
"Kamu mau saya tinggal disini?" tanya pak Raga.
"Eh, eh, nggak mau, Paaaak..." aku ngibrit ngekorin pak Raga yang nyisir rambutnya pakai jari-jari tangan, benerin jambul.
Beeeuuuh. Kenapa nih pak bos mendadak edan begini sih. Hati ku kan jadi tercenat-cenut gituuh. Loh, ada apa ini?
Aku dan pak Raga masuk ke dalam mobil, sedangkan ocong tadi anjluk-anjlukan melipir ke pinggir. Dan waktu mobil kita melintas, dia bungkuk sebentar dan nyelonongin tangannya keluar dan dadah-dadah manjah.
Aku yang nengok ke jendela, cuma bisa geleng-geleng kepala.
"Kenapa kamu Rachel?" suara pak Raga ngagetin aku.
"Kok Bapak tau yang tadi bukan setan?" tanyaku penasaran.
"Karena saya lihat temannya bersembunyi di balik pohon. Lagian jaman sekarang mana ada setan?" ucap pak bos enteng.
"Ya kali dia udah liat, ngapain juga pakai atraksi silat pakai jurus monyet digeplak duit segala?" gumamku sendiri.
"Kamu bilang apa tadi, Rachel?" tanya pak Raga.
"Tidak, Pak..."
"Sepertinya kamu sudah mulai lupa ingatan," pak Raga mulai nyindir.
"Lupa ingatan. Ingatan apa, Pak? saya masih ingat kok, Bapak itu bos saya, sumber dari penghasilan saya. Saya ingat itu, Pak..."
"Ck, sumber penghasilan?" pak Raga narik satu sudut bibirnya ke atas.
"Bukan itu maksud saya, Rachel. Kita kan sudah sepakat kalau di luar jam kantor, kamu harus panggil saya 'Sayang'?! sudah ingat?" pak Raga ngelirik sekilas, dia sambil nyetir.
"Oh yang itu?"
"Kok 'oh'?" pak Raga nautin alisnya.
"Ya, saya ingat kok, Pak. Tapi bukannya itu berlaku ketika ada nenek Bapak?" aku miringin badan, biar leher nggak tengkleng nengok ke pak Raga mulu.
"Sekarang ada atau tidak ada nenek, kamu harus panggil saya dengan panggilan yang sudah disepakati, mengerti?" suruh pak Raga.
Aku manggut.
"Kamu mengerti tidak, Racheeel?" dia nanya lagi.
"Sendiko dawuh, Bapaakeee..."
"Bagus?! pertahankan seperti itu?!" ucap pak Raga.
__ADS_1
Malam ini, malam yang panjang
Iya karena kan perjalanan dari rumah mas Liam ke apartemen yang dituju pak Raga itu lumayan jauh.
Sampai sana, pak Raga masukin kode buat buka pintu. Dan ternyata bukan hanya aku dan pak Raga yang masuk ke dalam apartemen ini tapi juga mas Liam. Ya! Mas Liam.
"Hey, Kamu kenapa, Racheell?" tanya pak Raga. Pak Raga menegur aku yang masih tertegun melihat mas Liam yang berdiri di samping pak Raga.
"Hey, kamu kenapaa?" pak Raga nanya lagi.
"Eh, itu---"
Mas Liam menggeleng, dia menaruh jari telunjuknya di depan bibir.
"Itu itu apa?" pak Raga mendekat sedangkan aku sedikit mendongak.
Aku menggeleng, "Nggak jadi, Paaak?! nggak jadi..."
Liam tersenyum, deuh senyumannya bikin melting. Dan kalau dijejer begitu, emang pak bos sama mas Liam jauh dari kata mirip. Tapi keduanya mempunyai satu persamaan, sama-sama ganteng.
Pak Raga main narik aja ke ruang makan yang digabung sama meja makan.
"Kamu lapar?" tanya pak Raga.
Aku ngangguk.
Setelah itu, pak Raga pergi. Dan disaat itulah mas Liam muncul lagi. Baru kali ini ada hantu seganteng mas Liam.
"Ehm," mas Liam berdehem.
Sementara aku lagi gratakan mau masak. Enak nggak enak bodo amat, kan aku nggak tau selera pak bos kayak gimana. Lagian, aku yang habis pingsan, kok ya aku yang masak. Bener-bener manusia batu!
"Jangan bilang kalau kamu bisa ngeliat aku. Kak Raga nggak bakalan percaya,"
Aku ngangguk aja, ngeiyain dia.
