Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Ketemu Lagi Setan Jamet


__ADS_3

Paginya aku pulang duluan daripada rombongan keluarganya Amel. Sebenernya aku nggak enak tapi mau gimana lagi. Aku mah manut-manut aja sama pak Raga yang jadi bos sekaligus pacar at the same time. Dia nungguin aku yang lagi pamitan.


"Rachel duluan ya, Tan...!" ucapku pada tante Ira, kita sempet pekukan sebentar. Sedangkan sama Om Ibram aku cuma salaman aja.


"Pamit pulang duluan, Om!"


"Hati-hati. Oh ya katanya jalan yang biasa udah bisa dilalui. Jadi kalian nggak usah lewat jalur alternatif," kata Om Ibram.


"Ya Om...!" aku nyautin.


"Mel, Naga, aku duluan..." aku lihat ke arah adik kakak itu.


"Hati-hati, Chel. Kalau dah sampai kosan kabari yah?" kata


"Pasti!" ucapku, sedangkan Naga kayak bocil yang lagi ngambek.


"Permisi," ucap pak Raga pada semua orang, dia menunjukkan sisi gentlenya sebagai pria.


"Ayo, Chel...!" ajak pak Raga.


Aku melayangkan senyuman sekilas sebelum pergi. Tangan kami saling bertaut satu sama lain sampai menuju mobil. Barang bawaanku dan pak Raga udah di mobil semua. Awalnya aku pengennya pulang sorean aja bareng keluarganya Amel. Tapi karena eh karena besok jadwal pa Raga padet merayap, jadinkita pulang lebih pagi biar bisa istirahat buat acara besok.


Intinya liburan kali ini lumayan kacau ya, aku aja nggak sempet nyicipin main di kolam renangnya yang katanya view-nya madep pepohonan. Ya walaupun bisa renang juga nggak, tapi minimal bisa selfie.


Pak Raga ngeluarin hapenya, dan dia menyuruhku buat mendekat.


"Kesini, kita buat kenangan dulu!" kata Pak Sayang.


"Sekarang mana hapemu!" pak Raga menengadahkan tangannya.


"Buat apa?"


Tanpa menunggu aku siap, dia melakukan beberapa jepretan. Di foto itu jadi aku kayak ngeliatin ke pak Raga bukannya ke kamera.


"Sekarang kamu harus jadikan sebagai wallpaper!" kata pak Raga, dia ngotak atik hapeku yang nggak aku lock. Aku irangnya pelupa, jadi hape nggak aku kunci dengan pola ataupun dengan sandi angka.


Berasa dibaca pikirannya sama pak Raga, aku pun mendekat dan kita berfoto berdua. Lumayan wes lah daripada lumanyun.


Setelah sempat. membuat kenangan kata pak Raga, kita masuk ke dalam mobil. Aku sih penasaran, kenapa nih orang bisa menclok kesini tanpa bawa orang suruhan yang biasanya ngikutin pak Raga. Ya nggak selalu ngebawa sih, tapi ini kan ke luar kota. Apa dia nggak takut kalau terjadi sesuatu di jalan apa gimana. Secara dia pengusaha sukses, pasti banyak yang iri, kecuali kita rakyat jelata mah. Keluar tanpa pengawalan juga aman-aman bae.

__ADS_1


Untung keluar resort-nya setelah kita sarapan pagi, kalau nggak bisa dibayangkan aku bakal kedinginannya kayak apa.


Tiba-tiba di jalanan yang waktu itu sempat ditutup karena ada material longsor yang sebenernya nggak parah, aku ngeliat sosok pemuda yang waktu itu pernah naik ke mobil ini tanpa permisi.


Dia dadah-dadah ke arah mobilku dengan memamerkan senyum jametnya.


"Dih setan pagi-pagi udah mangkal aja!" aku bergidig ngeri kalau inget oemuda itu bukan manusia, tapi syaithonirrojim.


Pokoknya sampai detik ini, setan yang paling glowing bak manekin cuma mas Liam doang. Waktu arwahnya masih keliaran ya, belum balik ke tubuh aslinya.


