
Hatiku berdebar-debar, apa yang bakal diomongin sama eyang Anti.
"Rachel," Eyang Anti manggil namaku.
"Iya, Nyonya..." ucapku merendah.
"Bicara dengan jujur, apa kamu masih menjalin hubungan dengan cucu ku Raga?" tanya eyang Anti straight to point.
"Sebelumnya, saya minta maaf. Atas kejadian tidak mengenakkan beberapa waktu yang lalu, saya dan pak Raga---"
"Saya tanya, apa kamu diam-diam masih menjalin hubungan dengan cucuku Raga?" suara Eyang Anti meninggi.
"I-iya, Nyonya, maaf..." aku menunduk dengan nampan berada di pangkuannku.
Munuman matcha frappe yang ada di hadapan wanita yang teduh saat dipandang, tapi sekali membuat kecewa serasa dihempas ke lautan lepas itu belum tersentuh sedikitpun.
"Tinggalkan dia!" ucap Eyang Anti.
"Kami berdua---"
"Tinggalkan dia, dan pergi dari kota ini," ucap Eyang Anti nggak mau dibantah.
"Dan setelah itu saya akan memafkan kalian..." ucapnya.
Eyang meninggalkanku begitu saja setelah dia meninggalkan beberapa lembar uang di meja.
Aku yang mendengar itu hanya bisa menuruti apa yang diinginkannya.
Setelah Eyang pergi, ada telepon masuk.
"Hey, kamu dimana?" tanya pak Raga dengan suara ngos-ngosan.
"Bapak habis ngapain? kok ngos-ngosan?" aku berusaha menormalkan suaraku.
"Selain habis olahraga, saya capek karena saya habis nyariin kamu. Kamu dimana? kenapa main check out ajah?"
"Saya kerja, Pak. Maaf, saya lupa ngabarin," aku ngeles.
__ADS_1
"Lain kali kalau mau pergi bilang sama saya, jadi saya nggak nyariin kamu kayak orang nggak waras!" perintahnya.
"Nggak janji, Pak..." lirihku.
"Kamu bilang apa, tadi?"
"Maaf, saya mau bersihin meja, Pak..." ucapku sebelum nutup telepon secara sepihak.
Hari ini juga aku mengajukan pengunduran diriku menjelang jam kerjaku selesai.
"Loh, kenapa mendadak seperti ini?" tanya pak Chandra.
"Kamu belum satu bulan kerja disini, ehm ... bukan karena saya terlalu tegas, kan?" pak Chandra keliatan agak cemas.
"Bukan pak, bukan karena itu. Saya sudah pernah kerja dengan orang yang lebih galak dari Bapak!" ucapku jujur.
"Kalau pak Almeer tanya saya, bagaimana?" pak Chandra dengan mijitin pangkal hidungnya.
"Bilang aja, saya mengundurkan diri karena a
sudah dapat pekerjaan yang baru," jawabku pada pak Chandra.
"Kok mendadak sih, Cheel?" tanya mbak Arni.
"Iya, Mbak..."
"Tadi pagi Almeer yang pamit, sekarang kamu ... besok siapa lagi? kenapa hari ini banyak banget yang nabur bawang, aku jadi pengen nangis terus..." ucap mbak Arni mewek.
Aku peluk dia, "Maafin aku kalau suka ngerepotin ya?" aku longgarin pelukanku pada mbak Arni.
"Aku pasti kangen sama kamu, Rachel," kata mbak Arni.
"Pasti, kan aku ngangeninnnn!" aku berusaha untuk tetap ceria, meskipun yang dirasa sebaliknya.
"Mas Wahyu, Fatir, Aldan ... aku pamit, ya? makasih udah jadi partner yang baik," ucapku.
"Hati-hati dan sering ngabarin ya, Chel..." kata mas Wahyu.
__ADS_1
"Jangan suka ngelamun," ucap mas Fatir.
"Walaupun belum kenal lama, tapi aku yakin kamu orang yang baik. Jadi kamu bakal dapet tempat yang baik juga..." ucap Aldan.
"Makasih, maaf kalau aku ada salah ya. Sampein pamit dan maafku buat yang lain juga..." ucapku menyalami mereka satu persatu.
Aku balik dengan naik motorku, Cendol. Meninggalkan kedai kopi penuh kenangan.
"Ternyata, kita masih berjodoh, Ndol. Untung aku belum pakai uang jual motor itu. Aku bakal kembaliin sama Almeer, kalau suatu saat kita ketemu lagi..." aku bergumam sambil nyetir motor.
Aku udah nerima hasil kerjaku selama jadi pelayan. Dan sekarang aku nangis, bukan soal nominal, tapi soal kebersamaan yang bakal aku kangenin dari mereka.
Sebelum ke kosan aku paketin dulu Cendol tujuan kampung halaman. Baru dari biro ekspedisi, aku pulang ke kosan pakai kendaraan umum.
Sampai disana, biasa ada banyak bala-bala tawon yang ngoceh seenak jidat mereka. Tapi sama sekali nggak aku gubris. Tapi satu hal yang aku tangkep dari obrolan mereka, kalau penjaga kosan sekarang bukan mas Riski lagi. Tapi buatku nggak penting, karena sebentar lagi aku juga bakal get out dari sini.
Setelah sholat maghrib, aku langsung mandi dan lanjut packing. Suasana kosan udah nggak kayak kemarin-kemarin yang penuh intrik dan drama dari para makhluk ghoib. Sekarang kerasanya lebih tenang.
Beruntung barangku nggak begitu banyak, jadi aku bisa pindah dengan sekali angkut barang.
Aku pamitan sama salah satu penghuni kos namanya mbak Wita, "Aku pamit ya, Mbaaak..." ucapku.
Kenapa aku pamitan sama dia? Ya karena dia yang udah pernah aku repotin pas diganggu makhluk halus disini. Kalau yang lainnya, ada yang ketemu atau papasan paling aku senyumin. Kalau ada yang nanya ya aku jawabin.
Sambil nunggu taksi online, aku ke rumahnya ibu kos, nyerahin kunci sekalian pamitan.
"Loh, menaddak sekali Rachel?" tanya bu Retno.
"Iya, Bu. Maaf ini kuncinya," kataku.
Untungnya aku belum bayar kosan buat bulan depan, jadi aku nggak rugi lah ya. Setelah pamitan dengan bu Retno dan pak Hardi aku lanjut ke stasiun kereta.
Dalam perjalanan menuju stasiun kereta api, aku sempet liat hape ada chat dari pak Raga, dia bilang lagi mau makan malam sama eyang Anti. Dia nanya, nggak sih lebih tepatnya nyuruh aku makan. Bahkan dia nawarin mau dipesenin makanan apa. Tapi aku cuma balesin, aku udah makan titik.
Setelah itu, aku non aktifin hape ketika sampai di lokasi tujuan.
Aku masuk untuk boarding pass, maaih untung aku dapat tiket go show, jafi aku nggak perlu nunggu lama di peron.
__ADS_1
Sekilas aku melihat ke belakang, sebelum aku naik ke dalam kereta penumpang yang akan membawaku pergi jauh dari kota ini.
"Selamat tinggal..." ucapku ketika perlahan kereta ini mulai bergerak, dan hanya meninggalkan jejak kenangan yang akan tersimpan dalam memori masa lalu.