Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Rambutku Rontok


__ADS_3

Selama diperjalanan aku diem-diem aja. Lebih ke mikir ini pak Raga ini kenapa setiap aku ngebahas Liam pasti dia bilang aku ngawur lah, ngaco lah. Kenapa segitunya dia sama asistennya, padahalkan mas Liam udah bantuin dia.


"Ck! menyebalkan!" umpat pak bos ketika mobil yang ditumpangi kita berdua, kena macet.


Aku nengok ke kanan.


"Apa?" pak Raga nengok balik.


Aku menggeleng, "Tidak, Pak.." mataku lurus ke depan lagi.


"Besok kalau kamu belum sehat, jangan berangkat dulu. Tapi sorenya kamu sudah harus sehat walafiat, karena nenek minta kita makan malam bersama," ucap pak Raga.


"Paginya sakit, sorenya dah harus sembuh? sarap nih orang emang.." batinku.


"Racheeeel, kamu dengar saya tidak?"


"Iya pak, denger kok saya..." kataku.


Setelah satu jam perjalanan, kita pun sampai di kosanku. Bukan karena jauh, tapi karena kemacetan yang membuat kami harus bersama dalam satu mobil.


"Terima kasih, Pak..." ucapku sebelum turun.


Pak Raga nggak ngomong apa-apa, dia main pergi aja. Yo wea lah Pak, sakarepmu. Yang penting aku udah bilang makasih udah dianterin.


Dan seperti malam-malam sebelumbya, ada aja gangguan. Tapi karena omongan pak Raga yang nyuruh aku udah harus sehat besok sore, aku berusaha nggak ngerewes gangguan-gangguan kecil kayak buku jatuh, atau lampu yang tiba-tiba koit sendiri. Karena nggak ada reaksi dari aku akhirnya lampunya nyala sendiri.


Banyak banget hal-hal yang bikin aku susah tidur, tapi badanku ini lemes banget bahkan buat teriak aja kayaknya aku nggak ada tenaga. Jadi, aku milih tidur apapun yang terjadi malam ini.


Paginya, pas buka mata kamarku berantakan udah kayak kapal pecah. Aku yang masih ngantuk cuma ngeliat sekilas lalu tidur lagi sampai jam 9 pagi. Dan bangun tidur aku bereain kamar, balikin lagi barang-barang ke tempatnya semula. Bener-bener syetaan nggak tau adab, aku lagi sakit dia malah nambahin kerjaan aku.


Aku buka pintu dan jendela, biar ada hawa yang masuk.


"Iya, aku juga denger dari kamar si Rachel!" suara Lia dari luar. Aku yang kepo ngelongok, si Lia ngobrol sama siapa, kok bawa-bawa namaku.


"Ngeri banget sumpeh! si Rachel bawa jurig kesini apa gimana sih? suaranya itu loh, melengking. Merinding aku. Makanya aku bangun kesiangan kayak gini, soalnya semaleman aku nggak bisa tidur. Giliran udah subuh, eh malah ketiduran. Makanya aku bolos kerja hari ini," Mirna menimpali ocehan Lia.


"Mereka emang denger apaan? melengking? kok aku cuma denger barang pada berjatuhan aja ya? apa saking kebluknya ya aku?" gumamku sendiri.


Aku biarin aja pintu kebuka selebar-lebarnya, terakhir aku denger Mirna sama Lia mau beli sarapan. Jadi mereka udahan tuh ngegosipnya.


Ternyata bukan cuma aku yang diganggu, tapi kamar lain juga. Omongan Mirna nih nggak bener, bukan aku yang bawa jurig kesini. Tapi emang kosan kita lagi kena teror mistis.

__ADS_1


"Nantilah aku ngomong sama Mirna, biar dia jangan nyebarin berita nggak bener!" aku nyerocos sambil nyapu kamar.


Anehnya, aku udah minum obat terus udah istirahat juga. Tapi badanku masih aja pegel-pegel.


Kriiiing.


Ada telpon yang masuk.


"Halo?"


"Halo, maaf ini siapa ya?" nomor yang masuk ke hapeku itu nomor asing.


"Liam,"


"Oaaalah, Mas Liam. Maaf, aku ngesavenya di hape yang di kasih pak Raga,"


"Kamu udah baikan?" tanya mas Liam.


