
Sekarang aku yang ambil alih mobil pak Raga. Doi lagi menggigil, padahal ac udah seminim mungkin.
"Kenapa liat saya begitu?" tanya pak Raga.
"Saya liat jalan, Pak..." ucapku nunjuk ke depan.
"Ck, saya nggak lemah ya, Rachel..."
"Loh, saya nggak bilang kalau Bapak lemah," jawabku.
"Tapi wajah kamu itu...!"
"Ada apa dengan wajah saya, Pak?" aku tanya tanpa mengalihkan pandanganku dari jalan.
"Ck, sudahlah...?!"
Pak Raga nggak mau ngejawabin lagi. Tangannya dia lipet di depan dada.
"Ini ke kiri apa ke kanan, Pak?"
"Lurus!" jawab pak Raga.
"Nggak ada lurus, Pak!"
"Kanan...!" sahut pak Raga ogah-ogahan.
Hih, aku yang lagi patah hati, lah dia yang mukanya ditekuk mulu daritadi. Pak Raga makin kesini makin aneh menurutku.
Aku nyetir dengan sangat hati-hati, dengan kecepatan rendah karena jarak pandang yang terbatas. Sementara pak Raga diem-diem bae, mungkin cara nyetirku enak makanya dia kayaknya menikmati perjalanan di tengah guyuran hujan dan petir ini.
"Lah, tidur?" aku melirik ke kursinya pak Raga. Tapi bibirnya itu membiru.
Aku panik, "Apa mungkin dia hipotermia?"
"Aduh gimana nih? kalau ada apa-apa sama si bos, yang ada aku yang kena masalah," ucapku yang mencoba untuk mencari tempat yang bisa buat markirin mobil.
Aku liat di depan ada plang rumah makan, kebetulan banget parkirannya juga luas. Dan mobil ini aku berhentiin di depan warung makan tang berbentuk saung-saung gitu. Aku lepasin sabuk pengaman dan bergeser
"Pak, Pak bos Sayang? Pak..." aku goyang-goyangin bahu pak Raga. Tapi dia nggak ada respon.
"Ckk, duuuh. Katanya kuat, malah sakit kayak gini..." aku ngedumel.
"Duh gimana niiiiih?" kepalaku mendadak puyeng.
__ADS_1
Aku lepasin juga sabuk pengaman yang membelit pak Raga. Aku atur posisi duduknya biar agak leyehan dikit. Diluar masih ujan gede, aku juga bingung gimana bawa pak Raga buat neduh di warung itu.
"Pak, Pak bangun dong! Paaaaak, bukan waktu yang tepat buat sakit, Paaaaak!" aku tepok-tepokin pipinya. Tetep nggak ada respon. Aku pegang telapak tangannya yabg dingin, aku tiup-tiupin.
"Saya keluar dulu ya, Pak. Saya mau nyari bantuan, karena nggak mungkin saya bisa bawa Pak Raga keluar sendirian..." ucapku sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya.
Aku balik ke posisi dudukku, dan berniat buat keluar. Baru aja mau buka pintu...
JEDDDEEERRRRRRR!!!!
JEDDEEEEEERRRRR!!!!
Kilatan petir menyambar, sontak aku tutup lagi pintu mobil.
"Huuuufhhh, bisa kesamber petir kalau nekat keluar," aku bergumam sendiri. Saking stressnya aku taruh kepalaku di stir mobil. Sesaat aku inget lagi pak bos.
"Astaga, kenapa aku bisa lupa!" aku kembali angkat wajah dan negakin badan yang semula ngelambruk kaya baju kusut.
"Padahal bajunya nggak basah-basah amat. Kok bisa dia kedinginan kayak gini sih..." aku gosok-gosokin tanganku dan tempelin ke wajahnya.
Tapi tiba-tiba aja tangan pak Raga mendekapku, sampe badanku yang kaget nyungsruk ke pak Raga "Jangan, jangan pergi ya ... jangan..." ucapnya menggigil, tapi tangannya enak banget gitu dikira kira bantal guling kali.
"Iiish, jangan nyari kesempatan deh, Paaaak..." aku berusaha untuk bangun tapi nggak bisa. Karena wajah pak Raga makin pucet, dekapan tangannya terlepas seketika.
Aku berusaha buat narik badan pak Raga yang lemes banget, dia masih setengah sadar.
Aku peluk dia, berusaha menyalurkan hawa panas dengan menggosok punggungnya.
