Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Cari Jalan Lain


__ADS_3

"Ada yang nyuruh stop, jalannya nggak bisa dilewatin!" ucap pak Raga.


"Bapak yakin ini jalan yang bener? Bapak nggak pakai GPS loh, Pak? Bapak hafal jalan ke resort?" aku merepet. Ya kali pak Raga nglewatin jalan yang salah.


"Kamu meragukan ingatan saya?" pak Raga ngelirik aku dengan sinis.


Lalu dia bergumam lirih, "Sepertinya sih iya, jalan ini..." pak Raga mencoba memajukan sedikut badannya ngeliat ada apaan.


"Tuh kan? dia nggak yakin, hadeeuuuh alamat salah jalan ini mah!" aku dalam hati.


"Iya kok, bener! bener ini jalannya," pak Raga ngomong lirih.


"Gimana, Pak? kita nyasar atau?"


"Sebentar, kamu jangan berisik terus. Masa iya nyasar? bener kok ini jalannya!" kata pak bos.


"Sebentar saya cari tau. Itu kan di depan ada orang," ucap pak Raga. Suasana berkabut, jarak pandang terbatas. Sangat beresiko untuk berkendara disituasi seperti ini.


"Hujan deras, Pak!" Aku cegah pak Raga buat turun, soalnya ujannya beneran deres banget, yang ada dia bisa basah kuyup.


"Siapa juga yang mau turun? saya cuma mau nanya lewat jendela," kata pak Raga.


"Tetep aja, kalau kepala Bapak nongol keluar jendela, kepala Bapak itu basah kena air ujan!" ucapku lagi ngingetin.


"Siapa juga yang mau nongolin kepala? kepala saya berharga, mana mungkin ayaa memperlakukannya dengan sembarangan?" jawab pak Raga, dia berkaca dan merapikan jambulnya dan rambut di samping telinganya.


"Sakarepmu wae lah, Pak...?!" aku udah nggak mau urus, teraerah dia aja mau ngapain juga.


Makin kesini pak Raga makin aneh, makin sering ngaca. Dan satu hal lagi, makin sering bikin kesel dan ujung-ujungnya ribut sama aku. Awalnya aku segan, takut sama nih orang tapi lama-lama kok malah lebih sering ngeselinnya. Apalagi dia bisa-bisanya ngintilin aku sampai kesini, dan merusak acara healing-ku bersama Amel.


Pak Raga neken pedal gasnya dikit-dikit. Dan sekarang aku baru ngeliat emang ada orang ditengah kabut itu, hujan sama sekali belum menampakkan tanda-tanda buat reda.


"Pak, sepertinya bertanya tapi nggak turun rasanya nggak sopan. Di belakang ada payung kan? saya coba nanya sama Bapak yang di depan itu, kalau di daerah kayak gini kita harus tau adab, Pak..." ucapku yang julurin badan ke belakang. Aku ambil payung lipet.


"Saya turun," ucapku tapi tanganku segera dicekal pak bos. Iya tangan diiginku bersentuhan dengan tangan pak Raga yang juga sama dinginnya.


"Hujan deras, nanti kalau kamu kepleset, yang ada malah tambah bikin repot," ucap pak bos.

__ADS_1


"Saya aja yang turun!" pak bos merebut payung yang ada di tanganku. Dia melepas jasnya dulu, dan kasihin ke aku.


Pak Raga buka pintu mobil dan membuka payung sebelum menembus derasnya hujan. Aku cuma ngeliat pak Raga samar-samar.


Dan tiba-tiba...


Ceklek! Braaaakk!


Ada yang buka dan kemudian nutup pintu mobil di bagian belakang.


Terdengar deru nafas yang berat dan juga rendah, "Hhhhhrrrrghh...!"


Woy nggak lucu woy, nggak mungkin kan pak Raga yang buka, terus duduk disitu. Orang noh pak Raga lagi nyamperin orang dengan jas ujan warna kuning.