"Udah, alhamdulillah..."


"Syukurlah kalau gitu. Nanti malam aku jengukin boleh? ahhm ... ehm, ya ... sebagai bentuk perhatian sesama asistennya pak Raga," ucap mas Liam.


"Kenapa?"


"Soalnya ini kosan cewek. Dan aturannya nggak boleh ada cowok yang masuk kesini," ucapku.


"Oh, gitu..."


"Iya, gitu..." aku agak nggak enak.


"Ya udah, yang penting kamu istirahat, biar cepet sembuh. Biar nanti aku ngomongnya enak," kata mas Liam.


"Oke," ucapku, dan dia mutusin panggilan teleponnya


"Ngomong? emang dia mau ngomong apaa" aku agak penasaran dengan kalimat terakhirnya mas Liam tadi.


Selese beres-beres aku pesen makanan, kalau teh panas aku bikin sendiri pakai heater yang kalau aku colokin suka nyetrum dikit ke kulit.


Mau diloakin tapi masih sayang, sayang duitnya bisa buat beli yang lain.


"Alhamdulillah," ucapku setelah nasi bungkus aku habisin dan sekarang tinggal teh nya yang aku minum dikit-dikit, masih panas.

__ADS_1


Situasi kosan lumayan sepi, ya cuma ada suaranya Mirna sama Lia yang nyanyi-nyanyi nggak jelas. Mungkin suara sumbang mereka ini nih yang menarik perhatian para makhluk astral buat menclok ke kosan ini. Suara sumbang yang bikin kupingku sakit.


Biasanya kerja sekarang libur mendadak, jadi rebahan aja aku di kamar. Jendela aku biarin kebuka, biar ada angin masuk juga. Tapi ya itu sampai siang badanku masih aja belum begitu membaik.


Menjelang sore, pak Raga nelfon dia nyuruh aku siap-siap. Tapi ketika aku bangun dari kasur, ada banyak rambutku yang rontok.


"Kok pada rontok sih? masih garansi nggak yah nih rambut? bisa bondol kalau kayak gini terus," aku menyisir rambut pakai jari dan banyak rambut yang tertinggal di sela-sela jariku. Aku segera mandi ebelum pak Raga nelfon dan marah-marah 'Tambah lelet aja kamu, Rachel!' kan begitu kan pak Raga kalau ngomel. Bikin kepala puyeng.


Dan ketika aku udah bersiap, udah cantik pakai bajubyang menurutku layak yah, aku denger ada suara seperti orang yang sedang menulis. Mataku melirik ke meja, dan mendekatinya.


"Tolong kembalikaaaaannn..." gumamku, aku membaca apa yang tertulis di meja. Ya, pulpen itu bergerak, menari sendiri di atas buku agenda yang tiba-tiba kebuka.


"Kembalikan apa yang bukan milikmu," aku membaca tulisan di kertas itu lagi.


"Apa? kembalikan apa?" aku menelisik ke seluruh penjuru kamar. Kali aja ada yang muncul tiba-tiba.


"Udah nggak jelas, nih! mending aku pergi sekarang aja..." aku nyamber tas dan ninggalin kamarku dengan lampu yang menyala.


Dan bener aja, baru juga turun ke bawah, pak Raga nelfon.


"Saya di depan kosan kamu, cepat keluar!" jaa pak Raga.


Aku jawab dong, "Njiiiiih, Bapakeeeee. Saya keluar sekarang,"


Aku keluar dan masuk ke dalam mobil pak bos. Baru juga duduk.


Sreeet!


"Aaawhhh!" aku memekik. Ada yang narik rambutku.


"Kamu kenapa, Rachel? isshh, kamu itu suka sekali bikin orang kaget!"


"Ada yang narik rambut saya, Pak..." aku menengok ke pak Raga.


"Konyol...?!!" pak Raga naikin satu sudut bibirnya.


"Saya tidak berbohong, Pak. Kosan saya ini sedang dalam teror mistis, mungkin makhluk ghoib itu ikut masuk ke dalam mobil Bapak ini..." aku mengelus kepalaku, dan ya ada saja rambut yang tercabut. Beberapa helai rambut ada di sela-sela tanganku.


"Apa tadi? makhluk ghoib?" pak Raga nempelin punggung tangannya di keningku.


"Pantes, masih anget!" ucapnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2