Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Tidak Patut Dikhawatirkan


__ADS_3

Deg!


Deg!


Deg!


Jantungku marathon lagi saat ditatap seperti ini.


Sorot mata pak Raga tajam, "Berikan sekarang..." ucapnya.


Aku manggut-manggut aja tanpa mengalihkan pandanganku dari bola mata cokelat milik pak Raga. Kancing itu kini beralih ke tangan pria yang ada di hadapanku.


Dia menyentuh hidungku dengan hidungnya sesaat, kemudian dia bicara dalam jarak yang sangat dekat.


"Saya sudah tau sejak awal!" ucapnya, kemudian tangannya menyentuh pipiku.


Tangan yang bikin aku kesetrum, iya rasanya kayak ada sengatan listrik. Mungkin pak Raga ini selain manusia setengah listrik, dia juga manusia setengah kompor. Ya, karena sejak tangannya bertengger di pipiku, aku merasakan kulit pipiku memanas.


"Saya tidak mau kamu menjadi sasarannya, makanya saya berusaha menjaga jarak!" ucapnya yang kini melepaskan tangannya dan kembali ke tempat duduknya.


"Maksudnya?" sekarang aku yang nggak konek.


"Sejak saya bertemu dengan pak Moreno, saya tau dia berusaha menggunakan cara ghoib atau sejenisnya. Makanya untuk meyakinkan kalau yang dilakukannya berhasil, saya harus menjadi aneh. Dan kecurigaan saya benar, dia menyodorkan kontrak yang tidak masuk akal," ucap pak Raga.


"Jadi? yang di restoran waktu itu?"


"Kamu terlalu ceroboh, kamu menatapnya terlalu intens. Hampir saja dia mencelakaimu! karena kalau dia tidak konsentrasi saat melakukannya, maka mantranya akan gagal," ucapnya.


"Kok pak Raga bisa tau?"


"Huh, di dunia ini apa yang saya tidak tau?" dia menyentuh dagunya, dan seulas senyum nangkring di bibirnya.


"Ck, tidak bisa dipercaya!" gumamku lirih.


"Mata saya memang menatap pak Moreno, tapi ekor mata saya bisa menangkap pergerakanmu. Pengusaha seperti saya ini harus memiliki insting yang baik, karena kalau tidak perusahaan bisa saja jatuh karena ulah para pesaing!" ucapnya membenarkan jasnya.


"Jadi amnesia Bapak selama ini pura-pura?"


"Menurutmu?" pak Raga balik nanya.


"Haiiush, memang saya pandai dalam hal bermain peran!" pak Raga kembali seperti pak Raga yang sebelumnya.


"Dan semalam---"


"Saya tau pengirim kopi itu kamu, dan saya juga sudah baca apa yang kamu tulis di kertas itu," ucapnya.


"Nggak bisa dipercaya, selama ini ternyata aku telah dibohongi," lirihku.

__ADS_1


"Karena kamu payah dalam hal berpura-pura, jadi saya harus melakukannya sendiri. Bukan hanya kamu, tapi Andri pun tidak saya beritahu," ucap pak Raga.


"Kalau tau anda hanya berpura-pura, saya tidak perlu mencemaskan anda dan berusaha menolong anda," aku menatapnya nggak suka.


"Saya hanya ingin tau seberapa besar usaha Moreno Saputra untuk berbuat curang!" ucapnya.


"Dan karena hal itu, aku sudah bertindak bodoh dengan datang kemari!"


Pak Jiwa Raga nggak tau gimana perjuangannya aku buat menyelusup ke perusahaannya malam-malam. Dan hari ini aku harus kebut-kebutan di jalan karena dapet info dari mas Andri kalau pak Raga ketemu sama pak Moreno.


Cuma buat ngambil kancing mistis itu aku harus mengorbankan duitku buat makan siang yang enggak banget harganya.


Kalau aku tau pak Raga udah mengetahui rencana jahat pak Moreno dari awal, ngapain juga aku kedebag-kedebug mencoba menyelamatkan dia. Dasar konyol!"


"Oh ya, maaf soal Eyang. Maaf waktu itu saya tidak bisa membelamu---"


"Maaf, Pak. Jam makan siang saya sudah habis. Syukurlah jika anda baik-baik saja, saya permisi..." ucapku menunduk hormat dan membuka pintu. Tapi lagi-lagi tanganku ditahannya.


