm, kalau kamu nggak keberatan, kita makan dulu gimana? aku tau nasi goreng kambing yang enak disekitar sini,"
"Boleh, deh! aku juga laper!" jawabku. Kebetulan perutku juga mulai mengeluarkan suara-suara penderitaan.
Akhirnya motor Almeer melipir ke warung tenda nasi goreng kambing.
"Kamu nggak apa-apa kita makan disini?" tanya Almeer, nunjuk warung dengan dagunya.
"Santai aja. Aku juga suka makan di tempat kayak gini kok,"
"Oke deh, gaskeun!" ucap Almeer semangat.
Kita berdua masuk ke dalam warung tenda yang di dalamnya udah ada beberapa orang yang lagi makan.
"Bang!" Almeer ngangkat tangannya. Dan salah satu orang laki-laki menghampiri kami.
"Silakan pesanannya?" laki-laki itu bawa pulpen dan buku kecil.
"Kamu mau apa, Chel?" tanya Almeer.
"Samain aja,"
"Nasu goreng kambing dua sama es jeruk dua. Pedesnya sedeng aja ya?" kata Almeer.
"Baik, ditunggu sebentar, ya..." ucap laki-laki itu.
Tapi lagi-lagi aku merasa ada yang lagi memperhatikan. Aku menengok ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
"Perasaan kayak ada yang ngawasin daritadi," batinku.