"Terus siaaaapaa yang di belakang akuuuh? ih ih ih, males ah!" ucapku dalam hati.


Suara itu masih kedengeran, apa mungkin ini orang yang mau numpang karena ujan? tapi kan nggak sopan ya main masuk aja, nggak permisi atau ijin sama yang punya..." ucapku lagi di dalam hati.


Dengan segenap keberanian, aku mulai nengok ke arah belakang. Lagi pula aku liat pak Raga udah jalan ke arah mobil.


"Heh, kamu siapaaa?" aku pasang muka garang.


"Kamu nanyeeeaaak?" ucap pemuda itu dengan alay.


"Heh, jamet?! siapa yang nyuruh kamu naik? hem?" Aku tambahin level galaknya.


"Kamu nanyeeaaaakk?" ucapnya lagi.


Dan pak Raga tiba-tiba buka pintu mobil dan masuk ke dalam, dia tutup payungnya.


"Uuuh, kan! jadi basah jambul saya," pak Raga sibuk benerin rambutnya. Aku yang semula nengok ke belakang jadi malah ngeliatin pak Raga.


"Heh, kamu kenapa liatin saya begitu?" tanya pak Raga.


"Siapa juga yang ngeliatin Bapak? orang saya mau kasih tau kalau tuh ada penumpang gelap!" ucapku nunjuk jok tengah. Pak Raga muter badannya dan mencoba ngeliat siapa yang aku maksud.


"Mana?" tanya pak Raga.

__ADS_1


"Di jok tengah it--tuuh..." aku melongo saat pemuda tadi udah nggak ada, gone begitu saja.


"Ck, beneran ada tadi, Paaak!" aku nggak mau dituduh ngehalu.


"Iya iya iya, saya percaya!" kata pak Raga yang balik lagi madep ke depan.


"Saya nggak ngehalu, Paak..."


"Iya Racheeel, saya percaya. Saya sudah tau kalau kamu tadi habis ngobrol sama setan," ucap pak Raga.


"Kalau Bapak tau kenapa Bapak diem aja?"


"Orang dianya sudah pergi," sahut pak Raga.


Pak Raga pakai sabuk pengamannya lagi, dia memundurkan mobilnya sedikit.


"Jalan yang di depan ada material longsoran, jadi kita harus putar arah, cari jalan alternatif," kata pak bos yang putar balik dan mencari jalan lain menuju resort.


"Jangan sampai salah jalan loh, Pak..." aku ngingetin.


"Tenang aja, tadi kan kamu sudah ketemu setan. Berarti kali ini kita nggak mungkin ketemu setan untuk yang kedua kalinya," ucap pak Raga dengan pedenya.


Nggak ada sinyal jadi kita putar arah berbekal informasi yang diperoleh pak bos dari orang yang pak Raga temui tadi. Mungkin bajunya kebasahan, aku liat bibir pak Raga yang biasanya merah sekarang berubah jadi pucat. Kayaknya doi kedinginan.


"Anda baik-baik saja, Pak?"


"Sshhh, ini hari libur j-jadi ubah panggilanmu itu, Rachel. Kan sudah saya ingatkan berkali-kali, m-masih aja kamu melupakan hal itu!" ucap pak Raga dengan gigi yang gemertak.


"Iya iya iya, Pak. Namanya juga pacar pura-pura, jadi wajar kalau saya juga sering lupa. Sini, biar saya saja yang nyetir," aku menawarkan bantuan.


"Kamu pikir saya nggak bisa nyetir?" pak Raga melirikku sekilas.


"Saya cuma mau nolongin Pak Raga sayang. Jangankan cuma nolongin nyetir. Lah saya kan udah nolongin pak Sayang kabur dari pertanyaan 'kapan kawin'? iya, kan?"


"Iiisssshhh, menyebalkan!" ucapnya.


"Bapak juga..." kataku lirih.

__ADS_1


__ADS_2