Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Makan Malam Ngookk Ngoook


__ADS_3

"Please Racheeel, otak dikondisikan..." batinku.


Pak Raga balik lagi.


Sekarang dia narik aku, menuju sebuah balkon dan disana terpampang nyata sebuah pemandangan yang indah. Langit yang gelap dihiasi cahaya lilin.


"What a candle light dinner?" ucapku dalam hati.


"Ah, nggak nggak! paling ini mau dia kasih buat setan sekitar, kali aja ada menyan, atau kembang setaman atau apa gitu," aku celingukan sana-sini.


"Duduk," ucap pak Raga. Dia cuma nyuruh duduk, tanpa digeretin dulu kursinya.


"Saya duduk disini?"


"Bukan tapi diatas genteng!" sahut pak Raga.


"Dasar manusia menyebalkan!" batinku.


Aku pun geret kursi dan duduk dengan bibir yang pleyat pleyot. Sedangkan pak Raga biasa, tetap dengan ketampanan dan wibawanya. Sesekali dia menarik jasnya ke bawah, membenarkan agar jas mahalnya itu tetap rapi.


Kita berasa makan sama majikan kalau kayak gini mah.


Meja udah penuh dengan makanan dan minuman dengan gelas yang aduhai tingginya.


"Bapak ngajak saya kesini bukan untuk jaga lilin kan?" tanyaku.


"Apa? jaga lilin?"


"Ngepet, Pak ngepet! ngook, nggoook!" aku menirukan suara celeng.


"Aaah, ya ya ya miriiiip! saya nggak nyangka kamu itu ternyata wanita siluman!" ucap pak Raga ngenyek.


"Ini semua makanan manusia, kamu bisa pilih makanan yang kamu suka!" ucap pak Raga.


"Ya iyalah makanan manusia, lagian mana ada kambing makan steak?" gumamku.


Ini candle light dinner versi babu sm majikan. Aku duduk pake seragam kedai kurang topi sama apron doang, sedangkan pak Raga makan degan tenang, setenang kodok yang berenang di air danau. Emang ada kodok di danau? auk ah gelap! kalau ada yang tau bolehlah komen-komen di bawah, ya. Yeeuuuh si Rachel, elu pikir kita yutuber?! main nyuruh komen-komen segala.


Mumpung situasinya lagi mendukung, disela makan aku sodorin hape yang pernah pak Raga kasih, dari jaman kekaisaran romawi kuno.


"Apa ini?" tanya pak Raga.

__ADS_1


"Ini hape, Pak! saya nggak nyangka mata Bapak udah siwer!" ucapku, kali ini dia bukan bos. Jadi aku kalau ngomong ya biasa aja, nggak ada pressure takut dipecat.


"Iya saya tau ini hape! memangnya saya manusia gua, yang nggak tau kalau ini hape? maksud saya, tujuan kamu apa nyodorin hape ini ke saya?" pak Raga menunjuk hape yang di atas meja hanya dengan lirikan mata.


"Oh 🎵lirikan matamu menarik kolor! syalalalalalala...🎶" batinku nyanyiin lagu dangdut yang terkenal di jamannya.


"Buat apa?" tanya pak Raga ngebuyarin pikiranku yang udah kemana-mana.


Wuuuuuuzzh!


Angin berhembus lumayan bikin merinding.


"Buat saya kembalikan. Ini kan hape yang pernah Bapak kasih yang isinya nomor-nomor penting," aku menjelaskan.


Tanpa banyak omong, pak Raga ngantongin hape yang ada di meja.


Aku kira dia bakal bilang, "Nggak usah Rachel. Ambil aja buat kamu. Kalau kamu nggak mau, bisa kamu jual. Uangnya bisa kamu gunakan buat foya-foya!"


Aku ngeliat nih orang tanpa berkedip, bisa random banget kelakuannya, anjiiirr.


"Apa lagi?" tanya pak Raga.


Angin berhembus kedua kalinya.


Dalam hati aku ngedumel, "Please, perutku lagi keroncongan, jangan muncul dulu setannya!" aku memeluk diriku sendiri.


Dan dengan gentle-nya pak Raga buka jasnya. Bukan buat aku pakai, bukan. Tapi buat dia sampirin di kursinya dan dengan santainya dia bilang gini, "Aku nggak butuh jas ini, hatiku sudah cukup merasa hangat hanya karena dekat denganmu," ucapnya dengan menaikkan dan menurunkan satu alisnya.


"Moon maap, ini pa Raga abis kesambet di pohon nangka apa gimana? ngomongnya udah ngawur kemana-mana," aku gelengin kepala liat mantan bos kelakuannya absurd banget.


