Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Menyamar


__ADS_3

"Maakasih!" ucapku di telepon. Setelah aku memutus telepon, aku pergi ke depan buat ngambil apa yang aku pesan dari mas Wahyu.


"Udah ada pesenanku, Mas? Aku buru-buru banget, nih!" ucapku nggak sabaran.


"Kayak lagi dikejar-kejar setan kamu, Chel!" kata mas Wahyu.


"Emang, Mas!"


"Maksudnya?" tanya mas Wahyu yang tak tik tuk ngetik di mesin penghitung.


"Nggak, Mas. Lupain aja!"


"Nih," ucap mas Wahyu yang udah akrab sama aku, padahal baru kenal sehari. Dia nyerahin satu tas kecil yang isinya kopi dan cake. Aku ngelongok ke tas tas kecil ini, mastiin pesenanku.


"Makasih, Mas...!" kataku sama mas Wahyu sebelum pergi ke luar.


"Awas tuh pintu kaca jangan ditabrak!" seru mas Wahyu.


"Sip, Maaas!"


Dan....


Setelah keluar dari kedai.


Braaakkk!!!


Aku masuk ke dalam taksi yang masih nungguin aku daritadi.


"Jalan, Paaaak?!!" aku tepok kursi kemudi pak supir dari belakang. Mobil pun jalan lagi menuju tempat yang bikin hati deg-degan.


Aku nggak peduli dia inget aku apa nggak, yang jelas aku nggak boleh ngebiarin pak Raga ketemu sama pak Moreno. Ya itung-itung aku nolongin dia untuk yang terakhir kalinya. Habis ini kalau dia nggak inget juga, aku nggak bakal nunjukin batang hidungku di depan pak Raga. Aku mau mulai kehidupan kayak pertamina, mulai dari nol.


Nggak lama, taksi yang aku tumpangi sampai juga di depan gedung yang menjulang tinggi, sementara langit udah gelap, hanya lampu jalan yang menjadi penerang. Aku yang pakai serba hitam macam orang yang nggak punya semangat, keluar dari taksi dan masuk ke dalam gedung perusahaan.


Aku menghela nafas bentar, sebelum engep kemudian. Aku benerin ujung topiku.


"Maaf, Mbak anda mau kemana?" tanya kang Satpam.


"Saya dari S-cofee, saya mau mengantarkan kiriman kopi untuk tuan Raga Mahendra," ucapku yang sesekali.


"Kiriman dari siapa?"


"Dari tuan William Mahendra," ucapku.


"Baik, kemarikan pesanannya. Saya akan antarkan ke ruangan beliau!" kang Satpam meminta tas kecil yang ada di tanganku.


"Saya yang akan mengantarkannya langsung, pak!"


"Maaf, tapi tidak sembarangan orang boleh masuk ke dalam!" ucap satpam keukeuh.

__ADS_1


"Tapi ini atas perintah tuan William. Kalau bapak tidak percaya, sekarang silakan telfon tuan Raga untuk memastikan bahwa saya berbohong atau tidak," aku nego.


"Baik, kamu tunggu disini!" ucap kang Satpam.


Dia pun menyuruh aku untuk ikut ke pos, aku menunggu di luar sedangkan dia menelepon ke ruangan pak Raga. Nggak lama dia pun keluar.


"Baiklah, kamu boleh masuk!" ucapnya.


"Huuuh, daritadi kek. Pegel nih kaki hungguin daritadi!" aku ngedumel dalam hati.


"Lah, Bapak ngapain?" aku nanya ketika kang satpam yang jalan di depanku.


"Ya nganter kamu lah ke dalem! Memangnya kamu tau dimana ruangan bos kami? Apalagi ini sudah malam, bisa kesasar sampai pagi kalau kamu nggak saya anterin!" ucapnya tegas.


"Oh iya yah, Bapak bener juga! repot juga kalay nyasar di gedung sebesar ini," aku nyengir bego.


"Astaga, hampir aja aku ketauan kalau aku tau seluk beluk ruangan di perusahaan ini. Mana ada kurir kopi tau ruangan bos besar, terlalu mencurigakann kamu, Racheeeeel!" umpatku dalam hati.


