
Iya feelingku nggak enak banget ngeliatin tatapannya pak Moreno ke pak Jiwa Ragaku.
Sedangkan pak Raganya sendiri, dia menatap lawan bicaranya dengan sikap santai.
"Chel, aku ke toilet bentar ya. Kamu kalau pengen pesen minum lagi pesen aja. Pak Raga kayaknya masih lama tuh ngobrolnya," ucap mas Andri memutus tatapanku pada dua orang yang memiliki perbedaan usia yang mencolok. Kalau dilihat dari muka dan perawakan, pak Moreno ini usianya udah cukup matang, usianya dikisaran 40-an. Aku ngangguk aja, mengiyakan tawaran mas Andri. Pri itu lalu pergi menuju toilet.
Sedangkan aku masih melihat ke arah pak Moreno. Dan saat aku perhatikan dengan seksama, daritadi pak Moreno meletakkan kedua tangannya di atas paha. Mamun aku bisa melihat sesekali tangan kanannya diangkat sedikit dan bergerak membentuk pola-pola abstrak.
Dan itu nggak cuma sekali, tapi selama pembicaraan dengan pak Raga pria itu selalu menggerakkan tangannya.
"Kayaknya ada niat yang nggak baik darimu, Pak..." aku bergumam lirih dengan memandang pak Moreno.
"Belum kelar juga mereka?" tanya mas Andri yang udah balik lagi.
"Belum, Mas..." ucapku pada mas Andri.
"Jangan panggil, Mas! ntar bos merong-merong! panggil Andri aja..." ucap mas Andri.
"Alamat berjam-jam ini, Mah..." ucap mas Andri.
"Aku pesen minum lagi aja ya? jangan sampai kita dehidrasi gara-gara nungguin pak Raga ngobrol asik," lanjutnya.
Mas Andri melambaikan tangannya memanggil pelayan, "Hot Coffee latte satu,"
"Kamu mau minum apa, Chel?" mas Andri nawarin.
"Jus semangka!" aku nyautin tanpa melepaskan pandangan dari pak Moreno.
"Baik, ditunggu pesananya..." ucap si pelayan.
"Abis ini kita masih ada pertemuan lagi, kan?" aku memastikan scedule pak Raga.
"Iya, nanti jam 11 an sekalian makan siang," jawab mas Andri.
Dan minuman kita pun datang. Asisten pak Moreno nampaknya mendekat pada bosnya.
"Ngapain tuh?" aku memperhatikan gerak gerik pria yang mungkin 10 tahun lebih muda dari pak Moreno. Dia terlihat sedang membisikkan sesuatu.
Lalu nggak berapa lama, pak Moreno melihat ke arahku. Aku yang di tatap melengos melihat ke mas Andri yang lagi niup-niup kopinya.
"Pak Moreno kok ngeliat kesini ya, Mas?"
__ADS_1
"Elaah, si Rachel. Jangan panggil Mas. Nanti pak Raga bisa marah?!" ucap mas Andri.
"Ngeliatin gimana sih?" mas Andri melihat ke arah yang aku lihat.
Mas Andri mengangguk lalu tersenyum sekilas sedangkan aku mulai meminum jua yang masih dingin.
"Ngeliatin gimana sih? orang biasa aja kok, Chel. Kayaknya mereka udah selesai," kata mas Andri.
Aku ngeliat pak Raga berjabat tangan dengan pak Moreno.
"Kita kesana!" kata mas Andri.
Aku beranjak dan mengikuti mas Andri dari belakang.
"Hati-hati di jalan, Pak..." Mas Andri menunduk hormat pada pak Moreno. Aku pun mengikutinya, namun ada tatapan lain yang pak Moreno layangkan. Tapi aku segera mengalihkan pandanganku pada pak Raga.
Pak Moreno dan asistennya pergi meninggalkan restoran ini.
"Pak Raga, sebentar lagi kita ada pertemuan dengan---"
"Kita langsung saja kesana," ucap pak Raga datar, kemudian berjalan keluar. Sedangkan mas Andri melambaikan tangannya pada pelayan, dia meminta bill.
Aku mengikuti kemana pak Raga pergi sampai di depan mobil. Tiba-tiba pak Raga berbalik.