"Terus Bapak ngundang saya kesini buat apa? gaji sudah saya terima jadi apa lagi yang membuat saya masih punya urusan dengan Bapak?" aku memberanikan diri menatap pak Jiwa Raga.


Pak Raga menghela nafas, " Huufh, Bisa kah kita makan dengan tenang? kamu seperti sedang terburu-buru, apa ada seseorang yang sedang menunggu wanita siluman, hah?"


"Bapak suka sembarangan kalau ngatain orang, kalau saya siluman berarti Bapak mantan bosnya siluman!" ucapku nggak terima.


"Siapa suruh kamu ngak ngok ngak ngok kayak tadi?" pak Raga nggak mau kalah.


"Habiskan makananmu dulu, baru nanti kita bicara. Saya kalau makan sambil ngomong suka keselek!" kata pak Raga.


Ya sudahlah, kita sendiko dhawuh aja begitu ya. Biar nih orang cepetan ngomong dan udah, aku bisa balik ke kosan. Walaupun nggak bisa dipungkiri, rasa kangenku udah terobati. Rasa kangen yang kemarin- kemarin nyiksa batin, tapi mendadak hilang digantikan rasa kesel karena merasa sia-sia mencemaskan seorang Raga Mahendra.

__ADS_1


Jangan banding-bandingin pak Raga sama Almeer. Jelas mereka dua orang yang beda. Yang satu baiknya kebangetan dan yang satu sengkleknya udah nggak bisa disembuhkan.


Kita makan dengan tenang, dan sesekali aku benerin kacamataku yang melorot maning melorot maning son.


Aku makan enak malam ini, mau minum di gelas kaki tinggi tapi ragu. Aku takutnya ini wine atau semacamnya.


Hidungku lantas mendengus, mencoba mencium aromanya.


"Bukan minuman yang bikin kamu hilang kesadaran. Itu hanya soda," ucap pak Raga.


Aku pun mencobanya, dan ya emang soda.


Dan wuzzzzz...


Angin datang lagi.


Dan kali ini pak Raga ngasih jasnya, "Pakailah..."


"Terima kasih," ucapku yang pakai jas kegedombrangan di badanku


Tapi ini dinginnya beda, aku mulai curiga.


"Jadi, sebenarnya saya sudah tau soal Moreno Saputra yang suka main dukun-dukunan," ucap pak Raga, dia mengangkat gelas lalu meminumnya.


"Kalau anda sudah tau, kenapa anda masih menemuinya? dan membiarkan dia menaruh kancing merah yang sudah dijampi-jampi," ucapku gemes.


"Saya hanya ingin mengerjainya saja, Rachel. Orang seperti itu nggak seru kalau nggak dikerjai langsung! saya pura-pura terpengaruh dengan apa mantra yang dia bacakan, untuk mengetahui seberapa jauh dia akan mencoba memperdayaiku!"


"Tapi tatapan kamu yang membuatnya merasa kalau dia sedang diawasi, hampir saja kamu menjadi salah satu sasarannya. Karena secara nggak langsung kamu itu menghalangi dia mencapai tujuannya," ucap pak Raga.


"Beruntung saya ini orang yang cerdas, jadi saya bisa membuatnya fokus lagi terhadap saya. Dan menjanjikannya pertemuan kedua,"


Lantas pak Raga mulai cerita, di pertemuan keduanya itu pak Moreno menyodorkan satu kesepakatan konyol dimana perusahaan dinilai akan rugi besar jika menandatangani kontrak itu. Aku baru liat dia bisa tertawa selepas itu, dia menertawai cara pak Moreno yang menurutnya sangat ketinggalan jaman. Dia bilang kalau setelah pak Moreno memberikan kancing itu, pak Raga pura-pura mendadak sakit. Dia bilang pandangannya kabur dan harus pulang secepatnya. Dan setelah itu pak Raga memutuskan hubungan kerja dengan pak Moreno.


Saat pak Moreno mengajukan pinalti dengan jumlah fantastis karena pak Raga memutuskan kerjasama secara sepihak. Tapi pak Raga nggak sebodoh itu, pak Raga mengancam akan menyebarkan percakapan antara pak Moreno dan si dukun terkait kecurangannya dan menggunakan ilmu hitam.


"Selama rekaman itu ada pada saya, dia nggak akan bisa berkutik, hahahahahah," pak Raga tertawa puas.


Pak Raga lalu menyesap minumannya lagi.


"Lalu kancing merah itu?" tanyaku tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2