
"Mas Liaaam?" aku celingukan nyari.mas Liam. Karena disini cuma ada aku dan pak Raga.
"Dimana mas Liam?" batinku bertanya-tanya.
"Heh, Rachell. Racheeell...?! hey, kamu ngapain?" pak Raga narik dan goyangin bahuku.
"Jangan bersikap aneh, jangan mencari yang tidak ada," pak Raga meningalkan aku sendirian di kamar.
Sedangkan aku yang sedang kalut menjatuhkan badanku di atas kasur, dan mataku mengawang melihat ke arah langit-langit, "Kalau iya kamu mau pergi, kenapa nggak kasih waktu untuk sekedar pamit?" lirihku.
"Dimana mas Liam, Pak? tadi ada kok..." aku panik. Apa dia pergi bersamaan dengan Ajeng dan ibinya. Tapi kenapa dia nggak pamitan?
Setelah hari itu, aku sempet nggak masuk kantor karena sakit. Mungkin karena aku kehilangan banyak energi. Dan yang paling getol nelpon bukan pak Raga melainkan Tristan.
Pak Raga lagi sibuk bolak balik.ke luar negeri. Nggak sama aku, lha wong akunya aja lagi tepar dan itu berhari-hari. Kalau aku dipaksa ikut, yang ada aku bukannya menjadi asisten yang baik malah jadi asisten yang ngrepotin.
Oh ya, sekarang rambutku balik lagi jadi sebahu, udah aku benerin di salon. Yang jelas bukan salon punya tante Ambar. Aku juga belum sempet cerita nih sama Amel perkara rambut sambung yang bikin aku dapet teror mistis.
Selama beberapa hari itu juga, aku sama sekali nggak ketemu sama Liam. Padahal aku udah coba panggil-panggil, sekeras mungkin dan sesering mungkin. Bukannya mas Liam yang muncul, eh malahan si Mirna yang nggedorin pintu dan nyuruh aku jangan tereakan mulu.
Aku nggak tau gimana harus nemuin mas Liam. Hidupku rasanya ada yang kurang.
"Apa aku cari tau dimana dia dirawat ya?" ucapku dalam hati.
"Tapi kan kemarin-kemarin aja dia keliaran kok. Kenapa sekarang malah kayak ilang gitu aja..." aku nyanggah pipi pakai tangan.
Aku jadi inget terakhir kali aku ketemu sama mas Liam.
"Ck, apa mungkin karena itu? nggak mungkin kan?" ucapku mengingat apa yang aku lakukan saat merebut gunting dari tangan pak Raga.
Padahal aku tuh masih lugu, tapi kenapa refleknya malah kesitu.
Plak!
Aku geplak bibirku sendiri.
"Udah kayak bebek aja suka nyosor!" ucapku nyalahin diri sendiri.
"Lagian kenapaaaa, aku malah melakukan pertemuan antara---" aku ngacak-ngacakin rambut.
Nggak ngantor sebenernya bukan cuma karena sakit tapi karena nggak kuat nahan malu ketemu pak Raga. Dikira nantinkita ciwik-ciwik agresif kan. Padahal aku sama dia pacaran sebatas pura-pura, dan yang paling penting itu menjadi yang pertama buatku. Jadi disini aku juga korban dari keadaan.
Total 2 minggu aku nggak berangkat, dan ini definisi magabut yang sebenernya.
drrrttt!
__ADS_1
Ada telfon lagi dari Tristan.
Tapi aku cuekin aja, "Mau apa lagi sih Tristan?"
"Eh, tapi kali aja aku bisa ngorek info dari dia. Secara dia kan suka pedekate sama orang-orang atas. Kalau aku nanya mbak Erna sama aja, dia nggak bakalan ngebocorin apa yang sifatnya rahasia," aku bergumam sendiri.
Drrrtt ... drrrrt!
Dan sebelum panggilan itu berakhir, aku langsung angkat, "Halooo.?!"
"Halo, Chel..."
"Ya, ada apa, Tan?" aku berusaha setenang mungkin supaya nggak terkesan buru-buru.
"Gimana? katanya kamu masih sakit? emang seserius itu?" tanya Tristan.
