Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Wanita Itu


__ADS_3

Pak Raga yang suka nyuruh itu nggak ngabarin sama sekali sampe sore, sampai waktunya kita pulang. Nggak mungkin pak Raga sakit, kan. Semalem aja kita abis ketemu, makan bareng dianya sehat-sehat aja tuh. Malahan dia abis burger dua biji.


"Sebenernya pak bos kemana sih? kayak ada yang kurang kalau nggak denger suaranya dia yang suka banget digalak-galakin. Apalagi kalau pak Raga udah bilang gini 'Kamu denger nggak Racheel?', hahaha..." aku niruin gaya suaranya pak bos sambil ngambil tas dan bersiap pulang.


"Ada gila-gilanya si Rachel...!" aku noyor kepala sendiri. Lumayan ennteng nih nggak pakai rambut sambung dan lebih leluasa.


Bawa satu parcel buah dan juga makanan lain, aku harap mas Liam suka. Saking deg-degannya aku sampai nggak bisa makan siang. Ya karena over excited.


Agak repot sih ya, bawa barang sampai tanganku penuh semua.


"Saya bantu bawain barangnya, Mbak?" bang Juki menawarkan bantuan. Baru juga mau ngasih barang yang ada di tangan, aku keinget kata-katanya Tristan. Aku segera menggeleng.


"Nggak usah, Pak. Maksih..." aku anggukin kepala, kode permisi ke pak Satpam yang cuma bisa geleng-geleng kepala ngeliat tingkahku ini.


Aku sih cuma nggak mau kena gebug bininya Bang Juki, kalau bantuan ini malah ujungnya menuai gosip.


Dari perusahaan aku naik taksi menuju rumah sakit. Aku yakin banget mas Liam bakal suka dikunjungi dan mulai inget tuh sama aku. Aku inget banget wajtu itu mas Liam bilang kalau sebenernya dia juga sama aku. Cuma dianya aja yang minta aneh-aneh nyuruh aku di samping pak Raga terus. Berarti secara teori, cinta aku tuh nggak bertepuk sebelah tangan, cuma tangan satunya pas lagi jadi ghoib jadi nggak kedengeran tepokannya.


"Tumben-tumbenan jalanan nggak macet. Aku jadi cepet nyampe di rumah sakit," ucapku setelah keluar dari taksi dan jalan menuju lift buat naik ke lantai dimana ruang perawatan mas Liam berada.


Tambah deket tujuanku semakin deg-degan jantungku.


"Huuufh, tenang Racheel ... jangan salting, jangan salting?!" aku meyakinkan diri sendiri.


Ketika aku ketuk pintu, nggak ada sapaan boleh masuk apa gimana. Akhirnya aku ngelongok ke dalem, ternyata mas Liam lagi tidur.


"Masuk nggak ya?" aku mempertimbangkan.


"Masuk aja deh, pegel nih tangan..." ucapku dan masuk ke dalam dan menutup pintu.


Aku taruh buah dan makanan di atas meja. Lalu mendekat ke arah ranjang mas Liam.


Aku tarik kursi dan duduk, mandangin wajah mas Liam.

__ADS_1


"Kalau diliat secara dekat kayak gini, wajahnya lembut, ganteng walauoun masih gantengan kakaknya, tapi kalau mas Liam kan nggak galak, beda sama onoh yang suka merong-merong, merepet sepanjang waktu..." ucapku dalam hati.


"Izzh, izhh, kenapa juga aku ngomongin pak Raga. Kan di depan aku ada mas Liam. Orang ganteng mah bebas, dia tidur aja ganteng banget," ucapku sambil menikmati keindahan sore ini.


Tapi baru juga duduk, liatin mas Liam yang lagi tidur, perut aku krudak-kruduk.


"Waduh, bahaya nih..." aku ambil tas dan masuk ke dalam toilet, sebelum kentut menjedor di ruangan ini dan mas Liam bangun karena kebauan. Maka dari itu, aku ngibrit ke toilet.


