Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Keluarkan Khodam Bapak!


__ADS_3

Denger suara teriakan yang dari arah depan dengan diiringi gerbang yang main 'Braaaakk' aja gitu di dorong, aku tadi buat nyarii tau.


Aku kaget banget, ternyata yang teriak itu ibu kos.


"Awasss, awasss lariii!" dia teriak lagi.


"Lah lah lah, ada apaan, Buuu?" aku ngah ngoh gitu, bingung.


Dan keadaan yang lagi keos banget kayak gitu, eh datenglah pak Raga.


"Ngapain, Bapak kesini? Bapak mau jahatin ibu kos saya?"


"Semarangan kalau ngomong! udah kamu ikut aku, disini lagi nggak aman!"


Sedangkan bu Retno gedor-gedor kamarnya mas Riski.


Braaakkk!


Braaakkk!


"Riskiiii keluar Kiiii," teriak bu Retno.


Braaakkk!


Bu Retno yang teriak histeris,bikin semua penghuni keluar. Mereka tongal-tongol gitu di balik pintu, ada juga yang sampai keluar dan nyamperin bu Retno.


Dan mas Riski pun keluar, "Ada apa, Bu?"


"Tutup gerbang, kunci sekalian!" suruh bu Retno.


"Bentar, Buu...! saya ambil kunci dulu!" kata mas Riski.


"Cepetan, Ki. Keburu Bapak ngejar saya sampai kesini!" bu Retno nggak sabaran.


Emang gerbang biasanya dikunci jam 12 an, ya sebenernya suka-suka mas Riski sih, mau di tutup jam berapa aja, orang dia begadang jaga pintu. Kalau ada yang mau pulang malem biasanya telfon buat minta bukain gerbang.


"Ini ada apa sebenernya, Bu?"


"Pak Hardi ngamuk-ngamuk, ibu takut!" ucap bu Retno.


"Ki? cepetan di kunciiii!" ucap bu Retno dengan raut wajah yang panik.


"Udah, kamu ikut saya. Nggak aman kamu disini,"


"Bentar dulu, ini ibu kos kasian!" aku menepis pegangan pak Raga.


"Pak Hardi ngamuk kenapa, Bu?" aku kepo banget, mungkin ibu kos lagi mengalami KDRT.


"Nggak tau, Rachel! bangun tidur, terus dia ngamuk! rumah udah nggak tau gimana bentukannya, aduuuuuhhh!" bu Retno megangin kepalanya mumet, dengan wajah yang masih ketakutan.


"Astaga, ini Riski kenapa lama banget ambil kunci!" gumam bu Retno.


Tapi sesaat dia terpaku, ketika menyadari kehadiran seseorang. Matanya melihat ke arah pak Raga.


Pak Raga yang diliatin merasa harus ngejelasin siapa dirinya, "Saya pacarnya Rachel,"


"Oh, iya iya. Yang punya mobil mewah itu ya? Ya ya ya yang pernah parkirin mobil di dalem sini, kan?" bu Retno nunjuk halaman tengah kosan.


"Ibu kira udah putus. Baru aja mau ibu jadiin mantu!" ucap bu Retno malah kepanikannya teralihkan dengan pikiran mau jadiin pak Raga mantunya, moon maap ibuuuuu. Pak Raganya nggak mauuu.

__ADS_1


"Bu, jadi nggak nutup gerbangnya?" ucapku


"Oh iya yah? kok ibu bisa lupa?" bu Retno berlari ke arah gerbang.


"Ini, Buuu. Kuncinya ketemu!" seru mas Riski.


Tapi nggak tau kita yang lelet atau emang pak Hardi yang gesit, Bapak kos ku itu udah deket banget. Dia lari bawa sapu lidi.


"Lariiiii, Buuuuuuuuuuuuu!" teriakku.


Sontak, bu Retno, mas Riski dan pak Raga nge-.freeze sesaat sebelum pada riweuh pada mau kabur kemana. Sedangkan penghuni yang lain reflek tutup pintu, kan geblek! Bukannya nolongin, mereka malah mau cari aman sendiri. Situasi keos banget saat ini.


Mas Riski dan bu Retno sembunyi di kamarnya mas Riski, begitu juga dengan aku.


Kita tutup pintu rapet.


"Pak? kok Bapak sepatunya dipake sih?" bisikku.


"Bapak?" bu Retno bertanyeeaak.


Pak Raga lalu membekap mulutku dengan tangannya, "Ah, ya! panggilan sayangnya Rachel. Saya kan calon Bapak dari anak-anak yang bakal dicetak nanti! Jadi mulai sekarang dibiasain manggilnya, Bapak! hahahahahah," ucap pak Raga.


"Dicetak? Itu anak apa kalender, pake dicetak segala?" tanya mas Riski sama sekali nggak penting.


Sementara aku menggeleng.


Menanggapi pandangan mas Riski dan bu Retno yang liatin aku, pak Raga ngejawab lagi.


