Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Aku Harus Jujur


__ADS_3

"Kenapa?" tanya pak Raga.


"Aku belum siap!" ucapku dengan malu-malu meong.


"Cih, belum siap! heyyyyyy! kamu nggak ingat saat kamu mengambil----"?


"Iya iya iya! nggak usah diperjelas," ucapku nggak berani ngeliat pak Jiwa Raga.


Tapi dia kembali menarik aku, kali ini dia kasih pelukan hangat.


"Kamu percaya kan? aku bakal bisa mengatasi semuanya? hem?" ucap pria yang sekarang ngelus kepalaku.


"Iya..."


"Iya apa?"


"Iya percaya!" ucapku lagi.


"Bagus!"


"Malam ini Bapak pulang aja. Bapak udah mirip orang yang nggak punya rumah!"


"Pintu kamar udah kamu kunci?" tanya pak Raga aneh.


"Udah!"


"Nggak lagi nyalain apa-apa kan?" tanya pak Raga.


"Apa?"


"Sesuatu yang berhubungan dengan listrik!"


"Nggak ada, memangnya kenapa?" aku bingung.


"Oke saya pulang!" ucapnya.


Sebelumnya dia kembali.mendekatkan wajahnya, dia menahan tengkukku lebih lama. membuatku merasakan sebuah sengatan listrik yang mengalir dalam darahku.


Dan setelah beberapa saat dia melepaskannya, "Kita pergi!" ucapnya pelan, dia memasangkan sabul pengaman dan memundurkan mobilnya, kemudian membawaku pergi.


"Hey, Paaaaakkk! saya belum turun!" aku tepokin lengannya.


"Iya kan kamu nyuruh aku pulang kan? salahku apa?" tanya pak Raga.


Kita udah menjauh dari kosan ku yang gagal ganti nama jadi kosan Alam Ghoib.


"Iya, kan saya bilang Bapak pulang aja ke rumah. Ini kenapa saya jadi dibawa pergi?" aku nggak mudeng sama pak Raga.


"Udah kamu nurut aja!" ucapnya.


"Kamu nggak lupa kan dengan janji kamu?" lanjutnya nanya random.


"Janji apa?" aku inget-inget dulu.

__ADS_1


"Jangan pura-pura lupa, Racheel!" pak Raga agak kesel.


"Iya iya saya ingat! tapi kan nggak sekarang juga kan saya menjelma jadi istri Bapak, kan?" aku nengok ke arah pak Raga.


"Nggak sekarang, tapi secepatnya!" ucapnya.


"Ya udah, kalau gitu balikin lagi saya ke kosan!" kataku.


"Udah terlalu malam buat kamu naik ke atas! sepi, nggak ada orang, licin juga bekas hujan!" ucap pak Raga.


"Terus kita mau kemana?"


"Apartemen!" jawabnya.


"Nggak mau nggak mau! ada setannya!" ucapku cepat.


"Ya udah kalau gitu..." pak Raga lalu memutar balik stirnya.


Aku kira dia bakal ngabulin permintaanku balik ke kosan.Ternyataaa tidaaaackk.


Dia belok ke sebuah hotel internasionaleeee dengan aku yang pake piyama burik yang dibalut sweater. Ya lah, aku berasa kayak orang setengah waras ke hotel macam ini dengan piyama panjang dan sendal jepit. Keadaan aku dan pak Raga lagi-lagi jomplang.


Pak Raga yang dandanannya bak sultan, lah aku kayak korban kebanjiran. Dari sini aja harusnya aku sadar kalau keadaan kita berdua terlalu berbeda.


Setelah dapet dua kartu akses yang berbeda, yang itu artinya pak Raga pesen dua kamar.


"Pak? kenapa nginap di hotel sekelas ini?"


"Kamu nggak suka? kalau begitu kita pindah!"


Nih orang buang duit kayak buang kertas kosong aja, orang aku liat di depan dia udah bayar pakai kartu gesek kok ya.


"Silakan, Tuaan!" ucap seorang pria yang akan mengantar kita kamar.


"Tidak perlu diantar, saya bisa naik sendiri!" tolak pak Raga.


Kita berdua naik ke lantai paling atas. dan keluar setelah lift terbuka.


