Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Dikira Pakai Jampi-Jampi


__ADS_3

Melupakan liburan yang nggak bisa diprediksi, malam ini aku harus mengumpulkan segenap jiwa dan raga, bukan pak raga sorry, buat aktivitas besok pagi yang bakalan menguras energi.


Aku udah dikasih tau sama mas Andri, rentetan scedule-nya pak Raga yang padat merayap.


"Malam ini aku harus tidur lebih awal, supaya besok nggak timbul mata panda," aku bergumam, menyibak selimut dan mau bersiap buat tidur.


Aku juga masih denger kok orang-orang pada cekikikan, ngobrol deket balkon. Tapi hawanya kok beda, padahal kamar nggak pakai ac tapi berasa dingin banget. Nggak mungkin kan hawa dari pegunungan aku bawa kesini.


Mungkin karena terlalu lelah, aku udah nggak peduliin itu. Mau dingin kek, mau sepi atau rame kek bahkan aku nggak sempet say thanks buat badan yang uda aku bawa seharian ini.


Rasanya baru tidur sebentar, tapi ada perasaan lain yang mengusikku.


"Astaghfirullah .... huufh, hhh..." nafasku ngos-ngosan.


Aku ambil kacamata, dan nyari botol minum.


Glek!


Glek!


Glek!


"Jam 3 pagi," aku ngeliat ke arah jam dinding.


Bangun dengan perasaan gelisah kayak gini, pasti karena semalem aku lupa nggak berdoa. Mumpung masih sepertiga malam, aku ambil air wudhu dan mulai menggelar sajadah. Alhamdulillah, aku yang tadinya gelisah sekarang mulai tenang. Sampai aku mendengar ada yang menyapu sepanjang lorong ini.


Sraaaaakk!


Sreeeeekk!


Sraaaaakk!


Sreeeeekk!


Aku yang udah selesai melakukan tahajud segera membereskan mukena dan sajadah


Dan berniat buat tidur lagi, sambil melafalkan beberapa bacaan surat pendek.


"Dah sono, kalau mau ganggu kamarmya si Mirna! kalau perlu bikin jejeritan, biar pada kapok nggak ngegosip mulu...!" gumamku lirih.


Sraaaaakk!

__ADS_1


Sreeeeekk!


Sraaaaakk!


Sreeeeekk!


"Buka pintunya, Cuuuuuu..." nenek dengan suara berat dan serak.


Tok!


Tok!


Tok!


Kedengeran kamar sebelah pintunya diketuk. Bukan pintu kamarku ya, cuma karena jarak yang deket aku jadi bisa denger ketukan pintunya.


"Buka pintunya, Cuuuuu. Nenek kedinginan," ucapnya lagi.


Sedangkan aku yang ngedengerin itu chat ke penghuni kamar sebelah. Tapi baru mau ngetik, eh aku hapus lagi nggak jadi, daripada ntar itu nenek pindah ngetok kamarku gara-gara mengendus sinyal yang terkirim dari kamarku ke kamar sebelah, kan amsyong kita. Lagian kenapa sih nih kosan, bukannya aku udah nggak pakai rambut sambungan. Lah tapi kenapa kosannya malah makin kesini makin angker. Besok aku mau nyoba buat nyari kosan lain lah, lagian bentar lagi gajian jadi aku punya duitlah buat pindah kosan yang lebih cihuy dari ini.


Yaaa, walaupun kupingku terganggu dengan suara-suara menyeramkan malam ini, tapi aku mencoba buat tidur dan nggak memperdulikannya. Mencoba masa bodo seperti yang pak Raga lakukan.


Dan sampai akhirnya aku pun tidur lagi dan suara mengerikan itu berhenti. Mungkin karena yang di kamar sebelah juga nggak ngegubris jadi dia berhenti sendiri.


Wiuh pagi-pagi udah pada ngegosip tuh dengan anduk yang nyampir di pundak.


"Ih pada denger nggak sih?" ucap salah satu member bala-bala tawon.


