
Otakku saat ini beneran mumet. Sepulang dari penthouse-nya pak Raga, aku malah jadi nggak bisa tidur.
Ya, aku udah di kosan Alam Indah, yang sekarang lagi jadi pangkalan dadakan arwah penasaran.
"Makanya Chel kalau ngomong mbok ya dipikir, jangan plesetin nama kosan yang tadinya Alam Indah jadi Alam ghoib. Tuh, mereka semua jadi merasa terpanggil buat datang san ngabulin ucapan kamu ituuu," aku tiduran sambil mijitin kepala sendiri.
Kepalaku pusing banget karena mikirin banyak hal, mulai dari Amel yang ternyata menghianati persahabatan kita. Terus yang katanya Almeer nggak seperti yang aku pikirkan dan kenyataan kalau keadaan ini kacau karena aku yang membocorkan rahasia.
"Pak Raga pasti kecewa banget. Persis kayak aku yang kecewa sama Amel. Lalu apa bedanya aku sama Amel? kita sama-sama ember, sama-sama nggak bisa jaga rahasia!" aku menggigit bibirku sendiri.
"Aku nggak nyalahin kalau Eyang Anti semarah itu. Bayangin aja dia dibohongin sama cucunya sendiri, dan karena mulutku yang ember!" aku tabok bibirku sendiri.
Aku gelisah terus daritadi, mau tidur nggak bisa. Mau melek terus, besok harus kerja.
Dilema.
Aku udah bikin orang kecewa dan rasanya tuh nggak enak banget, jadi kepikiran terus.
Drrrttt!
Drrrrtt!
Amel nelfon. Tapi aku lagi nggak ngangkat dulu, pikiranku lagi ruwet. Dan lagi, ngomong dalam situasi kalut kayak gini juga nggak ada gunanya. Yang ada kita sama-sama pengen jadi yang paling bener.
Aku kirim chat ke nomor Amel. Aku bilang, aku butuh waktu buat menenangkan diri, supaya bisa bicara dengan kepala yang dingin. Lalu aku klik tombol kirim, dan nggak lama ceklis dua itu berubah warna jadi biru yang artinya pesanku udah terbaca sama Amel. Dia pun balas iya, katanya dia bakal nunggu sampai aku siap buat ketemu.
Aku berbaring miring ke kanan, dan ngelirik jam udah jam 11 malam.
Nguuuuuungggg!
Aku denger suara mobil.
__ADS_1
Sontak aku bangun, duduk di ranjang sambil menajamkan kembali pendengaranku.
Dan suara mobil masih ada, tapi perlahan mereda.
"Dia dateng lagi? tapi kenapa?" aku bergumam sendiri.
"Ah, palingan bukan pak Raga. Tapi orang suruhannya! mana mungkin seorang bos besar mau gitu tidur di dalam mobil? yang ada dia bisa keracunan!"
"Cari tau nggak yah?" lanjutku.
Sebenernya aku penasaran suara mobil yang aku denger ini suara mobil pak Raga atau bukan. Sekalian pengen ngecek, yang di mobil itu pak Raga atau bukan.
Tapi aku ragu mau mau turun ke bawah, ogah banget ketemu yang aneh-aneh. Apalagi daritadi aku udah nggak denger bala-bala tawon ngang ngung ngag ngung di balkon. Mereka kayaknya udah anteng, angrem di dalam kamar masing-masing.
"Turun nggak, yah?" aku melihat ke arah pintu.
Aku ngitung kancing piyama, "Turun, nggak, turun, nggak, turun..."
"Turun?" aku mengambil nafas panjang, sebelum akhirnya aku julurkan kaki ku ke bawah.
"Udah lah, bismillah aja!" ucapku menyemangati diri sendiri.
Apalagi, sekarang aku mulai denger ada suara lain. Kayaknya masih ada yang ngobrol di kamar siapa itu lah di pojokan. Mungkin mereka lagi marathon drakor. Kebetulan besok hari sabtu, karyawan kantor kan pada libur. Beda sama aku yang harus tetep masuk. Karena weekend malah rame pengunjung. Haram hukumnya kita pada libur, bisa digetok kita sama pak Chandra.
Baru juga niat ingsun buka pintu, eh hape ku nyala. Ada chat dari Almeer, dia ngajakin berangkat bareng.
Baru juga mau jawab 'iya', aku inget ancaman pak Raga. Kalau aku nggak boleh deket sama cowok lain.
Mau nolak, tapi batin meronta. Ya iyalah, apa kata Almeer. Mungkin aja dia mikirnya, habis manis sepah dilepeh. Kayak aku tuh jadi orang cuma manfaatin kebaikannya doang. Giliran nggak butuh, diajak berangkat bareng aja nggak mau. Kan semeleketeeeee!
"Gini amat ya diuber rasa bersalah!" gumamku yang belum menjawab Almeer. Aku mengetik, terus aku hapus lagi. Udah kayak gitu aja terus sampe taun depan.
__ADS_1
Dengan pertimbangan asas tau diri, aku pun menjawab 'iya besok berangkat bareng'. Klik kirim, selesai.
"Soal mantan bos mah, nanti aku pikirin lagi. Lagian kita pacarannya kan bohongan dan udah ketauan juga, ngapain perjanjiannya dilanjutin?" aku kantongin hape dan lanjut buka pintu.
Kreeeeeek!
Kepala aku tongolin duluan, "Okeee, amaaaan..." gumamku.
Lantas aku perlahan keluar dari kamar. Nggak lupa aku kunci dulu, biar aman. Takutnya ada hal-hal yang nggak diinginkan. Soalnya di kamar, aku juga nyimpen duit motor yang aku sisain kemarin. Rencananya itu buat biaya transportasi ke kedai, makan, dan juga cari kosan baru yang jaraknya paling deket sama tempat kerjaku yang sekarang.
Gajinya nggak sebesar di perusahaan, jadi aku harus pinter ngaturnya. Karena kita hidup sesuai kebutuhan dan kemampuan. Kalau nurutin kemauan nggak ada ada habisnya, betul apa betuuuuul?
Balik lagi ke tujuan awal ya. Aku sekarang mulai menyusuri lorong. Janga ditanya, hawa dingin terasa menusuk pori-pori. Tapi suara orang ngobrol di salah satu kamar, bikin hatiku lumayan tenang. Tapi pas udah mau sampai di tangga, aku kok dengernya itu suara orang ngobrol dari arah kamar depan pohon rambutan.
Iya, bener.
Itu suara rame bener macam orang lagi orang ngomentarin film. Suaranya gaduh nggak jelas gitu.
Angin berhembus.
Aku mengusap tengkukku. Dan mempercepat langkah buat turun ke bawah. Dalam hati aku berdoa supaya nggak nemuin makhluk yang nyeremin.
Teplak!
Teplak!
Teplak!
Bunyi sendal jepitku saat beradu dengan lantai di tangga.
Berani nggak berani harus berani. Demi ngecek siapa pemilik suara mobil yang beberapa hari ini selalu mengganggu telingaku. Itu pak Raga atau bukan, kalau iya aku bakal suruh dia pulang. Aku takut ada orang tau dan nanti jadi bahan gunjingan. Makanya dengan segenap jiwa raga aku menembus dinginnya malam demi meluruskan sebuah rasa penasaran.
__ADS_1
Dan ketika aku udah sampai di bawah.
"Aaaaaaaaaaaaaakkkkkkk!" ada seorang wanita berteriak.