
Perut udah kenyang, cucian baju udah kelar. Kelar di packing buat di-loundry.
Baru dua hari kerja, udah capek banget pinggangku. Nggak tau berapa puluh kali aku bersihin meja dan nyuci piring. Tapi malam ini aku butuh koyo cabe, biar nih pinggang bisa buat kerja lagi besok.
"Ck, moga aja ada kabar baik dari Almeer, karena duitku udah jebol hari ini. Ya ampun makan apa kayak gitu doang abis 500 ribu lebih," gumamku.
Dan ketika inget pak Raga guooondok banget rasanya.
"Duitku kebuang sia-sia hanya untuk orang yang hidupnya penuh kepura-puraan!" aku tarik selimut sebatas dada.
Baru baru merem, eh hapeku bunyi dong.
"Temenku deal mau beli motor kamu. Nanti untuk surat balik nama dan lainnya, kamu terima beres aja. Nanti aku yang urus," aku baca chat dari Almeer.
"Beneran? ini aku nggak mimpi kaaaaan??" aku tepokin pipiku beberapa kali biar sadar kali aja aku dalam mimpi.
Aku langsung ngetik ucapan terima kasih dan kirim ke nomornya Almeer. Akhirnya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Emang rejeki nggak kemana, meskipun hatiku merana karena motorku harus dijual.
Sesaat aku inget wajah pak Raga. Wajahnya saat di mobil jauh berbeda saat aku liat dia di restoran.
"Aaaiiishh, Racheeeeel. Dia udah nipu kamu, masih aja kamu pikiriiin. Otak kamu sama aja kayak heater itu, sama-sama konslet!" aku gebugin bantal, bahkan aku gigit ujung sarung bantalnya saking jengkelnya sama bos kaya tapi gendengnya luar binasaah.
Aku liatin hape lagi, pengen banget hapus kontaknya pak Raga. Tapi jari nggak mampu ngelakuinnya. Ah, aku lemah.
"Kenapa dia selalu berbuat sesuka hatinya!" gumamku sembari naruh hape diatas kasur.
Dua hari ini aku udah kayak orang yang hilang akal, pakai nguping pembicaraan orang, nyamar jadi kurir kopi, kebut-kebutan di jalanan kayak orang kesetanan, dan terakhir bersembunyi seperti seorang penguntit. Fatalnya, aku hampir aja kehilangan pekerjaan gara-gara pria yang usianya udah nyentuh kepala tiga itu.
"Mulai sekarang jangan pedulikan pria galak itu, Racheel. Dia seperti minyak zaitun sesangkan kamu cuma minyak jelantah yang udah melalui 5 kali penyaringan, 5 kali dipakai nggoreng, sampe item-item gitu warnanya!" aku ngomong sendiri.
__ADS_1
Kalau udah ngelantur kayak gini, berarti tansanya aku udah capek dan harus tidur.
"Wahai jasmani dan rohani atas nama Rachel Faradilla, terima kasih dan maaf untuk hari ini. Semoga besok banyak keberuntungan yang menyertaimu, semoga..." ucapku sebelum memejamkan mata.
Dalam hati aku nambahin, semoga malam ini nggak ada gangguan lain. Karena badanku udah capek banget, besok harus kerja. Kalau mau gangguin, tuh gangguin aja si Mirna ratunya para tawon. Kalau aku kan anak baik, jadi biarkan aku malam ini bisa tidur dengan nyenyak.
Sesuai permintaan, malam ini aku bisa melayang ke alam mimpi tanpa ada sesuatu yang menganggu telinga. Tapi tidak dengan pak Raga, nyatanya pikiranku menghianati diriku. Karena apa, wajah pria angkuh, sombong dan juga segleng itu mampir ke dalam mimpi yang seharusnya indah karena aku yang bertemu idola, harus dinodai dengan datangnya pak Raga yang menarikku dari kerumunan para fans. Aku yang ditarik menjauh, hanya menjulurkan tanganku mencoba meraih pria berkebangsaan korea yang membuat hatiku cenat-cenut nggak karuan.
"Aaaaaaaakkkhhhgh!!" aku berteriak.
