Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Masih Nggak Inget Juga


__ADS_3

"Maaaaaass, masss Liaam? Kamu nggak kenapa-napa, Mas?" aku menghampirinya yang terjatuh di lantai dekat tempat tidur pasien.


"Aku nggak kenapa-napa kok!" ucap mas Liam.


Aku berusaha membantunya berdiri.


"Kamu kenapa bisa sampai jatuh? Kepleset atau?"


"Aku nggak apa-apa, aku cuma lagi latihan jalan!" mas Liam motong ucapanku.


"Makasih..." ucap mas Liam saat berhasil kembali ke tempat tidurnya.


Aku tutup setengah badannya pakai selimut.


"Apa ada yang sakit?"


"Nggak kok, makasih Rachel kamu udah nolongin aku. Tadinya aku pikir aku bisa mencoba buat berjalan, rasanya nggak guna banget duduk dan tiduran disini seharian," ucapnya.


"Rachel? Kamu udah inget siapa aku? Iya?" mataku berbinar ria, aku menunjuk diriku sendiri.


"Ehm," Mas Liam cuma berdehem.


"Mas Liam udah inget aku? aku Rachel---"


"Pacarnya kak Raga, iya kan?" serobot mas Liam.


"Pacar?" lirihku.


"Apa iya aku masih pacar kakaknya? kayaknya udah expired deh hubungan kita, udah end semenjak aku out dari kantor!" batinku, jafi keinget pak Raga.


"Loh, kok malah ngelamun?" pertanyaan mas Liam membuyarkan pikiranku udah terbang kesana kemari pakai baling-baling bambu.


"Aku kira kamu inget kalau kita pernah dekat sebelum ini, tapi ternyata..." aku tersenyum getir.


Aku salah karena udah terlalu seneng, mas Liam nyebut namaku seperti kita dua orang yang akrab. Nggak taunya dia bersikap begitu karena inget aku ini pacar kakaknya.


"Rachel?" panggil mas Liam.


"Ah, ya. Maaf..." aku senyum semampunya. Perasaanku sekarang lebih biasa aja. Nggak yang gimana-gimana, cuma sedikit kecewa aja, karena dia nggak inget kita pernah ketemu dan sempet deket.


Mas Liam nampaknya lagi menunggu aku mengatakan sesuatu, mungkin dia butuh alasan kenapa tau-tau aku bisa ada disini.


"Aku ... aku kebetulan lagi jenguk kakak iparku, dan ... aku inget kalau kamu di rawat disini, dan .. ehm, jadi aku sekalian mampir. Maaf nggak bawa apa-apa," aku naikin kacamata minusku yang melorot lagi melorot lagi.

__ADS_1


"Terima kasih, kamu udah repot-repot dateng kesini. Sudah dijenguk aja aku ngerasa seneng kok," mas Liam senyum.


Emang nih orang baik banget, aku merasa dari cara bicaranya dan cara dia menatap aku. Friendly dan membuat nyaman.


"Bagaimana keadaan kamu?"


"Ya, lumayan seperti yang kamu lihat. Hanya saja, aku masih perlu terapi untuk menggerakkan kaki. Karena aku terlalu lama tertidur, jadi aku harus melatih lagi otot-ototku supaya bekerja seperti semula," jelas mas Liam.


"Aku yakin hari itu akan tiba, dimana kamu bisa berdiri tanpa dan berjalan bantuan siapapun," aku kasih dia sepenggal semangat.


"Terima kasih. Duduklah, ambil minuman sendiri di kulkas, maaf disini tamu harus berlaku mandiri..." ucap mas Liam, terkekeh.


"Nggak usah. Lagian aku nggak haus kok. Atau mungkin kamu yang haus? biar aku ambilkan," aku menawarinya bantuan.


"Nggak, nggak. Aku nggak haus, lagi pula minumanku sangat dekat, tuh..." mas Liam menunjuk botol mineral dan gelas yang berada di meja yang ada rodanya, yang diletakkan di samping tempat tidurnya.


Aku jadi kikuk sendiri. Bingung harus ngomong apalagi, sedangkan mata mas Liam juga nggak ngomong apa-apa. Seketika aku inget pak Raga.