"Udah nggak kok. Paling besok udah berangkat,"
"Oh, syukurlah. Aku kira kamu sakut berat sampai lama banget nggak masuk kantor. Oh ya, kalau nggak keberatan, aku mau ngajak kamu makan. Kamu mau nggak?" tanya Tristan.
"Duh kepriben maning kiye Gusti? urang kudu kumaha ieu teh?" gumamku dalam hati.
"Gimana, Chel? atau kamu masih nggak enak badan? kalau iya nanti aku kesana kirimin kamu makanan," ucap Tristan.
"Chel...?"
"Ya? ehm, iya. Boleh, tapi jam berapa?" aku sok-sok an nggak butuh.
"Jam 7 aku jemput kamu di kosan gimana?" kata Tristan.
"Aku lagi di luar, ehm ... kita ketemu di tempatnya langsung aja gimana? Karena aku ... ehm, aku lagi kontrol di rumah sakit," ucapku bohong.
"Oh gitu, atau aku jemput kamu di rumah sakit?"
"Nggak, usah. Nanti malah kelamaan, kita ketemu langsung aja di restonya. Kamu share loc aja nanti," aku nggak mau dipaksa.
"Ya udah kalau gitu, see you?!" ucap Tristan sebelum panggilannya terputus.
Sedangkan aku membung nafas, untung aja dia percaya kalau aku lagi kontrol di rumah sakit. Padahal mah boro-boro ke rumah sakit, aku cuma lemes-lemes nggak jelas doang. Dan aku akalin sama minum susu dan jus aja tiap hari dan nonton drakor biar imunnya naik.
Beberapa jam kemudian...
Aku udah di dalam taksi menuju resto yang dipilih Tristan, suasananya habis maghrib gitu. Entah bener atau nggak aku ngeliat ada satu sosok yang duduk di salah satu pengendara yang berada di samping taksi yang aku tumpangi ini. Mbak Kunti nya enak banget nebeng sama mas-mas yang aku yakin nggak tau kalau dia lagi tebengin sama si mbak Kunti itu.
Aku memegang tengkuk, "Kok sekarang aku sering ngeliat yang aneh-aneh ya?"
__ADS_1
"Kenapa, Mbak?" tanya si supir taksi.
"Nggak, Pak. Ehm, ini macetnya lama nggak ya Pak kira-kira?" aku sok nanya.
"Wah, nggak tau juga saya, Mbak. Semoga aja nggak ya, Mbak..." kata si supir taksi.
Bukan apa-apa, nggak enak banget pemandangan di sebelah soalnya. Dan dia yang ngerasa aku liatin, muter kepalanya dan ngeliat ke arahku. Aku pura-pura aja sibuk sama hape, berharap dia nggak tau kalau aku yang daritadi ngelitin dia.
"Pak, jalan dong, Pak..."
"Di depan lampu merah, Mbak. Kalau saya jalan, saya kena tilang!" kata supir taksi.
"Ck, nah itu udah ijo tuh pak ijoooo?!!" aku geplak jok kursi bapaknya dari belakang.
"Astaghfirullah, Mbaaaak?!! sampe kaget saya, Mbaaak..."
"Ayo, Pak?! udah ijo ituu..." aku nunjuk ke depan.
"Iya iya, Mbaaaak. Ini juga mau jalan saya..." kata si bapaknya.
Alhamdulillahnya mobil ini jalan mendahului si pengendara motor tadi. Aku bisa bernafas lega sekarang, soalnya aku nggak mau berurusan lagi sama makhluk-makhluk kayak gitu.
Butuh cuma 20 menit buat nyampe di resto.
"Sudah sampai, Mbak..." ucap si supir.
"Ini, Pak ... makasih ya?" ucapku ngasih duit ke pak supirnya sebelum aku keluar.
Braakk!
Aku tutup pintu mobil dan ngeluat sebuah bangunan dengan cahaya temaram yang ada di depanku ini.
drrrttr!
Ada panggilan masuk dan itu dari Tristan.
"Kamu udah nyampe dimana?" tanya Tristan.
"Baru aja nyampe di restonya nih,"
"Oh ya udah. Langsung masuk aja kaalu gitu. Atau mau aku jemput?" tanya Tristan.
"Nggak usah, aku masuk sendiri aja!"
Aku tutup telepon dan masuk ke dalam resto buat nemuin tuh playboy cap badak.
__ADS_1