Aku membawa pesanan kopi ini dengan hati-hati. Beruntung aku minta mas Liam untuk nelfon ke pak Raga kalau dia orderin pak Raga kopi. Cuma demi menjaga sesuatu dan lain halnya, mas Liam menyuruh kurir dari kedai kopinya langsung yang memberikannya pada pak Raga.


Aku berjalan di belakang pak Satpam, suasana kantor sangat sepi. Sesekali aku membenarkan posisi topi, takut si satpam ngenalin wajahku.


Ting!


Pintu besi terbuka. Pak Satpam nyuruh aku ikut masuk dan dia langsung mencet angka 20.


Dan kotak besi ini pun bergerak ke atas. Jangan ditanya, aku deg-degan banget sekarang.


Ting!


Secepat kilat pintu besi ini sudah membawaku ke lantai atas.


"Sebelah sini?!" ucap si satpam. Suasananya beneran sepi banget. Lukisan-lukisan yang terpampang menghiasi dinding berasa ngeri, kayak punya hipnotis bikin merinding.


Sekilas ngeliat pintu ruangannya mas Andri kebuka sedikit. Mungkin dia lagi lembur.


"Nah, ini ruqngannya. Kamu tunggu disini sebentar!" suruh pak Satpam.


Tok!


Tok!


Tok


Ceklek!


Pak Satpam membuka pintu secara perlahan.


"Maaf, Tuan. Kurir dari kedai kopinya sudah datang!"

__ADS_1


"Suruh dia masuk!" suara pak Raga kedengeran dari luar.


"Baik, Tuan!" sahut pak Satpam.


"Silakan, mbak. Sudah ditunggu..." kata kang satpam.


Aku cuma ngangguk tanpa berani melihat ke arah penjaga malam kantor ini.


Deg!


Deg!


Deg!


Ya, saat ini jantungku berpacu. Nafasku memburu, aku takut akan diusir ketika pak Raga tau kalau aku yang datang kesini.


"Permisi, Tuan. Ehm ... saya membawa pesanan dari---"


"Bawa kemari!" suruh pak Raga dengan nada judesnya. Dia sibuk dengan tablet di tangannya. Entah apa yang sedang dikerjakannya, yang jelas aku bisa melihat sesekali dia mengerutkan keningnya.


"Saya rasa kedai itu sangat rugi mempekerjakan karyawan lelet sepertimu! Cepat taruh disini dan kamu bisa pergi!" ucap pak Raga menunjuk mejanya.


Galaknya permanen ya nih orang, kesambet aja ingatan doang yang ilang. Harusnya galak dan judesnya juga ikutan ilang, biar totalitas amnesianya.


Ya ampun, kenapa juga aku harus peduli sama dia. Udah bener aku jauh dari nih orang. Aku bisa memulai kehidupanku dari awal.


"Hidup sendiri aja ruwet sok-sok an nolongin orang," batinku, seiring dengan langkahku yang sudah sangat dekat dengan pak Raga. Aku taruh pesanan kopi fiktif ini di atas meja.


"Semoga aja dia baca pesan di kopi itu, kalau dia tidak perlu datang memenuhi undangan pak Moreno," ucapku mengingat saat aku menuliskan pesan pada selembar kertas dan aku taruh di dalam bag kopi yang aku berikan pada pak Raga.


'Batalkan pertemuan anda dengan tuan Moreno. Dia berniat jahat, kalau tidak percaya anda bisa menyelidikinya'.


Ya, itu isi pesan yang aku tulis. Dan semoga dia mau mempercayainya.


"Ini kopinya, Tuan. Tugas saya sudah selesai, saya permisi," ucapku mengangguk hormat dan berbalik.


Dan...


Greeeep!


Tanganku dicekal oleh pak Raga.


Deg!


Deg!


Deg!


Jantungku berdetak kencang, sementara aku nggak berani menengok ke belakang "Bagaimana ini? Apa dia tau kalau aku ini, Rachel?" batinku.

__ADS_1


"Jangan pergi dulu!" ucap pak Raga.


__ADS_2