"Apa aku minta tolong mas Liam aja ya? Dia kan adiknya, kalau dia yang nelfon pasti diangkat sama pak Raga " batinku.


"Ehmmm, Mas Liam..." aku panggil dengan ragu.


"Ya?"


"Ngomong aja, apa yang bisa aku bantu..."


"Aku cuma mau minta tolong, telfon pak Raga ehm maksudku, Kak Raga. Dia sekarang ada dimana, karena daritadi aku hubungi nggak bisa," ucapku.


"Okey," mas Liam mengambil haoenya yang ternyata ada di dalam sakunya. Ketika dia udah nemoelin hape ke kuping lantas aku meminta satu hal lagi.


"Tapi jangan bilang kalau aku yang minta tolong!"


"Apa kalian sedang marahan?" tanya mas Liam.


Baru juga mau aku jawab, tiba-tiba panggilan itu tersambung.


"Halo? Kak Raga? Kakak ada dimana?" tanya mas Liam, matanya melihat ke arahku.


"Di kantor? Oh ... Nggak, nggak ada apa-apa. Aku cuma ingin tau keadaan Kakak. Sudah lama kakak tidak menjengukku. Oke, ya! Aku mengerti. Ya sudah, lain waktu harus datang kemari. Ya sudah, bye!" ucap mas Liam mentudahi panggilan teleponnya.


"Dia ada di kantor," ucap mas Liam.


"Terima kasih infonya. Oh ya, boleh nggak kalau kita tukeran nomor hape?" tanyaku.

__ADS_1


"Tentu..." sahut mas Liam.


Kita tukeran nomor hape, mungkin suatu saat ini bakal berguna buat aku. Entahlah, perasaanku saat ini udah legowo kalau emang mas Liam nggak inget aku, tapi minimal aku bisa mencegah kakaknya buat ikutan ngelupain aku juga.


"Udah aku save nomornya. Kalau begitu, aku pamit. Semoga lekas pulih..." ucapku pada mas Liam.


Ketika aku mau berbalik mas Liam bilang sesuatu.


"Kak Raga orangnya memang keras terkadang menyebalkan, tapi hatinya baik. Ucapannya yang nggak enak nggak usah diambil hati," kata mas Liam.


"Aku tau..." Aku ngangguk dan senyum sebelum aku keluar ruangan ini buat melanjutkan tujuan utamaku, mencari jiwa ragaku.


Aku lari ke arah lift, buat turun ke bawah. Beberapa menit dalam pintu besi ini bikin aku nggak sabaran.


"Sabar, Racheeeel. Jangan grusa-grusu. Sabar..." ucapku menenangkan diri sendiri.


Ting!


Pintu lift kebuka, aku segera keluar dan mencari taksi buat ke perusahaan. Walaupun sebenernya cukup memacu jantung ya kembali menapakkan kaki ke perusahaan dimana aku udah nggak kerja lagi disana.


Sepanjang perjalanan aku mencoba mencari alasan supaya aku bisa masuk ke dalam.


Makin dekat makin deg-deg an.


"Kalau semua orang tau aku dipecat, mana mungkin aku dikasih masuk. Aduh gimana ya? Ayo Rachel mikir dong mikir..." aku ketukin jidatku pakai jari telunjuk.


Nggak ada angin nggak ada ujan, tiba-tiba ujan.


"Pak, Pak. Melipir ke kedai kopi dekat sana!"


"Taoi Mbaak?"


"Ongkosnya aku tambahin, tenang aja!" ucapku.


"Siap, mbak!" uxmcao si supir.


Aku pun balik lagi ke kedai kopi tempat aku kerja yang kebetulan kumayan dekat dengan oerusahaan pak Raga. Sampai di dalem ternyata Almeer udah pulang, adanya mas Wahyu.


"Mas, mas! Bungkusin coffee latte sama soft cake tiramisu. Ini uangnya, aku ganti baju dulu!" aku kasih uangnya ke mas Wahyu, tanpa ngasih waktu buat mas Wahyu sekedar nanya 'ini buat siapa?'.


Aku cepet-cepet ganti baju seragam serba item, plus topi. Aku telfon mas Liam.


"Mas Liaaam, aku minta tolong sekali lagi boleh?" ucapku, menunggu jawaban dari mas Liam.

__ADS_1


__ADS_2