Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Fokus Rachel, Fokussss!


__ADS_3

Dan si Nona Adella ini dateng beberapa menit setelah kita duduk, dan pak Raga dengan gentle menyambutnya. Sikapnya biasa aja, tapi kok ada yang menyentil hatiku. Tapi aku kan inget apa kata mas Andri kalau aku harus pasang wajah yang enak diliat, dan fokus.


Ya aku fokus kok, fokus ngeliatin si ayang sama itu perempuan. Kalau tadi kan pak Moreno bicaranya empat mata nih sama pak Raga, kalau sekarang kita duduk bareng di satu meja. Jangan ditanya bahas apaan, karena aku aja fokusnya ke mukanya pak Raga yang tenang tapi tegas. Dia menatap lawan bicaranya, Nona Adella.


"Pastikan kamu sudah mencatat semua kesepakatan kita siang ini," bisik pak Raga.


"Baik, Pak..." ucapku lirih.


"Maaaampuuuusss! Racheeel..." aku merutuki diri sendiri dalam hati.


Ya ampun ya ampun, mana daritadi aku nggak merekam apapun dalam otakku. Ngedengerin aja nggak apa yang pak Raga diskusiin sama nona Adella. Bego emang! Udah tau pak Raga berubah drastis perlakuannya ke aku, malahan aku nggak memperhatikan apa yang mereka bicarain.


"Mas Andri! ya, mas Andri pasti ngerti apa aja pembicaraan yang udah disepakati," ucapku dalam hati.


"Pssst..." aku memanggil mas Andri yang duduk di sisi kiri pak Raga.


"Pssst ... Andriiii...?!" aku manggil mas Andri lagi, dan seeeeeet akhirnya yang dipanggil nengok. Mas Andri nanya 'apa?' tanpa mengeluarkan suara.


Aku bilang 'cek hape' dengan bibir yang mleyat-mleyot. Mas Andri ngerutin kening, dia ngekuarin hape dari kantong dan usap layar hapenya.


Sedangkan aku langsung chat mas Andri nanya atau lebih tepatnya mastiin kalau mas Andri mencatat semua kesepakatan pak Raga dan Nona Adella. Dan alhamdulillah, jawaban mas Andri bisa bikin aku yang tadi sesek napas karena takut kena omelan, sekarang bisa bernafas dengan lega.


"Syukurlah, mas Andri emang bisa diandalkan! Kali ini kamu harus fokus Rachel fokussss! ya ampuuun..." aku ngucap dalam hati. Sedangkan sikap pak Raga bener-bener dingin, dia malah lebih ramah sama nona Adella.


Mumpung pak Raga lagi bincang-bincang santai, aku minta bocoran dari mas Andri, apa aja pembicaraan yang udah mereka sepakati. Dan mas Andri ngasih tau semuanya, bahkan detail banget infonya. Kayaknya dia juga tau kelakuan bosnya lagi aneh makanya dia nggak heran kalau aku nanya-nanya soal hasil meeting tadi.


Dan makanan mulai berdatangan dan tersaji di atas meja.


"Pak Raga, bagaimana kalau kita---" Nona Adella tidak melanjutkan ucapannya.


"Andrii..." pak Raga manggil Andri, dan seperti sudah bisa membaca pikirannya pak Raga. Mas Andri cuma jawab, "Baik, Pak..."


Mas Andri ngasih kode sama aku dan asistennya Nona Adella buat pindah meja. Dalam hati aku berharap pak Raga bilang kalau aku nggak usah pindah, tapi yang ditunggu nggak ngomong apa-apa.


"Apa ada yang ingin kamu sampaikan, Rachel?" tanya pak Raga.

__ADS_1


"Tidak ... ehm, tidak ada, Pak. Permisi..." ucapku terbata-bata.


Aku pun melangkah pergi ke meja lain, bergabung bersama dengan mas Andri dan satu orang cewek lagi namanya Nisa.


"Rachel?" panggil mas Andri.


"Eh, iya ... ada apa?"


"Makanannya keburu dingin, habis ini kita balik lagi ke kantor," mas Andri ngingetin


"Iya, ini juga saya mau makan," ucapku.