"Iya lah, gilak. Orang jam segitu aku lagi garap kerjaan, buat presentasi hari ini. Jadi denger banget itu ada suara nenek-nenek nyari cucunya!" ucap Mirna.


Sedangkan aku ngeloyor aja tuh lewat di depan mereka.


"Jangan-jangan tuh nenek nyariin Rachel, Mir! " ucap Tina.


"Bisa jadi, Tin! mungkin si nenek kesini atas panggilannya si Rachel. Coba mana ada perempuan biasa, bisa dapet orang kaya kalau nggak pakai cara-cara mistis!" seru Mirna.


"Iya bener tuh, sebelum dia berubah gitu kan nggak ada teror mistis di kosan kita ini?!" ucap Tini sedangkan yang lain iya iya setuju aja, tanpa tau kebenarannya seperti apa.


Tina dan Mirna sengaja banget dia ngomong setengah tereak biar aku denger, tapi sekali lagi aku sabodo teuing. Orang mau bilang pakai jampi-jampi kek mau pakai apa kek, aku nggak peduli. Yang penting aku nggak pernah ngelakuin itu semua.


Untungnya taksiku udah nyampe di depan, jadi aku langsung bisa pergi ngantor. Tapi di jalan aku sempetin mampir buat beli bubur ayam dua buat aku satu dan buat pak Raga.

__ADS_1


"Ngapain juga aku beliin dia ya? belum tentu dia makan makanan pinggir jalan kayak gini. Kalau dia sakit perut yang ada aku juga yang repot! huufh, btar satu aku kasih OB aja deh," gumamku sambil nenteng makanan menuju lantai atas.


Rambutku masih pendek sebahu ya dan nggak ada niatan buat nyambung rambut lagi, trauma. Lagipula pak Raga juga nggak protes dengan rambut pendekku, jadinsemuanya masih aman sentosa lah ya. Ribet-ribet takut kecolok pas masang soft lens mah masih bisa ditahan, yang penting jangan suruh rambutku disulap jadi panjang dalam waktu satu malam.


Ting!


Pintu lift kebuka dan upsss, ada satu tangan yang nahan pintu lift supaya nggak ketutup.


"Sorry!" ucap Tristan.


Ya, seseorang yang bersamaku saat ini adalah laki-laki yang disukai sama Amel.


Ting!


Pintu lift ketutup.


"Racheeeel...!" teriak Amel.


Aku denger suara Amel tadi, tapi pintu lift keburu nutup dan naik ke atas. Lagian kenapa pada nongol pagi-pagi coba, biasanya kan pada datengnya jam 8 pagi. Lah ini sebelum jam 8 udah pada nyampe di kantor.


"Sorry, lift-nya naik ke atas dulu," ucapku pada Tristan.


"Nggak apa-apa, santai aja, Chel!" sahut Tristan.


"Sekarang susah banget ketemu sama kamu, Chel!" kata Tristan.


"Masa sih?"


"Siang ini kita makan siang bareng gimana?" tanya Tristan.


"Sorry, aku nggak bisa..." ucapku menolak Tristan mentah-mentah.


Dan beraamaan dengan itu, lift sudah sampai di lantai 20.


"Aku duluan ya, Tan?" ucapku yang keluar dari Tristan dan ketika udah diluar aku pencet tombol tutup pintu, jadi aku cuma sekilas ngeliat Tristan kayak mau ngomong tapi keburu pintu lift udah otomatis nutup.


"Huuufh, untung ajah!" aku menghela nafas lega.


Lantai ini masih sepi, aku cuma liat tadi ada cleaning servis yang keluar dari ruangannya pak Raga sambil bawa peralatan kebersihan. Tapi selain itu nggak ada orang lain lagi, termasuk mbak Erna. Belum keliatan batang hidungnya tuh orang.


"Alhamdulillah, pak Raga belum dateng..." ucapku yang meletakkan tas dan juga bubur ayam yang baru dibeli.

__ADS_1


"Kata siapa?" suara pak Raga diiringin pintu yang terbuka.


__ADS_2