"Maksudnya dia nggak sabar nanti mau ngundang bu Retno sama mas Riski ke pernikahan kita, iya kan Buuuu?" pak Raga naik turunin alisnya.l, manggil aku dengan sebutan ibu.


Aku gigit tangannya, "Aaaaaergh!" pak Raga memekik.


Aku menaruh telunjuk di bibirku nyuruh pak Raga buat diem.


"Huuuwwhhh!" pak Raga sendiri lagi niupin jarinya.


"Ganas tau nggak!" bisiknya.


"Rasain!" ucapku sambil julurin lidah, ngledek.


Braaakkkk!


Braaakkk!


Aku denger suara gerbang yang di pukul.


"Berasa lagi di film jombi ya? kita ngumpet kayak gini!" ucapku.


"Raacheeeeel!" kompak mas Riski dan bu Retno.


"Iya iya maap!" ucapku sambil benerin kacamata.


Aku yang merasa keadaan sunyi setelah suara gerbang di pukul tadi.


Memberanikan diri buat buka pintu, mau ngintip gitu.


"Mau apa?" tanya bu Retno.


"Ngintip sedikit!" bisikku.

__ADS_1


"Jangan!" bu Retno melarang.


"Siapa tau pak Hardi pingsan di luar! gimana, Bu?" Aku memberi satu kemungkinan yang mungkin terjadi.


"Lagian kenapa pak Hardi tau-tau ngamuk kayak gitu sih, Bu?" lanjutku bertanya, sambil mode bisik-bisik.


"Ibu juga nggak tau, Racheeeel! semenjak ibu nerima batok kelapa yang kalian temukan itu, Bapak jadi aneh!"ucap bu Retno.


"Batok kelapa?" gumam oak Raga, dia menatapku penuh tanya. Dan aku pun menceritakannya pada pak Raga secara singkat.


Dan seketika aku inget sama kejadiannya mas Bram, suaminya mbak Gita. Yang berubah setelah menyimpan sebuah kotak perhiasan.


Jangan-jangan hal aneh yang dialami bu Retno dan pak Hardi itu ya gara-gara batok kelapa itu, karena malam ini aja lumayan tenang. Nggak ada gangguan. Kalinaja itu setan-setan ngerudug dalam rumahnya bu Retno.


"Jangan-jangan pak Hardi dapet pengaruh buruk dari batok kelapa itu, Bu?" ucapku.


"Ya, mungkin aja!" jawab bu Retno.


Aku buka pintu pelan, nyaris tanpa suara.


"Heh, mau ngapain?" bisik pa Raga.


"Mau liat keadaan lah. Pak Raga kan sakti, punya jurus kan? harusnya nggak takut dong! keluarin aja khodamnya, beres kan?" aku ngomong sama pak Raga.


Pak Raga ketawa nanggung, dia benerin jambulnya, "Iya tapi kan---"


"Kenapa? Bapak takut?" tanyaku lagi.


Treng teng teng teng!


Suara dari luar.


"Kita harus nolongin pak Hardi. Biar nanti pak Raga yang keluar pertama, untuk mengalihkan perhatian pak Hardi. Nanti mas Riski keluar, manggil pak ustad kek, pak penghulu kek, terserah siapa aja yang penting orang yang bisa ngeruqyah pak Hardi," ucapku pada semua orang yang ada du ruangan ini.


"Loh kok kamu numbalin saya?" ucap pak Raga natap aku kesal.


"Nggak mau nggak mau! kalau setan beneran mah hayok, kalau orang yang lagi kesurupan mah, nggak nggak! mending Riski aja yang maju," pak Raga menolak, gemes banget liat mukanya.


"Ck, katanya sakti? gimana sih?" gumamku dalam hati.


"Ehem, ini kesempatanku, Pak! mengeluarkan jurus-jurus pendekar yang selama ini tertahan dalam jiwa Bapak! jurus lilitan anakonda, kucing meringkuk dan jurus yang lainnya bisa Bapak praktekin sekarang," bisikku sambil nepok-nepok dada bidang pak Raga.


"Boleh! tapi ada syaratnya!"


"Apa?" tanyaku.


"Harus mau jadi istriku!" bisiknya.


Aku menatapnya dalam, sedangkan bu Retno dan mas Riski cosplay jadi laler ngeliat kita berdua bisik-bisik.


Wagelaseeeh, dilamar dengan cara yang sangat-sangat mind blowing sekali.


"Hemmmph, ya!" ucapku akhirnya.


"Udah yang penting kita harus keluar, kita nggak mungkin kayak gini terus!"


"Bhaiklahhhhh, demi kamu, dan demi masa depan kita. Saya akan----"


"Halah kelamaaan!" aku buka pintu dan dorong pak Raga keluar.

__ADS_1


Dan pak Hardi yang berada di luar pun. menatap pak Raga yang berdiri, siap digebukin.


__ADS_2