Sebenernya aku udah hilang selera buat makan, tapi aku paksain buat seenggaknya ada makanan yang masuk ke dalam perut.


"Mereka lagi ngobrolin apa ya kira-kira?" aku ngeliat ke mejanya pak Raga. Apa yang mereka bicatakan nggak kedengeran sama sekali. Sesekali terlihat pak Raga tertawa berama dengan Nona Adella.


"Apa yang lucu sih? bisa spe ketawa-ketawa kayak gitu? dasar bos ganjen!" aku ngedumel dalam hati.


Akhirnya makan siang yang bikin badmood ini berakhir juga.


"Semoga kerjasama ini berjalan dengan baik..." ucap Nona Adella yang berdiri dan menjabat tangan pak Raga.


"Kami duluan, Pak Raga. Mari..." ucap Nona Adella, yang kemudian pergi bersama dengan Nisa, asistennya.


Sedangkan baru juga mau mangap mau ngomong sesuatu, pak Raga langsung nyerobot aja.


"Kita kembali ke kantor!" pak Raga ngeloyor pergi dan ninggalin aku sama mas Andri.


Aku cuma bisa ngeliat pria bertubuh tegap itu perlahan semakin jauh. Aku cuma bisa menghela nafas panjang, bingung dengan keadaan sekarang.


"Yuk, Chel..." ajak mas Andri


"Hemm!"


Aku balik ke kantor bareng mas Andri. Sedangkan lagi-lagi pikiranku di awang-awang.

__ADS_1


Sesampainya di kantor pun pak Raga langsung sibuk dengan dokumen-dokumennya. Sedangkan aku bingung mau ngapain. Aku cuma duduk aja di kursiku kayak patung, sambil sesekali mencuri pandang ke arah pak Raga.


"Pak Raga abis kesambet dimana sih? masa iya di restoran yang pertama kita datengin itu tempatnya angker, sih?" ucapku dalam hati.


"Rachel, daripada kamu bengong tidak berguna seperti itu, lebih baik kamu ke pantry buatkan saya kopi. Mata saya mulai ngantuk!" suruh pak Raga.


"Baik, Pak..." aku bangkit dari kursi dan keluar dari ruangan ini.


Biasanya kan kalau aku sebut dia dengan sebutan 'Pak' dia bakal marah dan nyuruh aku bilang sayang. Lah ini, aku bilang 'Pak' tapi dia biasa aja. Bisa jadi pak Raga kena sawan ini mah, iya pasti dia kesambet di restoran tadi.


Pak Raga nggak suka bikin kopi pakai cofee maker, dia lebih suka kopi yang diseduh langsung pakai air panas. Jadilah aku harus nunggu air mendidih dulu baru bisa bikin kopi.


"Airnya sudah mendidih!" suara mas Rian.


"Oh iya, makasih Mas! untung aja mas Rian---" ucapanku berhenti saat menyadari kalau di pantry nggak ada sosok mas Rian.


"Lah, terus tadi suara siapa? hihhh..." aku bergidig ngeri.


Buru-buru aku bikin kopi dan balik lagi ke ruangannya pak Raga.


"Makin keaini, semua tempat yang aku kunjungi pasti terjadi hal-hal yang nggak masuk akal," aku bergumam saat udah berhasil masuk ke ruangan pak bos.


Pak Raga masih dengan dokumen yang setumpuk, mungkin kalau aku jadi dia tanganku bakalan pegel banget harus tanda tangan segitu banyaknya.


"Kopinya, Pak..." ucapku sopan.


"Taruh saja di meja," ucapnya dingin.


"Baik..."


Dengan hati-hati aku melangkah dan menaruh kopi di atas meja. Saat aku mau ngomong tentang keanehan sikapnya hari ini, dia malah ngomong gini.


"Kamu biaa kembali ke meja kamu!" ucapnya tegas.


Aku ngerasa aku mending balik lagi jadi staff biasa, daripada dicuekin dan ngadepin sikap pak Raga yang dingin.

__ADS_1


Baru aku melangkah, tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan aoaok Eyang Anti.


"Eyang?!!" ucapku spontan nggak pakai uhui.


__ADS_2