Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Pendekar dan Xi Lu Man


__ADS_3

"Bapak ada gila-gilanya, ya...?!"


"Bapak nggak bisa ngebeli hati saya dengan uang Bapak. Oke, kalau saya jadi asisten, jadi pacar bohongan. Tapi masa iya saya nggak boleh suka sama orang lain? nggak ada itu, Pak. Bapak sudah melakukan tindak kejahatan dengan merampas kemerdekaan oranglain atas hak rasa menyukai dan tidak menyukai..." aku menyuarakan suara hati karyawan yang terintimidasi.


Pak Raga marah?


Nggak.


Dia malah senyam-senyum nggak jelas. Senyuman yang lebih ke ngeremehin. Ya ampun ya ampuuun, punya bos kurang setengah ons ya begini ya. Coba kalau bukan bos, udah aku cabein itu mulutnya biar jeding kepedesan.


"Kenapa liat-liat?" aku ngelirik ke arah pak Raga.


"Aku nggak ngetawain loh," kata pak Raga. Dia emang nggak ngetawain tapi mukanya itu loh ngledekin. Sama-sama bikin emosi.


"Oh ya, karena kamu sudah sehat walafiat. Besok kamu harus berangkat ke kantor?!" ucap pak Raga.


Dan tiba-tiba saja, tepat di depan mobil kami. Ada sesosok makhluk lain yang melihat ke arah ke arah dalam mobil.


"Halah paling dikasih duit lagi juga ngilang," aku mau buka pintu tapi dicegah tangan pak Raga.


"Jangan...! yang kali ini bukan manusia," ucap pak bos yang secepat kilat tancap gas meninggalkan parkiran rumah sakit.


Nggak habis pikir, ketemu setan aja doi masih bisa tenang. Liat arwah mas Liam waktu itu aja dia masih bisa pura-pura nggak liat. Apa mungkin pak bos ini punya bakat terpendam bisa jadi actor sinetron nih, judulnyaa kita pilihin ya 'Suami Terdzolimi', 'Bosku Kurang Perhatian' atau mungkin 'Bos Lucnut Milik Sejuta Umat'.


Pak Raga menekan pedal gasnya, tapi mobil ini nggak bisa jalan. Dan mataku melihat kalau sosok pria yang ada di depan kami. Dia menempelkan satu jarinya di body depan mobil pak Raga.


"Buset, dah! jarinya aja bisa bikin nih mobil nggak bisa gerak," aku bergidig ngeri.


Sayup-sayup kedengeran suara nafas berat dan pendek.


"Duh, kepriben kiye, Paaaak..." aku menengok ke arah pak Raga yang diem-diem bae.


"Jangan-jangan pak Raga kesurupan?" aku dalam hati.

__ADS_1


Setelah beberapa saat terdiam, pak Raga membuka pintu mobil.


"Pak? Pak Raga mau kemana?"


Pak Raga nggak ngejawab, dia cuma ngasih liat telapak tangannya sebelum dia bener-bener keluar dari mobil.


Braakkk?!!


Dia nutup pintu dengan cukup keras. Pak Raga jalan terhuyung-huyung. Dengan mata tertuju pada makhluk itu.


"Bos ku kenapa lagi dah?" aku ikut mengawasi pergerakan pak Raga.


Setelah jarak mereka cukup dekat, pak Raga nunjuk-nunjuk muka pria yang pak Raga jamin bukan manusia. Inget, pak Raga yang jamin, bukan aku.


Dia mulai keluarin jurus anehnya lagi, kali ini dia cosplay jadi seorang pendekar yang sedang melawan Xi Lu Man. Dia lurusin tangan kirinya dan dia gerakin jari tengah dan telunjuknya maju mundur, ngode supaya itu makhluk ghoib buat maju, dan tarung sama dia. Sedangkan tangan satunya dia tekuk seolah lagi megang gelas atau apapun itu.


Sampe disini aku nggak paham sama konsepnya pak Raga sumpeh. Ini ada setan, terus dia ajak duel gitu? Logikanya dimaanaaaaaaa, Bapaaaaakkk? ya Allah tolong!