"Ngaruh nggak sih?" aku sampe pegel meluk dia kayak gini, soalnya dia yang lemes jadi kan berat badan dia kita yang nanggung.
Aku kembaliin pak Raga senderan di kursi lagi.
"Lumayan, nggak sebiru tadi..." ucapku mengusap pelan bibir pak Raga. Aku melihat wajah yang biasanya pasang wajah sombong dan sengak itu sekarang tidur dengan raut wajah yang pucat. Aku masih mengusapnya lembut dengan jariku, aku perlahan mendekat, melihatnya lebih dekat lagi. Dan ketika jarak wajah kami hanya beberapa senti, aku segera tersadar.
"Astagaaa, ini nggak bener!" aku gelengin kepala. Aku segera menjauh, tapi ada tangan yang mendorong punggungku hingga ada satu benturan di bagian lembut yang mirip dengan marshmellow.
Sesaat aku terdiam saat melihat matanya sedikit terbuka, dan aku merasakan ada aliran listrik yang menyengat tubuhku. Seketika aku tersadar dan melepaskan diri dari pak Raga dan kembali ke tempat dudukku. Aku merapikan rambut dan segera pasangin pak Raga sabuk pengaman.
"Kita lanjutkan perjalanan lagi, Pak," ucapku nggak berani natap wajah pak bos, aku tarik seatbelt dan menginjak pedal gas meninggalkan tempat ini.
Sepanjang perjalanan aku nggak berani nengok ke samping, jadi kamu jangan pada nanyeaaak pak Raga udah melek atau masih merem.
Dalam hati aku sih berdoa semoga kejadian yang nggak sengaja tadi tuh pak Raga dalam keadaan nggak sadar ya.
__ADS_1
Hujan udah mulai tinggal gerimis, tapi daerah ini masih berkabut. Ya namanya juga pegunungan, kalau turun hujan pasti biasa kan ada kabut yang menyertai.
Aku berhenti ditempat aman, sebelum aku nyalain hape lagi dan nyari jalan ke resort lewat map.
"Alhamdulillah, bentar lagi nyampe..." ucapku ketika melihat titik kita berhenti lumayan dekat dengan resort tempatku menginap sama Amel.
Setelah 10 menit berkendara, akhirnya kita sampai juga di tempat tujuan.
Aku lepas sabuk pengaman, tapi aku ragu buat nengok ke samping.
"Tenang Rachel, pasti tadi pak Raga lagi diantara sadar dan nggak sadar. Anggap aja nggak terjadi apa-apa, main bureng aja Racheeel..." ucapku dalam hati.
Dengan ragu-ragu aku tengok ke arah pak Raga. Doi masih merem, berarti aman ya. Mukanya juga udah nggak pucet-pucet amat.
"Gimana bawa masuknya? aku juga nggak tau dia pakai kamar nomor berapa! Ck ngrepotin aja nih bos! niat hati mau liburan malah direcokin pak Raga, nasib ya nasiiib!" aku turun dari mobil dan bukain pintu dan berniat memapah pak Raga.
"Aawkkh?!! gila berat banget nih orang,"
Braakkk!
Aku tutup pintu mobil dulu sebelum masuk ke area resort.
Sampai di dalam aku tanya ke bagian reseptionist.
"Mbak, mau minta kunci atas nama Raga Mahendra. Kuncinya ilang, nih orangnya lagi meriang!" ucapku dengan memapah pak Raga yang lemes.
"Kalau bisa sekalian minta tolong siapa kek suruh bukain pintunya ya, saya repot soalnya!" lanjutku.
Dan ya, alhamdulillah ada satu mbak-mbak yang bantuin aku buat buka pintu. Tapi yang mapah pak Raga hanya aku seorang.
Ceklek!
"Silakan, Nona..." ucap si pegawai resort.
"Mkasih ya, Mbaak?!"
Aku bawa masuk pak Raga dan aku tutup pintu pakai kaki. Perlahan aku rebahin pak Raga dan tutupin badannya pakai selimut.
"Hhuuuffhhhh! kayaknyanudah nggak kedinginan lagi dia, suhunya udah normal lagi. Kayaknya nggak apa-apa kalau aku tinggal," aku naikin lagi selimut pak Raga.
Dan ketika aku memutar badan, tiba-tiba ada yang mencekal tanganku.
"Jangan pergi," ucapnya.
__ADS_1