
Aku klik kontak nama Tristan, dengan segala pertimbangan akhirnya aku telfon. Atur dulu volumenya biar pak Raga nggak kebangun.
"Halo, Chel...? tumben nelfon ada apa? kangen ya?" si Tristan pagi-pagi udah ngehalu.
"Kangen dari sedotan es teh kali! nggak ada!nggak ada kangen-kangenan,"
"Terus ngapain jam segini nelfon kalau nggak kangen?" tanya Tristan.
"Aku mau nanya, kok di kantor ada gosip aku jadian sama kamu?"
"Mana aku tau Rachel. Yaa ... itu mungkin dari para buzzer cinta yang emang melihat kita ini sebenernya cocok buat jadi sepasang kekasih, kan? lagian harusnya kamu bersyukur digosipin sama aku, coba kalau digosipin sama mang Juki, satpam Kantor. Bisa digebuk kamu sama bininya," Tristan merepet terus.
"Intinya tolong klarifikasi ke orang-orang kalau kita ini nggak ada hubungan apa-apa, Tan?!"
"Dih, mereka yang ribut kenapa juga aku yang ribet?"
"Pokoknya klarifikasi, aku nggak mau tau?! daaah...?!" aku nutup telfon dengan napas yang terengah-engah.
"Udah selesai marah-marahnya? kuping saya ngang ngung ngng ngung denger kamu telfon tadi?!" suara pak Raga ngagetin aku.
"Astaghfirullaah...?!"
"Harusnya saya yang bilang astaghfirullah?! baru juga ngeliyep sebentar, kamu sudah berisik?! untung saya nggak jantungan?!" pak Raga misuh-misuh.
"Iya iya maap, Pak..."
Ya ampun, Pak Raga. Kayaknya nggak bisa sehari aja ya gitu, jangan merong-merong. Masih untung aku kena cuti kemarin-kemarin, jadi kupingku aman dari bentakan pak Raga.
"Kamu istirahat, saya mau keluar dulu," kata pak Raga.
"Bapak mau kemana? mau nengokin mas Liam? kalau iya saya ikut, Pak. Saya juga pengen tau keadaannya gimana..." aku buka selimut dan bersiap buat geret tiang infus.
"Eh, eh, eh, siapa yang ngijinin kamu buat turun dari tempat tidur itu? hem?" pak Raga mendekat dengan tatapan yang aduhai sungguh tajamnyaaaa.
"Ayo, balik lagi?! cepet balik lagi...?!" pak Raga ngibasin tangannya.
__ADS_1
Sontak aku langsung balik ke tempat tidur dan kembali ke posisi semula.
Dia mendekat dan mendoyongkan badannya ke depan, "Jangan turun dari sini, tanpa seizin dariku, mengerti?"
Aku ngangguk, paham.
"Bagus?!" ucap pak Raga. Dia tegakin badan dan masukin kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Nanti kamu boleh menjenguk Liam, kalau kondisinya sudah memungkinkan untuk di jenguk orang selain keluarganya. Dia masih sangat lemah dan butuh banyak istirahat, begitu juga dengan kamu," ucap pak Raga yang kemudian keluar dari ruang rawatku.
Sedangkan setelah pak Raga keluar aku sendirian lagi dan lagi. Sesaat aku keinget sama mimpiku, disana ada mas Liam yang berulang kali bilang aku disuruh menepati janji. Padahal janji yang dia maksud, berat banget buat diwujudin.
"Mas Liam suka ngadi-ngadi emang ya, aku disuruh disamping pak Raga. Aku dan pak Raga bersama kan hanya sebatas hubungan yang saling menguntungkan, semacam simbiosis mutualisme. Bukan untuk jadi sehidup secentong, elah semetong?!"
"Ini mah definisi cinta datang nggak sesuai situasi dan kondisi," aku merepet sendiri.
Aku nurut nggak kemana-mana, paling jauh aku ke toilet itu juga kan ada di dalam kamar ini, selebihnya aku cuma nonton tivi, tidur, nonton tivi, tidur, sampe tau-tau udah ubanan, cucu sampe 5 biji, saking lamanya begitu terus tuh?! eh nggaknya nggak! Yeuh si Rachel kalau ngomong suka nggak dipikir!