"Kenapa diam?" tanya pak Raga.


"Nggak apa-apa, cuma---"


"Cuma apa?"


"Cuma lagi kepikiran sesuatu," jawabku.


"Apakah soal Liam?" tanya pak Raga.


"Nggak, bukan Liam. Tapi aku nyesel nggak ikut fan meetingnya babang Ichang," aku dengan muka memelas.


"Babang Ichang bukan kacang!" aku kesel banget.


"Siapa dia?" tanya pak Raga.


"My favorite human! actor dan penyanyi dari korea!"


"Oh..." tanggapan pak Raga.


"Kenapa nggak bisa ikut?" tanya pak Raga sambil nyetir.


"Ketinggalan info, dan nggak ada duit buat beli tiketnya. Lagian saya terlalu sibuk ngurusin bos, sampai liburan aja disamperin..." jawabku sambil nyindir pak Raga, tapi yang lagi disindir malah santuy bae.


Kirain ditanya-tanya tuh mau ditawarin, kali aja dia mau datengin doi kesini. Ternyata hanya sebatas obrolan di mobil supaya nggak basi.


Pak Raga fokeus nyetir sementara aku nontonin hape. Iya merana aku dipojokan, ngeliatin postingan-postingan keseruan yang diunggah, dan aku nggak ada di dalamnya.


"Kalau tau doi nginep dimana, aku bela-belain samperin deh. Nongkrong dan begadang di depan teras hotelnya juga aku jabanin kalau perlu, huhuhu..." ucapku yang ingin menggapai seseorang yang menjadi idola sejuta umat.

__ADS_1


Baik Liam atau pun Ichang, menjadi manusia yang sulit sekali digapai. Atau mungkin aku sendiri yang emang belum dipantaskan Tuhan buat dekat dengan mereka. Malah deket sama nih bos gualak yang maksa jadi pacar. Kalau mikirnya kesitu, tambah merana yang ada.


Beberapa jam perjalanan akhirnya kita hampir sampai di kosanku.


"Pak berhenti di depan sana aja, nggak usah masuk!" ucapku.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa, aku berhenti disana aja," kataku lagi.


"Kamu lagi janjian sama orang?" tanya pak Raga.


"Nggak ada, nggak janjian sama siapa-siapa. Saya cuma nggak mau ada gosip yang nggak enak," kataku.


Mungkin lagi kesambet hantu baik atau gimana, mobil pak Raga berhenti di tempat yang aku tunjuk tadi.


Setelah mengambil tas jinjing, aku pun keluar.


Aku menolak mobil ini parkir di depan bangunan yang menjadi tempat istirahatku selama ini, males disamperin bala-bala tawon.


Kan aku berangkat sama Amel, masa iya aku pulang sama pak Raga? udah pasti akan berhembus gosip yang nggak enak.


Aku merasa ada seseorang yang mengikuti, aku menengok ternyata pak Raga, tapi hanya berjalan beberapa langkh aja.


"Syukurlah nggak ngikutin terus," ucapku saat udah masuk ke gerbang kosan dan nggak ngeliat sosok pak Raga.


Aku melewati anak tangga untuk mencapai kamarku di lantai atas.


"Wikiiidiiiiwww, yang kemarin malem kluar tengah malem, sekarang udah balik gengs!" teriak mirna.


Dan gerombolan tawon ada keluar dari basecamp, kamarnya Mirna. Aku sih cuek aja jalan ke kamar tanpa memperdulikan mereka yang ngang ngung ngang ngung nggak jelas.


Au menengok ke bala-bala tawon sekilas sebelum aku masuk ke dalam kamar.


"Curiga dia pakai jampi-jampi! pinter banget di nyari sasarannya. Udah gangteng, orang kaya lagi!" ucap salah satu bala-bala tawon yang kedengeran di telingaku.


"Cheeeel, bagi dong ilmunya, hahahah" teriak salah satu tawon.


"Sorry ya, aku nggak level pake gituan!" aku bergumam sendiri nanggepin omongan nggak mutu sambil nutup pintu.

__ADS_1


__ADS_2