
Ada salah satu rekan kerjanya mas Bram. Ternyata dia itu bikin mas Bram jadi orang yang hilang kendali. Nih, dia kasih benda kayak gini.
Mbak Gita mengeluarkan sebuah benda yang biasanya menyimpan cincin atau pun perhiasan lainnya.
"Tempat perhiasan? Apa hubungannya?" aku mau megang tapi nggak dibolehin sama mbak Gita.
"Jangan disentuh, ini tempat perhiasan nggak bagus! Intinya barang ini sengaja dikasihkan ke mas Bram, isinya ya sesuatu yang jahat. Dia tau kalau mas Bram suka dengan benda-benda antik.
"Semenjak Mas Bram dipromosiin jadi manager, orang itu nggak suka. Jadi dia kasih mas Bram benda kayak gini supaya kinerja mas Bram turun...."
"Aku nggak mudeng, Mbak?! apa korelasinya antara tempat perhiasan sama sikap suami mbak yang berubah?" aku menunjuk kotak kayu dengan banyak ukiran yang keliatannya emang antik banget.
"Mas Bram suka banget nyimpen jam tangannya di kotak ini, Dek. Dan energi negatifnya nyerep dan masuk ke jam tangan itu,"
"Dan itu yang bikin dia kayak orang kesetanan gitu? Marah-marah, banting-banting barang---"
"Maafin aku, Rachel...!" serobot mas Bram.
"lebih baik nanti lagi kita bicara soal ini. Nggak baik buat Nay dengerin hal-hal kayak gini " ucapku menyudahi pembicaraan yang intinya udah bisa ditebak. Aku lagi nggak mood ngomong sama Bram Brem itu.
"Berhubung Nay udah aku anterin kesini, aku pamit pulang, Mbak!" ucapku pada mbak Gita.
"Pulangnya habis maghriban aja, Dek..."
"Aku capek banget, Mbak. Pengen istirahat. Nanti mbak telfon aja kalau mau cerita..." ucapku pada mbak Gita.
"Kalau benda itu punya pengaruh buruk, jangan deketin sama Nay!"
"Temen Mbak mau kesini buat ngambil kotak ini, dan mau dikasih ke orang yang emang hobinya ngoleksi benda-benda nggak jelas kayak gini," ucap mbak Gita.
"Tanteeeee...?!" Nay lari dan meluk pinggangku.
"Nay?" aku berjongkok, mensejajarkan tinggi badanku dengan gadis gecil ini.
"Tante mau pulang?"
"Iya, tante mau pulang. Nanti kita bisa ketemu lagi setelah ini. Oh ya, jangan ngomong sama anak cowok yang tadi ya, Nay?" lirihku pada Nay.
"Tapi kenapa, Tante?"
"Dia bukan manusia seperti kita," ucapku nggak mau berbohong.
__ADS_1
"Nay ngerti kan?"
Dia menganggu, "Iya, Tante..."
"Anak pintar!" aku mengusap pucuk kepalanya, lalu berdiri kembali.
"Mbak Gita, aku pamit pulang..." ucapku pada mbak Gita, kalau mas Bram aku cuma kasih senyum tipis yang saking tipisnya sampai nggak keliatan.
"Tante pulang, Nay..." aku berbalik dan keluar dari kamar rawat mas Bram.
Aku jalan dengan langkah yang nggak bersemangat. Rasanya semua hal terjadi dalam waktu yang singkat. Ini lagi ada fakta yang bikin aku tercengang. Tentang mas Bram yang dapet kiriman benda yang ada kekuatan mistisnya. Pengen nggak percaya, tapi raut wajah dan nada bicara mas Bram 180 derajat beda dari terakhir yang aku temui sewaktu dia ngamuk sama mbak Gita. Ya, mas Bram yang tadi itu sama kayak mas Bram yang dulu.
"Aku nggak boleh ngebiarin pak Raga juga mengalami hal yang sama kayak mas Bram! aku harus ngelakuin sesuatu," gumamku.
Aku telfon ke nomornya pak Raga, tapi nggak diangkat. Aku turun ke bawah sambil ngechat pak Raga, kalau aku minta ketemuan, tapi cuma centang dua aja.