Sorenya, ada tuh yang ngetok pintu. Wah, ini pasti pak Raga nih mau nengokin aku. Dan pas pintu dibuka, ternyata bukan pak Raga yang nongol, melainkan mbak Enjel.
"Permisi, Nona..." mbak Enjel masuk dengan sangat sopan. Padahal kan aku bukan siapa-siapa ya, harusnya dia nggak usah begitu banget yak.
"Masuk-masuk mbak Enjel..." aku bersikap seramah mungkin.
Mbak Enjel masuk bawa jinjingan, kayaknya sih baju, kayaknya yaaaa.
"Saya datang kemari atas perintah tuan Raga, untuk memberikan baju ganti untuk Nona. Dan juga makanan yang akan hadir sebentar lagi," ucap mbak Enjel.
Dan bener dong, habis mbak Enjel ngomong gitu. Ada orang lain lagi yang dateng bawa makanan, buanyak banget gengs. Mungkin pak Raga mikir kalau aku ini kurang gizi ya, sampai aku dikirim makanan sebanyak ini. Atau jangan-jangan semua ini bakal dikalkulasi dan gajiku dipotong buat ngebayar ini semua? Oooooh, tidaaaaackkkk?!
"Sudah semua, saya permisi, Nona.." ucap salah satu pria yang tugasnya nganterin makanan.
"Oh ya ya ya, makasih mas..." kataku.
Dan setelah ma-mas tadi pergi, mbak Enjel udah siap-siap nih mau pergi juga.
__ADS_1
"Kalau begitu saya juga permisi, Nona..." kata mbak Enjel tapi aku cegah.
"Tunggu dulu, Mbak?!" aku nggak ngebolehin mbak Enjel buat keluar.
"Ehm, mbak Enjel saya mau minta tolong," lanjutku.
"Minta tolong apa, Nona?"
"Saya pengen ngejengukin mas Liam," ucapku takut-takut.
"Ehm begini Nona---"
"Pleaseeee, pleaseeee banget mbak Enjel?! pak Raga nggak kesini, kan?" aku mastiin.
"Iya, tapi---"
"Saya cuma pengen ngeliat keadaannya aja, Mbak. Saya sampe dimiimpiin segala loh, Mbak. Saya pengen mastiin keadaannya baik-baik aja, pleasee. Pak Raga nggak bakalan tau kalau mbak Enjel nggak ngasih tau. Lagian saya liatnya dari jauh kok, nggak apa-apa. Yang penting saya bisa ngeliat mas Liam. Luat dari kaca aja juga nggak apa-apa, kok..." aku mulai maksa nih.
"Saya tidak berani, Nona. Karena pak Raga akan datang dalam beberapa menit lagi. Sebaiknya anda baik-baik di ruang ini daripada anda kena masalah nantinya. Tuan Liam sekarang sudah lebih baik," ucap mbak Enjel.
"Kesini? pak Raga?"
"Anda benar, Nona..." ucap mbak Enjel.
"Jadi, nggak bisa nih nganterin ngeliat mas Liam sebentar aja," aku masih aja maksa.
"Untuk sekarang tidak bisa, Nona..." kata mbak Enjel.
"Ya ... ya sudah, hemm" ucapku lemas, nggak berdaya.
"Baik, Nona. Kalau begitu saya permisi," ucap mbak Enjel berdiri dan membungkuk sebagai tanda penghormatannya.
Mbak Enjel keluar dari kamarku. Dan harapanku buat ngeliat mas Liam pupus sudah. Wes wes angel pokoke.
Sekarang mending tarik selimut dan tidur. Udah nggak selera makan juga, biarin aja pak Raga nantinya yang makan semua makanan ini. Itu meja aja penuh, belum lagi yang tadi ditaruh di kulkas.
__ADS_1
"Nasibb ya nasiiib..." ucapku dalam hati.