Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Menagih Janji


__ADS_3

"Racheeel...?!" mas Liam memegang tanganku. Dan kami bersentuhan lagi, dan itu artinya energiku akan menguap seperti asap.


"Jangan, kita bisa menundanya besok," lanjut mas Liam.


"Nggak usah, Mas. Kalau emang nih rambut yang nggak bakalan bisa disatuin lagi sama makhluk ini, aku potong dan aku kembalikan bikin Ajeng dan emaknya pergi dengan tenang. Ya udah aku lakuin aja malam ini..." ucapku sembari menatap Ajeng yang masih dengan sikap angkuhnya.


"Dengar ya, Ajeng?! aku akan mengembalikan rambut kamu ini, asalkan dengan satu syarat?! kau maafkan ibumu, walaupun kau tidak lahir dati rahimnya, tapi dia peduli padamu. Setidaknya kau lebih beruntung dari anak-anak di luar sana yang memiliki orangtua tapi tidak pernah memiliki waktu untuk bersama," ucapku dengan tegas.


"Harusnya kamu itu bersyukur, dengan rambutmu itu bisa membantu membayar perawatan adikmu Alvi di rumah sakit, bukannya malah marah berkepanjangan. Kalau kayak gini kamu juga yang rugi, udah jadi hantu pun kamu masih aja dendam?! apa karena dia hadir dalam kehidupan ayahmu? seakan dia mengambil tempat yang semula milik ibu kandungmu? iya?" aku merepet marahin si hantu keblinger ini.


Awalnya aku takut dengan wajah Ajeng, tapi lama kelamaan aku terbiasa melihatnya dan malah kasian dengan Ajeng yang selama hidupnya memendam rasa dendam pada ibu tirinya.


"Kamu dengerin aku nggak, Ajenggggg?!!!" suaraku naik. Tapi dia masih dengan sikapnya yang bikin emosi jiwa.


"Aku bakal balikin asalkan kamu minta maaf sama ibu kamu. Aiiihh, kalian udah sama-sama hilang dari dunia loh, masih aja nggak akur!" aku geleng-geleng kepala.


"Kamu balikin rambutku dulu, baru aku akan memnuhi permintaan kamu!" ucap Ajeng.


Sedangkan ibu tirinya hanya menangis, dan tangisannya sangat memilukan sekaligus serem.


"Baik, tapi awas aja kalau kamu nggak tepatin janji. Aku bakalan uber kamu sampai ke lubang semut sekalipun?!" ancamku pada Ajeng.


Kalau iya kejadian si Ajeng nggak nepatin janji, nggak lucu kalau setan diuber sama manusia. Harga dirinya sebagai setan akan runtuh seketika.


Aku ambil rambut satu genggam tanganku, dan tanganku yang satunya ngarahin gunting itu.


Semua mata memandangku.


"Eeiit, nungguin yaaaahhh?" ucapku.


"Bentar, akuau liat kaca dulu. Kalau pendek sebelah kan berabe?!" ucapku ngeloyor ke salah satu sudut di kamar ini, yang ada cermin berdirinya.


Dan ya hantu-hantu itu ngekorin aku.


"Racheeel ... ini sudah tengah malam, tidak baik untuk memotong rambut," kata mas Liam.


"Ck, udahlah. Daripada aku di teror sama dia terus. Aku pengen hidup sebagaimana mestinya, tidur di kos juga jadi nggak nyenyak," ucapku.


Aku lihat sosok feminimku di depan cermin, lalu aku arahkan gunting ke depan leher dan tiba-tiba aja...

__ADS_1


"Racheeeel? apa yang kamu lakukan?" suara bentakan dari depan pintu kamar yang terbuka lebar.


Aku nengok.


"Awwwkh!" karena spontan nengok dan lupa minggirin posisi guntingnya, leherku tergores ujung gunting yang runcing.


"Kamu gila ya? ngapain kamu mainan gunting malem-malem?!" ucap pak Raga yang dengan segera menerobos para hantu yang berjejer.


Pak Raga ngerebut alat pemotong itu, "Ck, kalau sudah bosan hidup? jangan lakukan itu di apartemenku?!"


"Bukan, Pak ... eh, Sayang?!" aku emlihat ke arah Ajeng yang melotot. Dia pikir aku nggak mau balikin rambutnya nih mesti.


"Pak, balikin guntingnya," ucapku mau ambil lagi gunting yang dipegang pak Raga. Tapi dia nggak mau kasih, dia umpetin di belakang badannya.


"Kalau kamu banyak hutang, mari saya bantu melunasinya. Ini bukan jalan satu-satunya untuk keluar dari masalah," ucap pak Raga.