Dan bener aja, di dalam sana aku dat dut dat dut mulu.


"Gara-gara nggak sarapan dan nggak makan siang nih. Aku jadi masuk angin kayak gini..." ucapku setelah selesai dengan aktivitas di closet.


Aku keluarin satu barang yang bisa nge-rok and roll, yang wangi ecaliptus. Lumayan perut jadi anget.


"Untung kamu selalu ada di dalam tas," ucapku sambil masukin lagi barang yang mirip pulpen tapi versi gendut.


Dan pas aku bersiap mau keluar dari toilet, aku denger ada orang yang buka pintu.


"Waduh, pak Raga bukan ya? dia pasti misuh-misuh lagi kalau tau aku ada disini. Duh, gimana nih?" aku ragu takut buat keluar.


Tok...!


Tok...!


"Tapi dari bunyi sepatunya kayak bukan sepatu laki-laki. Apa jangan-jangan perawat? ah, nggak mungkin. Perawat disini kan sepatunya teplek semua, lagian mana ada perawat pake sepatu ber-hak?" aku mulai penasaran, siapa yang datang ke ruangan ini.


"Liat nggak yah?" lirihku.


"Liat ah ... eh tapi takut kalau ketauan..." aku ngomong sendiri.


"Liat aja, biar nggak penasaran!" ada suara wanita yang nyautin.


"Iya bener juga ya?! aku harus liat!" ucapku.

__ADS_1


Namun beberapa detik kemudian.


"Eh? kok...?" aku menyadari ada suara lain selain aku. Padahal kan aku lagi di toilet sendirian.


Aku mematung sesaat, antara mau keluar tapi ntar ketauan tapi kalau diem disini berarti aku berdua sama sosok yang lain, yang pasti bukan manusia. Aku pun jadi dilema. Tapi karena rasa malu lebih besar dari rasa takut, akhirnya memilih untuk stay aja di dalem.


Soalnya mas Liam nya terakhir ketemu dia nggak kenal aku, dan kalau aku tiba-tiba muncul dan ada orang lain disini juga, situasi pasti awakward banget.


Karena nggak boleh baca-bacaan pas di kamar mandi, aku pun ngucap aja dalam hati, berharap itu makhluk pergi dari sini, atau paling nggak nggak usah ngeganggu dengan suara atau nampakin wujudnya di depan aku.


Ayo, kembali fokeus. Kita kan mau ngintip, nyari tau siapa yang dateng.


"Oke, Rachel. Lanjutkan..." ucapku dalam hati.


Dengan sangat pelan-pelan aku muter handle pintu, supaya nggak ngeluarin suara sekecil apapun itu. Jangan ditanya, nih jantung udah dag dig dug der terus, takut ketauan.


Dan pas dibuka. Nggak keliatan. Karena posisi si perempuan ini membelakangi arah pandangku.


"Duh, nggak keliatan lagi..." lirihku. Untungnya nggak ada suara-suara lagi yang nyautin.


"Sama aja boong ini mah, ngintip tapi nggak ada hasil," ucapku lagi.


Tapi baru juga aku baru nutup pintu, eh si perempuan ini tau-tau bersuara. Maksudku perempuan yang menemui mas Liam.


"Sore, Liam..." ucap wanita itu.


Dan sekarang aku pasang kuping baik-baik, "Kayak kenal suaranya..." ucapku dalam hati.


Wanita itu ngomong lagi, "Aku bersyukur kamu bisa kembali lagi ke dunia ini. Rasanya duniaku runtuh saat tau kamu sudah---"


"Tuhan tidak akan membiarkan itu terjadi, sebelum aku bisa melihat kakak ku bahagia," ucap mas Liam.


"Tuhan juga tidak akan membiarkan itu terjadi, sebelum mengijinkan kamu merasakan kebahagiaan juga..." ucap si wanita.

__ADS_1


Sedangkan aku hanya menutup mulutku, karena aku baru sadar siapa yang sedang bertemu dengan mas Liam.


__ADS_2