"Hyaaaatttt...! aaaarrrrghhhh, " aku dengan teriakan pak Raga yang nunjukin tendangan kakinya dan dia muter sekilas melayang di udara.


Nggak!


Setannya bengong aja liatin ada manusia rada-rada nggak waras.


Sama kayak aku yang ngeliatin pak Raga lagi tendang sana tendang sini, mamerin jurusnya yang mirip kayak di film-film kungfu shaolin. Ntar dia doyong-doyong kayak orang yang lagi mabok perjalanan. Pak Raga riweuh sendiri.


Moon maap nih netijen, pak Raga yang lagi cosplay tapi kita yang malu, loh. Beneran.


"Hyaaaaaaaaa....?!!" pak Raga teriak lagi sedangkan si sosok pria yang jadi Xi Lu Man, angkat jarinya dari mobil dan pergi ngeloyor aja tanpa memperdulikan sosok pak Raga yang udah segitu menjiwainya pengen berantem sama tuh makhluk ghoib.


Mungkin dalam hati tuh setan, "Wah ini gue salah ngerjain orang nih?! mending gue kabur aja, daripada ntar gue yang diuber-uber sama dia?!"


Melihat lawannya kabur tanpa mengeluarkan satu jurus apapun, pak Raga kembali berdiri sebagaimana mestinya. Dia benerin jasnya dengan sangat cool dan balik lagi ke dalam mobil.

__ADS_1


"Beres, kan? emang aku jenius banget?! ck, ck, huufh. Jambulku doyong dikit nih...?!" pak Raga merepet sendiri sambil benerin rambutnya pakai jari tangan.


"Apa? kenapa?" pak Raga naikin nunjuk aku dengan dagunya.


Aky menggeleng.


"Moon maap nih, Pak. Moon maap ya, permisi..." aku dengan perlahan menempelkan punggung tanganku ke jidatnya pak Raga.


"Nggak panas," lirihku.


"Ck, dibilangin kalau di luar jam kerja jangan panggil saya, Bapak! kuping saya gatel denger kamu panggil saya Bapak setiap waktu. Kamu ngerti nggak sih Rachel?" pak Raga menepis tanganku yang tadi nangkring di jidatnya.


Aku yang disampingnya menjadi lega, akhirnya pak Raga balik lagi juteknya.


"Alhamdulillah, balik lagi dia..." lirihku.


"Kamu bilang apa, Rachel?"


"Alhamdulillah, soalnya Bapak udah balik lagi. Kan barusan Bapak abis kesurupan setan kungfu. Takut saya tuh..." ucapku.


Sementara pak Raga, mukanya kayak nahan kesel. Biarin lah, yang penting dia udah nggak aneh-aneh lagi.


Setelah makhluk ghoib tadi pergi, aku dan pak Raga pergi dari parkiran. Mobil yang kita naikin ini bergabung dengan mobil lain di jalan Raya, pak Raga nggak ngebut. Dia cukup santai, bahkan tak jarang dia bersenandung. Bener-bener aneh emang. Saking anehnya, aku sampe lupa kalau aku lagi sedih perkara mas Liam nggak ngenalin aku, lupa sama ku dan kebersamaan aku sama dia.


"Pak ... eh, Sayang. Kenapa mas Liam tadi nggak ngenalin aku ya? tapi bisa ngenalin Sayang sebagai kakaknya?"


"Ya mana aku tau. Tanya saja sama dokter,"


"Ck, bener-bener bos menyebakan?!!" aku bergumam nahan emosi.


"Bisa nggak selama aku nyetir, jagan sebut nama Liam? aku takut dia lagi makan dan dia keselek gara-gara dibicarain sama kamu," kata pak Raga menatapku dengan tatapan nggak welcome.


Jadilah setelah kena ultimatum dari pak Raga, aku diem nggak bahas mas Liam. Walaupun dalam hati yang paling dalem, hatiku sakit karena orang yang aku suka malah nggak mengenaliku sama sekali.

__ADS_1


"Jahat banget kamu, Mas..." ucapku dalam hati tertuju pada mas Liam.


__ADS_2