"Ya ampun, siapa juga yang banyak utang? sini balikiiiin..." aku mencoba merebut tapi pak Raga tetap nyembunyiin benda itu.


Aku bisa melihat raut amarah di wajah Ajeng, dan firasatku ini nggak akan baik-baik aja. Apalagi saat Ajeng mendekat. Aku nggak mau dia mencelakai pak bos.


Dengan segera aku menarik jas pak Raga, aku menciumnya dan segera mengambil gunting yang pak Raga sembunyikan di belakang badannya.


Setelah mendapat barang yangenjadi tujuanku, aku segera menghadap cermin.


Dan...


Kreeeesss?!!


Aku memotong rambut sambunganku dengan gunting. Rambut yang semula panjang spai pinggang kini hanya tersisa sebatas bahu.


Pak Raga hanya bisa melongo.melihat apa yang aku lakukan, "Rachel, apa yang kamu lakukan? apa kamu sudah gila, hah?"


Pak Raga mencoba menghentikanku, tapi aku langskung 'kras kres' motong rambut dengan cepat udah kayak motongin pucuk merah pakai gunting rumput.


Udah pasti bentuk potonganku ini nggak simetris, cenderung acakadut. Tapi nggak apa-apa. Demi bisa ngembaliin rbut itu secepatnya. Setelah semua telah terpotong au melihat ada sosok lain di cermin. Bukan Ajeng, bukan ibu tirinya atau Liam tapi sosok lain yang melihatku dengan tatapan sinisnya. Dia memakai baju dengan kerah shanghai, dengan motif bunga-bunga. Dan ketika aku mengedipkan mata, sosok itu hilang entah kemana.


"Apa yang kamu lakukan? kalau kamu tidak suka dengan rambut panjang bukan begini caranya?!" bentak pak Raga.


"Bukan begitu, Pak. Ini rambut punya orang yang udah meninggal, dan dia mengejarku karena rambut ini. Jadi aku harus mengembalikannya segera," ucapku menunjukkan kumpulan helaian rambut di tanganku.

__ADS_1


"Kamu sudah gila,"


"Saya bisa gila kalau saya dikejar untuk barang yang remeh temeh seperti ini," aku nyautin.


Aku melewati pak Raga dan berjalan mendekat ke arah Ajeng dan ibunya. Aku juga melihat Liam yang melihatku dengan tatapan yang berbeda. Apakah dia cemburu?


"Bawalah, ini milikmu?!" aku menyerahkan rambut ke tangan ajeng.


"Dan sekarang giliranmu!" ucapku serius.


Bukannya menjawab perintahku, Ajeng malah menatap rambut yang ada di genggamannya dengan tatapan sendu. Dia menangis dan menggenggam rambut itu dengan kuat.


"Ajeng, penuhi janjimu..." ucapku ngingetin nih hantu. Pak Raga mikir mungkin aku ini perempuan aneh, ngegunting rambut sendiri dan ngomong sendiri. Tapi ya udin lah, nggak apa-apa yang penting nih hantu berhenti ngejar.


"Ayo tunggu apa lagi, nggak usah nangeeees!" aku ngebentak karena sejujurnya aku udah ngantuk dan pengen tidur.


Ajeng yang semula menunduk memandangi helaian demi helaian rambutnya, sekarang mengangkat dagunya. Dia menatapku kemudian menatap ibunya.


"Racheeeel," panggil pak Raga dari arah belakangku, tapi aku dengan beraninya mengangkat tangan.


"Ayo, lakukan..." ucapku yang nyecerr si Ajeng.


Dan tanpa aku duga, Ajeng bersujud di kaki ibunya. Ibu tiri yang selama ini nggak dianggap.


"Maafin Ajeng, Bu..."


"Iya, Nak. Iya ... ibu maafkan..." ucap ibunya.


Dua makhluk dengan kulit pucat itu sekarang berpelukan, menumpahkan rasa haru yang membelenggu keduanya.


"Kita pulang sekarang," ucap si ibuk.


"Terima kasih Rachel ... dan titipkan salamku untuk Alvi. Bilang saja dari ibu Rahmi..." ucap ibu tiri Ajeng.


Ya ampun tadi anaknya yang ngrepotin sekarang giliran emaknya yang minta di sampein salamnya ke Alvi. Ck ck, hantu sekarang hobi banget ngerepotin.


"Ayo, Nak..." ibu Rahmi menggenggam tangan Ajeng. Dan mereka berdua pergi dan perlahan hilang bagaikan asap.


Sedangkan aku mencoba mencari keberadaan mas Liam, yang daritadi aku acuhkan, "Mas Liam?"

__ADS_1


__ADS_2