Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Pak Moreno dan Mbah Nyentrik


__ADS_3

Ya, orang yang ada di lagi duduk di meja 26 itu pak Moreno Saputra, dia sedang bersama seorang pria yang dandanannya agak nyentrik. Dengan cincin batu yang mengisi beberapa jari tangannya.


"Pesananya sudah semua ya, Tuan?"


"Ya," sahut pak Moreno singkat. Aku pun berjalan menjauh dan kembali ke counter buat ngambil satu minuman lagi yang buat dianter ke meja lain.


Tapi mata tetep ya sesekali ngelirik ke meja 26. Aku kembali ke counter sambil bawa gelas dan cangkir yang kosong.


"Aku tuh curiga banget sama nih orang?! Abis ketemu pak Moreno, pak Raga langsung berubah drastis, macam orang diguna-guna," aku terus memperhatikan pak Moreno.


"Nggak bisa nih kalau cuma dari sini mana bisa nguping apa yang mereka bicarain? Hhssh, ck?! Harus mendekat ke sasaran nih! Aku nggak bisa kalau kayak gini terus. Aku udah penasaran tingkat tinggi," aku benerin kacamataku yang mau melorot macam kolor yang udah sering disetrika.


"Sebentar ya Pak Raga. Aku akan menolongmu?! Aku yakin orang ini punya niat jahara sama kamu, Pak?!" ucapku dalam hati.


"Nay, tante mau bersihin meja 25 dulu ya?" ucapku pada Nayla, dia lagi mainin mainan yang dia dapet dari makanan cepat saji tadi. Lumayanlah, jadi anteng tuh bocah.


Aku bergerak dengan membawa trolli, buat angkut cangkir atau piring yang kotor, dan juga buat aku naruh cairan pembersih meja dan juga kain lapnya.


Sampai di meja 25 yang letaknya persis di belakang pak Moreno duduk, aku ambilin cangkir satu-satu pakai gerakan slow motion. Mindahin cangkir aja satu-satu, cangkirnya dulu baru pisinnya. Baru ambil cangkir yang lain juga.


"Kwsepakatan kemarin dia nurut-nurut aja?! Tapi pas kemarin mau tanda tangan dianya berubah lagi. Sepertinya mantra yang mbah kasih itu udah kadaluarsa!" ucap pak Moreno.


"Yang pak Moreno sebut dia itu siapa? Pak Raga atau orang lain??" ucapku dalam hati, aku benerin lagi kacamataku sambil ngeliat ke arah Nayla, pastiin tuh bocah masih duduk disana.


"Saya curiga dengan perempuan yang waktu itu datang dengan Raga. Dia melihat ke arahku, sampai saya harus mengulang mantra dan pola untuk meluluhkan Raga. Apa mungkin mantra itu terpental saat ada orang lain yang mengganggu konsentrasiku, Mbah?" ucapnya, aku ngerasa dia lagi gerakin tangannya.


"Pola?" aku bergumam dalam hati.

__ADS_1


Apa mungkin pola yang dia maksud itu pola abstrak yang dia bikin dengan gerakan jarinya yang dia sengaja sembunyikan di bawah meja.


Srrroooot!


Sroooooot!


Cairan pembersih aku semprotin ke atas meja, daan seeet aku mulai mengelap meja, masih dengan gerakan super lambat. Semoga aja dia nggak curiga.


"Lusa saya mau bertemu lagi, saya ingin dia menandatangi kesepakatan itu?! Saya harus dapat keuntungan yang besar...!" ucap pak Moreno menggebu-gebu.


"Kalau begitu, anda harus membuat dia membawa pulang benda ini, masukkan di saku jas saat kalian bertemu,"


"Kancing baju?" tanya pak Moreno.


"Ini hanya sebagai media saja. Semakin benda yang menjadi media benda yang dijumpai, maka tidak akan membuat dia curiga..."


"Dan satu hal lagi Benda ini akan menempel pada pemiliknya setelah dipegang selama 24 jam. Benda ini akan membuat orang itu patuh dan menuruti semua yang anda perintahkan," ucap mbah nyentrik. Aku nggak tau siapa namanya, karena daritadi pak Moreno hanya manggilnya mbah mbah mulu.


"Tidak harus, karena benda ini akan saya sebut atas nama orang yang menjadi tujuan anda," jawab orang yang menjadi lawan bicara pak Moreno.


Aku segera menyelesaikan acara mengelap-elap meja ini dan trolley segera ku dorong menjauh dari meja mereka.


"Huuuwh, semoga mereka nggak curiga sama aku," batinku setelah membawa masuk trolley ke arah dapur.


"Udah diberesin di meja 25?" tanya mas Almeer saat aku baru nyampe di dapur.


"Al, kamu ngagetin tau nggak? Huuufhhh" aku tarik nafas dan menghembuskannya perlahan.

__ADS_1


"Sorry, sorry?!" ucap Almeer.


"Meja 25 udah aku beresin, ini cangkirnya mau aku cuci,"


"Oh ya udah, aku balik ke depan. Lagi ada yang libur, jadi maklum aja yang masuk cuma dikit?!" ucapnya.


"Semangat, semangat, semangat...!" seru Almeer menyemangati aku yang mungkin keliatan udah capek banget.


Dia tersenyum lalu berjalan keluar.


"Beruntung banget aku ketemu sama Almeer. Dia orangnya baik banget. Kalau aku nggak ketemu sama dia, pasti aku saat ini masih bingung nyari kerjaan sana sini," ucapku melihat pria yang kini lagi ngejalanin tugasnya lagi.


Aku membawa Nay masuk, buat nemenin aku nyuci cangkir dan gelas. Aku kasih dia bangku supaya bisa duduk.


"Ini anak Saapa, Mbak?" tanya salah pegawai k namanya Arni. Dia ngeliat ke arah Nay.


"Ini keponakan aku, Mbak. Maaf aku bawa kesini, soalnya kasian kalau di luar nggak ada temennya,"


"Woles aja, Mbak. Lagian adeknya anteng banget kok," ucap Arni.


"Kayaknya kuenya udah mateng, aku keluarin dari oven dulu, ya Rachel. Salam kenal ya aku Arni, bagian khusus adon mengadon kue," ucapnya ngenalin diri. Kita sama-sama pakai seragam yang ada nama nya, kalau aku tanda pengenalnya masih pakai klip dan tulisan biasa, beda sama Arni atau Almeer yang name tagnya khusus. Yang artinya mereka udah jadi pegawai tetap.


"Salam kenal juga, Mbak. Aku Rachel, masih trainee disini," ucapku.


"Aku tinggal dulu ya, Rachel. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi," ucap mbak Arni.


"Iya, Mbak..."

__ADS_1


Mbak Arni pun beralih ke oven gede yang ada di salah satu sudut dapur. Sedangkan aku masih mencerna apa yang pak Moreno akan lakukan pada pak Jiwa Ragaku.


"Berarti bener, perubahan sikap pak Raga kemarin ada hubungannya sama pak moreno. Dan kali ini aku harus gagalin rencana pria licik itu?!" ucapku lirih.


__ADS_2