"Kenapa nggak dibaca? Apa dia lagi sibuk banget? dia masih di kantor nggak, ya?"
Kaki ku melangkah keluar saat pintu besi terbuka.
"Aku telfon mas Andri aja deh?!" aku beralih ke nomornya mas Andri, tapi nggak diangkat juga.
"Semua orang kenapa sih? Semuanya nggak ada yang angkat telfonku," aku gemes.
"Aku telfon aja tuh anak. Semenjak aku keluar dari perusahaan, aku belum telfon-telfonan juga sama dia,"
"Halooo? Mel?" aku langsung nyapa Amel begitu panggilanku terhubung.
"Eh, iya, Cheeel. Apa kabar?" sahut Amel.
"Kabar baik. Oh ya, Mel ... kamu masih di kantor?" aku nanya sama Amel. Aku mau pastiin pak Raga ada di kantor apa udah balik.
"Meeel? Amel? kok diem aja sih?"
"Eh, iya sorry. Aku udah balik, Chel. Nih aku lagi nyetir. Kebetulan tadi ada yang selap-selip di jalan! jadi agak susah ngejawabnya,"
"Oh ya udah. Kamu lanjutin nyetir aja. Bahaya juga nyetir sambil nelfon, daaah..." aku tutup telepon.
Satu-satunya harapan punah. Amel udah perjalanan balik ke rumahnya, mau nggak mau aku harus kesana sendiri. Bener-bener nggak bisa diharapin deh si Amel.
Tapi tunggu...
__ADS_1
Ada satu hal yang mengganjal daritadi.
Ah ya, pantesan aja. Daritadi kayak ada yang mengganggu perasaanku. Aku baru inget, ini kan rumah sakit tempat mas Liam dirawat. Aku nggak tau kenapa mas Bram bisa dirawat di rumah sakit khusus orang-orang berduit kayak gini, mungkin dia punya asuransi atau dibayarin bosnya atau apapun itu bodo amat, yang jelas mumpung disini aku mau nengokiin mas Liam dulu. Baru setelah aku liat keadaan mas Liam, aku cari pak Raga ke kantor atau ke apartemen.
Baru aja keluar sekarang aku naik lift lagi menuju lantai di mana terakhir kali aku liat mas Liam.
Ting!
Lift terbuka. Aku keluar dan berjalan ke kamar rawat mas Liam.
"Huhhfh, kok aku deg-deg an yah?" aku pegang dadaku, rasanya genderang yang lagi ditabuh.
Aku beberapa kali narik napas dan menghembuskannya perlahan, "Huuuufhhhh, daan, kalau iya aku ke ruang perawatan dia, alasan aku apa? mau nengok tapi nggak bawa buah atau makanan lain. Apa lain kali aja ya aku kesininya?" gumamku.
Dan kebetulan banegt ada perawat yang lewat.
"Permisi, Sus! saya mau tanya..."
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya suster.
"Apakah tuan Wilian Mahendra masih di rawat di kamar ini?" aku menunjuk pintu di depanku.
"Masih, Nona..."
"Oh, begitu ya? Baik, terima kasih..." ucapku,
"Kalau begitu saya permisi," perawat tadi jalan lagi menuju counter jaga.
Sedangkan aku masih terpaku di depan kamar mas Liam, "Aku masuk nggak ya? masuk nggak ya?"
Aku masih menatap pintu di depanku, tangan udah aku taruh di handle tapi aku lepasin lagi. "Aku harus gimana ya? Ngucapin 'hai' atau 'assalamualaikum' ya?" aku galau.
Kalau aku nengokin bestie ataupun temen yang beneran kenal mah oke, nggak bawa apa-apa juga cukup dengan alasan 'mumpung lewat sini' biasa-biasa aja.
Udah, ah. Pasang muka tembok aja. Yang jelas aku mau liat keadaan dia udah semakin baik atau gimana.
"Huuufhhh, bismillah!" ucapku berbarengan dengan tanganku yang memegang handle pintu.
Dan...
Ceklek!
__ADS_1
"Assalamualaikum..." ucapku setelah pintu berhasil dibuka.
"Astaghfirullah, Mas Liaaaam???!!" aku setengah berteriak dan mengahampirinya.