Pak Raga menggandengku dan berhenti tepat di depan sebuah kamar yang sangat megah.


"Masuklah dan istirahat!" ucap pak Raga.


"Kamarku berada di sini!" dia nunjuk pintu di sebelah kamarku.


"Atau kamu mau aku temenin?" ucapnya.


"Nggak, nggak usah! Aku akan masuk!" ucapku yang aegra masuk ke dalam dan menutup pintu.


Aku nggak ada waktu buat mengagumi mewahnya kamar ini, karena aku udah terlalu ngantuk.


Tapi nggak tau kenapa setiap aku mau ngeliyep, selangkah lagi menuju alam mimpi pastiiii ada aja yang ganggu.


"Halooo?" sapaku di telepon.

__ADS_1


"Mas Liam?" aku mastiin kalau aku nggak salah liat dan salah denger.


"Iya ini aku. Kamu belum tidur?" suara mas Liam.


Aku yang mendapat telepon dari mas Liam pun mendadak bangun, aku duduk dengan cemas.


"Aku belum..." jawabku.


"Mas Liam belum tidur? aku gantian nanya.


"Sudah, tapi kebangun. Dengan mimpi yang sama," ucapnya.


Sekarang aku yang gantian cemas, kalau tebakanku benar dia pasti pengen ngedapetin jawaban atas oertanyaan tadi siang.


"Kenapa ya, Rachel? aku mimpi yang sama berulang-ulang? bahkan aku mimpi kamu menangis di samping tubuhku yang kaku. Sebenarnya apa yang sudah terjadi sampai aku rasanya mimpi itu sangat nyata," ucapnya seperti orang yang sedang frustasi.


"Apa aku dan kamu memiliki hubungan di masa lalu?" dia nanya.


Pertanyaan itu aku balikin lagi, "Kalau iya bagaimana?"


"Aku akan menjelaskannya secara singkat. Sebenarnya kita pernah bertemu saat arwah kamu melayang, sedangkan tubuhmu sedang mengalami koma di rumah sakit. Awalnya aku kira kamu itu beneran orang, ternyata bukan. Kamu yang mengaku asisten pak Raga sering memberikan bantuan sampai akhirnya kita cukup dekat dan aku tau keadaan kamu yang sebenarnya...." aku mulai menceritakan bagaimana kita bertemu. Aku nggak aka berbohong, aku menceritakan apa adanya, termasuk perasaaanku dan permintaannya agar aku selalu berada disisi kakaknya, Raga Mahendra.


Termasuk saat dia sempat dinyatakan meninggal, kemudian terbangun dan mengejutkan kita semua.


"Jadi semua mimpiku itu beneran ada?" ucap mas Liam.


"Iya,"


"Lalu bagaimana dengan perasaanmu sekarang? apa sudah berubah?" mas Liam menanyakan sesuatu yang sekarang bisa aku jawab secara mantap.


"Sesuai permintaanmu dulu," ucapku.


"Benarkah?" lirih mas Liam.


"Ya..."


"Apa kamu mencintainya sekarang?" tanya mas Liam.


"Sangat!"


"Tentu, dia orang yang baik. Dia pasti akan menjagamu," ucap mas Liam. Tapi entah mengapa aku emrasakan ada kegetiran disana.


"Bukankah ini yang kamu minta? dan sekarang aku sudah terlanjur menyerahkan seluruh hatiku buat dia," ucapku.


"Ya, tentu. Kak Raga berhak mendapatkan wanita sebaik kamu," ucap mas Liam.


"Kamu semangat terapinya, maaf aku jarang menjenguk, karena jadwal kerjaku yang padat!" aku membelokkan pembicaraan.


"Sudah malam, aku akan kembali tidur..." ucap mas Liam.


Dan sambungan telepon itu pun terputus. Ada rasa sedih, tapi juga lega. Karena dia udah inget sama aku, dan aku udah utarain semua apa yang pengen aku sampaikan.


Kita nggak tau scenario apa yang bakal kita lakoni. Kita hanya bisa menjalaninya sesuai kehendak Tuhan.

__ADS_1


"Selamat malam..." ucapku sebelum merebahlan diri dan menapak ke alam mimpi.


__ADS_2