"Maaf, tapi saya harus bekerja..." ucapku dengan nada datar, dan melepaskan tangan pak Raga.


"Racheeeel!" teriak pak Raga.


Aku keluar dari mobil mantan bosku yang gendeng itu, dan sama sekali nggak peduliin sekeras apapun dia teriak, sabodo teuing.


Aku melihat ke jam tangan, "Aiiishhh, aku terlambaaat!" aku berlari ke arah kedai.


Capek, tapi ini cara yang paling cepat daripada harus order dan nunggu ojeg dateng.


Setelah lumayan ngos-ngosan, aku akhirnya sampai juga di kedai.


"Dari mana aka kamu, Racheeeel?" mas Wahyu Fatir ngomel. Dia keliatan kerepotan dengan nampan di tangannya.


"Sini sini biar aku," aku ngambil nampan berisi minuman dari tangan mas Fatir.


"Meja 12 ya!" ucapnya.


"Siaaaap!" aku bergegas menuju meja pelanggan.


"Silakaaan..." ucapku sembari menaruh pesanan mereka di atas meja.


Aku segera mengambil trolley dan mengambil cangkir-cangkir yang kotor, dan mulai mengelap mejanya. Aku melihat Almeer lagi sibuk bikin kopi. Sesekali aku mencuri pandang ke arah temanku itu.


"Lupakan pak Raga, karena sekarang waktunya kerja, Racheel!" aku menyemangati diri sendiri dalam hati.


Pinggangku rasanya pegel minta ampun bolak balik nganterin pesanan dan, beresin meja yang kotor.


"Pasti lebih capek Almeer yang daritadi ngaduk kopi!" ucapku ngeliat ke arah Almeer yang sibuk sendiri.

__ADS_1


Aku dorong trolley-ku masuk ke dalam dapur. Dan mulai mencuci


"Dah balik kamu, Cheel?" tanya mbak Arni. Dia mau cuci tangan, aku geser badan dikit.


"Udah, Mbaak. Ehm,"


"Haduuh, dari jam 11 tadi banyak banget pelanggan yang masuk. Almeer aja belum istirahat sama Fatir, mereka sampai kewalahan tuh! ah, kedai ini butuh orang lebih banyak lagi," ujar mbak Arni.


"Almeer? belum istirahat?"


"Jangankan istirahat, buat sekedar minum pun rasanya susah!" ucap mbak Arni.


Seketika aku merasa bersalah. Bisa-bisanya aku istirahat lebih awal tapi baliknya lagi kesini hampir telat dua jam, demi seseorang yang nggak pantes buat dikhawatirkan sama sekali.


"Tanganku rasanya cape banget bikin kue," ucap mbak Arni.


"Aku ngecek oven dulu ya," lanjutnya.


"Iya, Mbak..."


Segera aku selesaikan cucian gelas yang segambreng. Dan aku nyamperin Almeer yang lagi bikin Matcha Frappe.


"Sini biar aku anterin, kamu belum istirahat, kan? sorry ya datengnya telat!" ucapku meraih nampan yang ada di tangan Almeer.


"Meja berapa?" tanyaku.


"9," ucapnya.


"Dah sana makan dulu," aku nunjuk ruang istirahat pakai dagu.


"Tapi---"


"Udah, makan dulu, nanti kamu bisa sakit kalau perut kamu kelamaan dikosongin!" ucapku nggak mau dibantah.


"Ya udah kalau gitu, aku ke dalam," kata Almeer yang kemudian masuk ke dalam ruang istirahat.


Sedangkan aku mengantar minuman ini ke meja nomor 9.


"Silakan...?" aku taruh minuman itu di atas meja dan segera kembali ke counter.


Tapi baru juga mau ngelap-ngelap meja di counter, pak Chandra dateng.


"Rachel, setelah jam pulang, kamu temui saya di ruangan!" ucap pak Chandra.


"I-iya, Pak..." jawabku gugup.


"Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu!" perintah pak Chandra, dia pergi kembali ke ruangannya.

__ADS_1


Aku tepokin jidatku sendiri, "Ini pasti gara-gara aku istirahat kelamaan! masa iya baru dua hari kerja mau dipecaaat?" aku ngenes.


"Hari ini bener-bener sial aku tuh!" ucapku sambil ngelapin meja.


__ADS_2