"Hah?" keningku berkerut mendengar ucapan pak Raga yang nggak biasa itu.
"Kan saya---" aku belum menyelesaikan ucapanku, pak Raga nyerobot.
"Asisten?" tanya pak Raga.
Aku mengangguk, "Iya...?"
Mas Andri tiba-tiba datang, kebetulan mobil pak Raga dan mas Andri parkir sebelahan.
"Ndrii?!" panggil pak Raga.
"Ya...?"
"Bawa dia bersamamu. Saya bukan supirnya!" ucap pak Raga ketus.
Aku shock mendengar ucapan pak Raga yang nyelekit sampai ke tulang.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi?" pak Raga menunjuk mobil mas Andri dengan dagunya.
"Iya!" Mas Andri dengan muka yang bingung.
Sementara pak Raga masuk ke dalam mobilnya dan tancap gas pergi meninggalkan aku dan mas Andri yang masih terpaku melihat kepergiannya.
"Kalian lagi berantem apa gimana?" mas Andri kepo.
"Nggak..." jawabku lirih, pikiranku mengawang entah kemana.
"Ya udah yuk, masuk!" ucap mas Andri nyuruh aku masuk ke dalam mobil.
Mas Andri lumayan ngebut ya. Katanya jangan sampai pak Raga nyampe duluan. Ntar dia ngomel-ngomel nggak jelas.
"Kenapa dia malah jadi aneh gitu. Perasaan itu kepala nggak habis kebentur apa-apa..." ucapku dalam hati.
"Masih kepikiran pak Raga?" tanya mas Andri.
"Udah tenang aja, paling bentar lagi juga biasa lagi sikapnya. Ehm, kita hampir sampai. Jangan tunjukan raut wajah seperti itu apalagi kita akan bertemubseseorang yang sangat berpengaruh," lanjutnya.
"Iya..." jawabku. Aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan lalu mulai memasang senyuman di wajah.
"Senyumnya nanti aja kalau sudah di dalem!" ucap mas Andri yang menghentikan mobilnya di salah satu restoran ternama.
Alhamdulillahnya kita sampai duluan daripada pak Raga. Mas Andri ngajak aku masuk ke dalam menunggu kedatangan pak Raga dan seseorang partner bisnisnya.
Baru juga aku dan mas Andri duduk, pak Raga dateng. Dengan bahu yang lebar dia jalan dengan gagahnya. Aku sampai nggak bisa kedip, kok vibenya beda banget. Ini mah pak Raga yang awal-awal aku temui, bukan pak Raga pacar Rachel. Ehm, pacar.
"Disebelah sana, Pak..." mas Andri nunjukin meja yang udah dipesan.
"Kamu sudah hubungin, jam berapa mereka akan kesini?" tanya pak Raga ke aku.
Aku yang ditanya sukses plonga-plongo. Masalahnya kan aku asisten abal-abal, yang tugasnya cuma mengurusi kesejahteraan hati pak Raga, bukan masalah kerjaan kayak gini. Ya, aku cuma ngurus hal yang simple bukan kerjaan yang sesungguhnya.
"Hey, kamu ditanya kok diam saja?" tanya pak Raga.
"Sudah, pak. Tadi waktu dalam perjalanan, Rachel sudah menghubungi Nona Adella. Mereka masih dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi akan sampai!" mas Andri mewakili aku buat ngejawab.
"Baguslah kalau begitu!" pak Raga menanggapi ucapan maa Andri.
Padahal mah, mas Andri yang sibuk ngontak orang sana sini sewaktu di mobil. Sementara aku cuma bengong di mobil, karena masih kepikiran tentang sikap aneh pak Raga. Dan utu emang tugasnya mas Andri bukan tugasku juga, jadi ya aku tenang-tenang bae ngikut kemari.
__ADS_1
Pak Raga lagi ngusap-nguaap hapenya. Apa dia nggak nyadar kalau wallpaper hapenya aja muka aku, tapi kok sikapnya dingin kayak gitu. Hatiku rasanya cenat-cenut. Aku bahkan nggak bisa melepaskan pandanganku dari pria yang telah berubah dalam hitungan menit saja.
"Kamu kenapa sih pak Raga?" ucapku dalam hati sambil memperhatikan apa yang dilakukan bos sekaligus pacarku itu.