"Oh ya, kata pak Raga aku pingsan. Kok bisa? perasaan aku cuma ketiduran, deh?" aku mengeluarkan beberapa macam bahan dari kulkas. Dan mulai membuat apa yang pak bos minta.
"Karena kita bersentuhan, makanya energi kamu terserap banyak. Itu yang bikin kamu pingsan. Aku sengaja membuat pelayan datang ke kamar, supaya dia bisa menemukan kamu. Karena aku nggak bisa berbuat apa-apa selain itu..." ucap mas Liam.
"Oohhhh,"
Aku lanjut masakin si bos, sedangkan mas Liam, berdiri sambil ngeliatin. Hadeuh, aku kan jadi deg-degan ya. Kenapa adek kakak suka bikin jantung suka marathon sendiri, ck ada apa dengan mereka. Udah ganteng, pinter, kaya. Coba salah satu berjodoh sama mbak Gita, pasti perfect banget tuh. Mbak ku yang cantik, dapet suami yang juga ganteng plus otaknya encer.
"Rachel...? kamu kenapa, Rachel?" tanya mas Liam.
__ADS_1
"Nggak, nggak ada apa-apa..." ucapku bohong, padahal aku emang lagi ngelamunin kakak beradik itu.
Beberapa saat kemudian, pak bos dateng.
"Kamu biasa ngomong sendiri, ya?" tanya pak Raga.
"Mana? kok belum jadi?" dia merepet lagi nanyain pesenannya. Dia kira kita chef uang bisa sat set sat set masak melebihi kecepatan cahaya kali ya.
"Belum jadi, Pak..."
"Apa?"
"Eh, Pak Sayang uuu tayang...." aku meralat ucapanku.
Melihat aku gelagapan, mas Liam malah ketawa. Dia menutup mulutnya ketika aku meliriknya sinis.
Dia bilang, "Sorry..." dengan lirih.
Padahal dia ngomong juga kan pak Raga nggak bakalan denger, suka aneh-aneh emang hantu jaman now. Eh, tapi kalau mas Liam termasuk hantu bukan sih? kan dia belum lepas dari dunia, dia masih terkatung-katung nggak jelas.
"Apa yang kamu lihat?" pak Raga melihat ke arah yang sama.
"Eh, nggak Pak. Emh, Pak bos Sayang..." ucapku lagi.
"Semakin kamu ngelamun semakin benyek pastaku! awas saja kalau gosong!" ucap pak Raga yang kini duduk di meja makan, dengan satu kaki dia tumpangin ke kaki satunya.
Sementara aku ngeliat mas Liam senyum-senyum begitu malah hatiku cenat cenit. Ya, nggak tau kenapa. Aku nggak bisa mengalihkan perhatianku dari mas Liam. Kayaknya nggak rela banget dia jadi hantu. Orang sebaik dan semanis itu, ah dunia emang kejam.
"Apa aku udah beneran suka sama mas Liam?" sesekali aku mencuri pandangan ke mas Liam.
"Udah mateng tuh! nanti kebenyekan, yang ada kak Raga nyuruh kamu masak lagi!" mas Liam nunjukin teflon yang aku pegang pakai dagunya.
"Iya iya, ini juga mau aku angkat!" kataku nanggepin omongannya mas hantu ganteng.
"Kamu ngomong sama siapa, Rachel? jangan suka ngomong sendiri dan bikin kamu tambah aneh!" ucap pak Raga.
"Saya ngomong sama wajan, Paaaakk! ngingetin dia supaya jangan bikin masakan saya nggak enak!" aku ngeles, dan ucapanku itu bikin mas Liam tertawa lagi.
"Duh kepriben sih, Lur! kok ya dia ketawa dan bikin kadar kegantengannya semakin nggak bisa dikondisikan?" batinku.
Nggak mau masakanku berakhir di tempat sampah karena dilepehin pak Raga, akhirnya aku taruh pasta yang udah aku buat diatas piring. Dan semua tindak tandukku nggak luput dari incaran tatapan pak Raga yang seperti pedang, tajem broooh!
"Lama sekali kamu, Racheeeeel..." ucap pak Raga ngetokin jarinya di atas meja, gregetam dia.
"Njiiiih, sendiko dawuh, Sayaaaaaaaaang..." ucapku dengan dua piring yang akubtaruh di atas meja makan.
__ADS_1
Satu alis pak Raga naik ke atas, "Dari bentuknya sih oke, tapi kita lihat rasanya. Apakah tampilannya menipu atau tidak,"
"Deuuuhhh, tinggal makan aja susah amat!" aku dalam hati dongkol.