"Hoahh, ternyata aku cuma ngimpii...?! ya ampuun ... hhh ... siapa tadi? wajah siapaaaa tdaiii?!!" aku mencoba mengatur nafas, akunfruatasi melihat wajah pak Raga. Aku celinguk ke kanan dan ke kiri, nyari hape di kasur.
"Baru jam setengah 5 pagi, hoaaammmph..." aku taruh lagi hape, dan naikin selimut. Udara masih dingin, bisa bergetar kaki ku kalau aku masuk kamar mandi buat nyiram badan.
"Beruntung banget orang itu bisa menembus batas, dan masuk ke dalam mimpiku! huufh, dalam mimpi aja dia menyebalkan, apalagi dalam kehidupan nyata? astaga, ada apa sih sama aku? Huuufhhh, kenapa wajahnya tiba-tiba muncul bagai mimpi buruk!" aku naikin lagi selimut sebatas leher, aku masih setengah ngantuk. Tapi pikiranku kembali melayang pada dua benda, kancing merah dan batok kelapa.
"Aku harus tidur setengah jam lagi, buat mengusir sisa mimpi buruk tadi," aku niat ingsun mau merem. Semoga pak Raga jangan lagi datang buat yang kedua kalinya.
Namun hidupku udah ditakdirkan jauh dari kata tenang. Baru juga ngeliyep bentar hapeku bunyi, ada yang nelpon pagi-pagi.
"Haloowwh?" aku dengan suara serak.
"Halooo, Chel. Pagi ini aku ke kosan kamu ya? semalem aku dititipin duit buat bayar motor. Temenku ada urusan ke luar kota seminggu ke depan, jadi nggak bisa langsung ketemu sama kamu, yang jelas harganya cincay lah! kamu nggak akan rugi," suara Almeer menyapa telingaku, dia begitu bersemangat.
Mendebgar kata 'duit' mataku pun terbuka seketika.
"Gimana, gimana? duit motor?" aku pastiin lagi.
"Iya duit motor. Jangan bilang kamu berubah pikiran buat jual motor itu?" Almeer kedengerannya cemas.
__ADS_1
"Ah, nggak nggak. Aku nggak berubah pikiran kok! aku cuma kaget denger kata duit," aku bilang jujur
"Ah syukurlah, aku kira kamu nggak jadi jual. Soalnya reaksi kamu kayak gitu tadi, bikin aku jadi takut!" ucap Almeer.
"Jadi kok jadi. Ya, udah aku tunggu di kos. Kabari kalau mau kesini," ucapku yang melihat jam, waktunya sholat subuh.
"Oke, bye..." Almeer menutup telfonnya.
Mungkin hal baik yang datang padaku itu akibat karma baik yang selalu aku lakukan dalam kehidupan.
Tapi lagi-lagi aku mendengar suara mobil yang sama.
"Nggak mungkin itu suaranya mobil pak Raga, Racheeel. Ngapain juga dia kesini? kayak nggak ada kerjaan! nggak, nggak. Hapus oramg itu dari pikiranmu, Racheeeel...." aku meyakinkan diri.
"Lagian apa yang mau diliat? dikejar juga nggak ada gunanya. Dan siapa tau itu bukan mobilnya pak Jiwa Raga segleng itu. Ingat Rachel, dia minyak zaitun dan kamu minyak jelantah atau malah minyak tawon. Jadi nggak usah berharap sama orang yang nggak sesuai sama kamu! inget, Racheeeel. Bisa jadi sikapnya, tutur katanya hanya sebatas pura-pura," ucapku lagi.
Ya, aku lebih baik fokus menata kehidupanku sendiri. Daripada mikirin orang yang bisa mengurus dirinya sendiri.
Matahari bergerak cepat, sinarnya udah menyapa kami para makhluk hidup yang sudah emmulai aktivitas pagi ini.
Drrrttt!
Drrrrt!
Hape ku bunyi.
"Hey, Rachel. Aku udah di bawah, cepat turun ya!" ucap Almeer di telepon tanpa menunggu jawabanku.
"Duiiiiit, I'm comiiiing!" ucapku dengan penuh semangat hari ini.
__ADS_1